Hermanto, seorang konglomerat dan pengusaha sukses, baru pagi tadi pulang dari Singapura untuk urusan bisnisnya. Hermanto sempat tidur beristirahat setibanya di rumah. Sekarang pengusaha itu sudah terbangun dan tidak mendapati siapa-siapa, baik istrinya maupun anaknya, Andin Nabila.
“Anto!” panggil Hermanto dengan nada tinggi.
“Saya, Juragan!” Dengan sigap, Anto sudah berdiri di depan Hermanto.
“Mana Ibu dan Andin? Pergi ke mana mereka?”
Tergagap Anto menjawabnya, “Anu, Juragan. Ibu tadi bilangnya mau pergi ke rumah temannya. Ibu Dewi yang menjemputnya. Sedangkan Andin pergi sendiri ke mal naik taksi tadi, Juragan.”
“Andin pergi ke mal sendirian naik taksi? Kenapa tidak kamu antar?” Hermanto mulai berang.
“Anu, Juragan... tadi saya sudah siap mengantarnya, tapi Andin maunya pergi sendiri. Pengin naik taksi, bilangnya.”
Anto tahu pasti juragannya akan marah besar karena telah membiarkan Andin pergi sendirian tanpa dikawal olehnya. Padahal, itu tugas utama Anto dipekerjakan di sini.
“Anu, anu! Kamu ini mulai bego ya sekarang! Telepon Andin, terus jemput sekarang juga!” Hermanto mulai marah-marah.
Segera Anto menelepon Andin sesuai perintah majikannya. Entah kenapa kali ini jari-jemari Anto terasa gemetaran ketika hendak menelepon. Anto sejak tadi memang sudah waswas.
Bersamaan dengan itu, Hermanto menelepon istrinya.
“Halo, Ma. Lagi di mana sekarang?”
“Ini Mama lagi di rumahnya Jeng Dewi. Tadi mau pamit, Papa masih tidur. Sebentar lagi Mama pulang, kok. Andin sudah pulang, Pa?”
“Belum. Anto bilang Andin pergi sendiri ke mal naik taksi. Mama tahu Andin pergi sendiri tadi?”
“Iya, tadi Mama suruh Anto mengantarnya, tapi anakmu maunya pergi sendiri. Sudah jam segini belum pulang juga? Sebentar Mama telepon Andinnya, Pa.”
Percakapan terhenti. Istri Hermanto memutuskan untuk segera menelepon Andin karena ingin tahu keberadaan putri kesayangannya.
Tidak tersambung!
Istri Hermanto mulai panik dan memutuskan untuk buru-buru pulang ke rumah.
Ibu Dewi yang melihat gelagat ini bertanya, “Ada apa, Jeng? Kelihatannya gelisah begitu?”
“Itu, lho, tumben-tumbenan anakku, Andin, belum pulang juga. Mana pergi sendirian, tidak bisa dihubungi lagi. Aku pamit pulang dulu. Tolong rapatnya nanti Jeng Dewi wakili saya, ya.”
“Ya, ya. Biar sopir saya antar Jeng pulang. Nanti saya kabari hasil rapatnya.” Ibu Dewi merasa khawatir juga.
“Pak Dirman, sini! Cepat antar Ibu Hermanto ini pulang.”
“Aku pamit dulu, ya. Perasaanku enggak enak ini.”
“Tenang saja, Jeng. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa.”
Sementara di rumah, Hermanto kembali bertanya kepada Anto.
“Ada di mana Andin?”
Dengan raut wajah ketakutan, Anto menjawab, “Teleponnya Neng Andin tidak aktif, Juragan. Sudah berkali-kali tadi saya hubungi. Di luar jangkauan!”
Anto merasakan ada yang tidak beres. Sekarang Hermanto sendiri yang menghubungi putrinya. Jawabannya sama saja. Tidak ada nada panggilan terjawab. Sunyi senyap! Hermanto mulai gundah.
“Ada apa ini! Jam berapa tadi Andin pergi?”
“Sekitar jam sembilan pagi tadi, Juragan,” jawab Anto sambil melihat jam tangannya.
“Kamu itu ceroboh sekali! Bapak, kan, sudah bilang berkali-kali, temani Andin ke mana pun dia mau pergi. Kenapa kamu biarkan dia pergi sendiri? Lama-lama saya pecat kamu!”
Baru kali ini Anto dimarahi majikannya sampai seperti itu. Hermanto merasa sangat khawatir kenapa jam segini Andin belum pulang juga ke rumah. Berarti sudah hampir tiga jam lamanya Andin meninggalkan rumah sendirian.
Hermanto mencoba beberapa kali lagi, tetapi tetap saja tidak tersambung. Hampir tidak pernah terjadi hal seperti ini. Biasanya Andin akan cepat merespons apabila mama atau papanya menghubungi.
Anto adalah sopir pribadi kepercayaan keluarga Hermanto. Anto sempat dipuji atas keberaniannya menggagalkan usaha pencurian kaca spion Ferrari milik juragannya. Namun, reputasi itu kali ini mulai luntur.
Majikannya memarahinya habis-habisan. Padahal, sebetulnya bukan Anto yang salah. Bukankah itu kemauan Andin sendiri yang berniat pergi sendirian tanpa ditemani oleh Anto?