Sebuah sedan terlihat masuk ke dalam lantai bawah tanah (basement) sebuah gedung pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari mal semula. Mobil itu berputar-putar mencari tempat parkir yang sepi.
Akhirnya, sang sopir menemukan tempat parkir di pojok. Tidak banyak kendaraan yang parkir di sini, hanya satu atau dua mobil yang terlihat.
“Di sini saja kita berhenti, Bos. Kita garap cewek ini,” Gudel memberi saran untuk berhenti di ujung lorong.
Arphan mengikuti saran Gudel. Mobilnya diparkir di ujung lantai bawah tanah salah satu pusat perbelanjaan yang sangat terkenal.
Andin saat ini berada dalam kekuasaan genggaman para pemuda berandal. Ponselnya disita dan dimatikan oleh Jarot. Kedua tangan Andin diikat dengan tali rafia. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menangis sesenggukan, memohon untuk dilepaskan, tidak disakiti, dan tidak diapa-apakan.
Mesin mobil dimatikan. Arphan menyuruh Gudel keluar dari dalam mobil untuk berjaga-jaga. Sekarang, Andin diapit oleh Arphan dan Jarot di sampingnya.
Arphan mulai menginterogasi Andin. Ujung pisau yang digenggam Jarot masih menempel di pinggang Andin.
“Hei, siapa namamu?”
Arphan yang tadinya terlihat ramah dan santun ketika menghampirinya di mal pagi tadi, sekarang berubah memperlihatkan watak aslinya. Beringas!
Terbata-bata Andin menjawab, “Andin, Bang. Abang mau apa? Butuh uang? Izinkan Andin menelepon Papa biar menyediakan uang yang Abang butuhkan. Tapi tolong saya jangan disakiti, Andin mohon. Papaku sanggup menyediakan uang berapa pun yang kalian butuhkan,” katanya sambil terisak memohon belas kasihan.
Andin sama sekali tidak menyangka kejadian ini akan menimpa dirinya, menyesali keteledoran yang telah dilakukannya. Gadis itu berusaha meluluhkan para pemuda itu agar mau melepaskan serta tidak mencederai dirinya dengan memberikan iming-iming imbalan uang, asalkan diperbolehkan menghubungi ayahnya.
Arphan tidak segera menjawab, tetapi tangannya malah meraba-raba rambut panjang Andin dan menghirup bau wanginya. Andin diam, kaku, tidak bergerak. Gadis itu berharap pemuda itu tidak melakukan lebih dari sekadar meraba rambutnya.
Arphan tertarik dengan tawaran Andin. “Berapa bapakmu sanggup menebus? Kamu anak orang kaya, kan?”
“Berapa Abang minta? Biar Andin menelepon Papa sekarang.” Andin berharap permintaannya untuk dapat menghubungi orang tuanya dikabulkan.
Lain lagi keinginan Gudel, sedari tadi hanya itu-itu saja yang dipikirkannya. “Bos, kita kerjain dulu cewek ini, baru kita minta tebusan. Lo setuju enggak dengan usul gue, Rot?”
Merinding Andin mendengar pemuda di sampingnya berucap seperti itu.
Gudel terlihat sudah tidak sabaran. Seandainya tidak ada Arphan, bosnya, pasti cewek ini sudah digarapnya. Namun, melihat Arphan sedang menggenggam sepucuk pistol dan mengancam akan menembak, Gudel tidak berani melakukannya. Hal itu membuatnya berpikir dua kali.
Andin berharap secepatnya dapat menghubungi ayahnya, sudah tidak tahan dengan suasana mencekam yang dirasakannya.
“Boleh, Bang, Andin telepon Papa?” Gadis itu terus memohon agar diizinkan.
Andin merasa takut luar biasa apabila Arphan mengikuti saran Gudel. Andin masih berharap Arphan mengizinkannya menghubungi papanya agar secepatnya terlepas dari cengkeraman ketiga pemuda berandal ini.
Arphan masih belum juga menjawab permintaan Andin termasuk keinginan Gudel, meskipun terlihat hasratnya sudah menggebu-gebu.
Jarot juga ikut menimpali, “Tunggu apa lagi, Bos? Sebentar lagi bakalan ramai tempat ini.”
Arphan mulai meradang, “Otak kalian itu ngeres semua, bikin gue emosi!”
Sekarang Arphan sedang membongkar isi dompet Andin, dikeluarkan semua isinya. Ada uang lima ratus ribu dan lima puluh ribu rupiah di dalam dompet itu. Ada juga beberapa kartu debit milik Andin.
“Berapa nomor PIN kartu ini? Jangan bohong! Tahu sendiri nanti kalau bohong,” ancam Arphan sambil mengambil ketiga kartu itu.
“Cuma kartu ini saja yang Andin tahu, Bang. Dua lagi cuma Mama yang tahu nomornya, Andin tidak diberi tahu.”
Andin sengaja tidak memberitahukan nomor PIN kedua kartunya yang lain. Padahal tahu nomornya, tetapi itu taktiknya agar diperbolehkan menghubungi mamanya sekalian. Cerdik juga akalnya.
Andin kemudian menyebutkan salah satu nomor PIN kartunya.
Sebenarnya Arphan tidak terlalu mengincar isi saldo kartu debit Andin, paling tidak seberapa saldonya. Uang tebusanlah yang diincar Arphan nantinya. Namun, untuk menggenapi rasa penasaran berapa saldo kartu debit milik Andin, Arphan bermaksud pergi ke mesin anjungan tunai mandiri (ATM).
Setelah mencatat nomor PIN, Arphan menyuruh Jarot keluar dari mobil, kemudian mengunci mobilnya dari luar dan meninggalkan Andin di dalam mobil sendirian. Sebelumnya, Arphan memberi ancaman kepada Andin.
“Tunggu di sini, diam saja, jangan bertingkah aneh-aneh.”