Rombongan Anto sudah berada di terminal bus antarkota yang bersebelahan dengan pusat perbelanjaan tempat Andin disekap dan disandera di lantai bawah tanah (basement). Namun, tidak diketahui di pusat perbelanjaan mana Andin disekap. Banyak sekali pusat perbelanjaan bertebaran di seantero Ibu Kota. Siapa yang bisa memastikan keberadaan Andin ada di mana?
Memang pelaku masih amatiran dan hanya bermodalkan kenekatan saja. Namun, jangan salah sangka, orang-orang seperti ini bisa menjadi berbahaya bilamana terdesak. Mereka tidak peduli dengan siapa pun; siapa saja yang menghalanginya akan dibabat habis!
Lihat saja perangai Jarot dan Gudel. Sepertinya mereka sudah tidak takut lagi dengan bosnya, Arphan! Meskipun Arphan memiliki senjata api, keduanya tidak gentar sama sekali.
Walaupun komplotan begal ini terlihat akur-akur saja, pada kenyataannya mereka memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain.
Arphan pada dasarnya hidup dalam keluarga yang cukup mapan dan disegani di lingkungan sekitarnya karena orang tuanya menjabat sebagai kepala desa. Namun, dasar anak tidak tahu diri, Arphan memilih jalannya sendiri.
Latar belakang pendidikannya cukup lumayan meskipun tidak tamat SMA. Dikarenakan ulahnya sendiri pernah memukul guru kelasnya.Arphan dipecat dari sekolahnya.
Keputusan menculik dan menyandera seorang gadis yang bukan dari kalangan biasa-biasa saja merupakan tindakan paling bodoh yang pernah dilakukannya.
Seandainya nanti mendapatkan apa yang diinginkannya, pelaku tidak akan terlepas dari buruan aparat keamanan. Komplotan itu akan dikejar sampai ke lubang tikus sekalipun!
Lain halnya dengan Jarot dan Gudel yang terbiasa hidup di lingkungan padat dan kumuh. Kehidupan yang keras di Ibu Kota membentuk watak keduanya sebagai preman jalanan hingga terjerumus dalam dunia kriminal dan kecanduan minuman keras.
Perkenalan dengan Arphan terjadi secara tidak sengaja ketika Jarot dan Gudel memesan taksinya untuk menonton pertandingan sepak bola klub favorit mereka. Hal itu menjadikan mereka akrab satu sama lain. Namun, lambat laun, perseteruan mereka dengan Arphan semakin menjadi-jadi!
Sudah cukup lama Anto dan kawan-kawannya menyisir daerah ini, tetapi tidak juga menemukan apa-apa. Semua kendaraan yang terparkir di sini diperiksa satu per satu. Setiap bus yang akan berangkat ke luar kota tidak luput dari pengawasan Anto dan rombongannya.
Beberapa sopir taksi yang mangkal di situ diminta untuk mengawasi kemungkinan adanya seorang gadis, seperti yang terlihat dalam foto, dibawa oleh seseorang menggunakan mobil serupa.
Di kalangan para sopir taksi, mereka memang sudah bertekad untuk membekuk pelaku sekaligus menyelamatkan korban.
Sebentar lagi Anto dengan bekas anak buahnyakomunitas pengemudi ojek akan segera meninggalkan kawasan ini. Mereka berencana menuju terminal di kawasan Jakarta Timur untuk menyisir di sana.
Anto beranggapan Andin akan dibawa ke luar kota oleh komplotan penculik itu melalui terminal bus antarkota.
“Ayo, kita cabut!” seru Anto kepada kawan-kawannya.
Kurang lebih lima belas pengemudi ojek motor binaan Anto dahulu mengiringi. Mereka bersiap meninggalkan kawasan ini.
Tanpa disengaja, iring-iringan mobil Kapten Jatmiko melintas di kawasan ini dan melihat Anto beserta kawan-kawannya juga berada di sini. Mereka pun turun menghampiri rombongan Anto, demikian juga dengan Hermanto.
Anak buah Kapten Jatmiko serentak turun dan menyebar di kawasan terminal yang didatangi.
“Bagaimana, Anto, perkembangannya? Apa yang kalian dapatkan di sini?”
“Belum ada, Pak. Kami sudah menyisir setiap kendaraan yang melintas di sini, tetapi keberadaan Andin masih misterius. Kami berencana menuju terminal satunya lagi untuk mencari tahu di sana,” jawab Anto ketika ditanya.
Anto sempat berpandangan dengan juragannya, Hermanto. Namun, raut wajah majikannya itu menunjukkan ekspresi datar. Mungkin karena masih kesal dengan Anto, Hermanto pun tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada Anto.
“Bapak akan memeriksa daerah ini.”
“Apa ada indikasi Andin berada di dekat sini, Pak?”
Rasa penasaran Anto memuncak. Dia tahu reputasi Kapten Jatmiko yang mampu mengendus buronannya sejauh puluhan kilometer! Begitulah julukan dari kalangan intel kepolisian.