Tidak ingin membuang-buang waktu, satuan pemburu Arphan yang dipimpin langsung oleh Kapten Jatmiko segera menuju sasaran. Mereka menyerbu setiap gedung di kawasan ini, menyisir seluruh lantai area gedung bertingkat, serta memblokir semua kendaraan agar tidak keluar masuk ke dalam gedung.
Pengunjung mal dan karyawan perkantoran diperintahkan untuk segera meninggalkan gedung setelah dilakukan penapisan (screening) yang ketat untuk memastikan tidak ada pelaku penyanderaan yang menyamar.
Kapten Jatmiko sendiri beserta puluhan anak buahnya yang bersenjata lengkap memimpin operasi penyerbuan di area lantai gedung bawah tanah, tempat parkir sejumlah kendaraan. Hermanto dan Anto diperbolehkan ikut dalam operasi pembebasan ini karena bisa dimanfaatkan untuk proses perundingan nantinya.
Beruntung sekali Anto diperbolehkan ikut serta, karena memang ini yang diharapkan olehnya. Anto berharap tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga bisa berbuat banyak demi menyelamatkan Andin.
Bagaimanapun, Anto merasa bersalah dan teledor karena telah membiarkan Andin pergi sendirian. Anto ingin menebus semua kesalahan dengan membantu jalannya operasi ini, meskipun nyawanya sendiri akan dipertaruhkan.
Di luar gedung, situasi saat ini penuh dengan aparat yang berjaga di setiap sudut, dan garis polisi (police line) pun telah dipasang. Masyarakat umum mulai banyak berdatangan, tetapi dilarang mendekati area gedung, kecuali beberapa wartawan dan reporter televisi yang diperbolehkan meliput.
Puluhan bahkan ratusan pengemudi ojek ikut meramaikan suasana. Demikian juga para sopir taksi, semua berkumpul di seputaran gedung pusat perbelanjaan dan perkantoran tersebut.
Mereka hanya bisa melihat dari kejauhan dengan penuh rasa penasaran sekaligus gemas. Mereka ingin menghakimi sendiri para pelaku penyanderaan. Seperti apa sosok para pelaku ini?
Ibunda Andin telah berjam-jam lamanya menunggu di rumah dengan ditemani para sahabat. Ibunda Andin sudah diberitahu kemungkinan putri kesayangan satu-satunya itu disekap di sebuah gedung pusat perbelanjaan.
Ibunda Andin bersikeras ingin menyusul ke sana, namun dicegah karena bisa membahayakan keselamatan jiwanya sendiri.
Pencarian sebelumnya dilakukan oleh Kapten Hermanto beserta anak buahnya dengan menyisir jalanan Ibu Kota selama hampir lebih dari dua jam berkeliling. Tanpa disengaja, kedua rombongan tersebut bertemu di kawasan terminal yang bersebelahan dengan mal dan gedung-gedung perkantoran.
Sampai pada akhirnya, penyerbuan dilakukan setelah aparat mendeteksi sinyal ponsel milik Andin sempat berkedip di kawasan ini beberapa jam yang lalu. Diduga kuat, Andin disembunyikan di lantai bawah salah satu gedung perkantoran atau mal.
Selama masa itu, apa yang terjadi terhadap Andin dan juga ketiga pelaku sebelum lokasi penyanderaan terdeteksi?
Saat ini, tempat tersebut tengah diobrak-abrik oleh aparat kepolisian yang dibantu oleh Satuan Detasemen Antiteror. Mereka bersama-sama memburu Arphan beserta komplotannya untuk dapat segera membebaskan Andin.
Dua jam ke belakang sebelum penyerbuan dilakukan, rupanya telah terjadi kejadian dramatis di sana. Kejadian itu berawal dari perselisihan dan perbedaan pendapat di antara ketiga pelaku, yaitu Arphan, Jarot, dan Gudel.
Arphan menginginkan uang tebusan sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) sebagai salah satu syarat yang harus dibayar segera oleh orang tua Andin untuk menebus kebebasannya.
Jumlah nominal tersebut sungguh fantastis untuk penjahat amatiran sekelas Arphan apabila berhasil mendapatkannya.
Setan jenis apa yang sampai dapat memengaruhi Arphan untuk meminta uang tebusan sebesar itu? Bagaimana nanti membagi uang sebanyak itu kepada kedua temannya? Sungguh tidak masuk akal!
Hal itu yang membuat Jarot dan Gudel marah. Sebodoh-bodohnya mereka, uang sebanyak satu miliar rupiah yang akan dibagi sama rata justru akan menyusahkan mereka sendiri.
Membawa lari uang ratusan juta di dalam kantong akan mengundang penjahat lainnya datang untuk memburu mereka!
Di sinilah awal perseteruan di antara Arphan dengan kedua sahabatnya sendiri, Jarot dan Gudel.
Drama mencekam yang penuh dengan ketegangan mewarnai keributan serta perselisihan perbedaan pendapat di antara ketiganya. Situasi ini membuat posisi Andin semakin terjepit.
Kehormatannya terancam direnggut paksa oleh ketiga pemuda yang telah kehilangan naluri dan akal sehatnya itu. Saat ini, mereka telah masuk ke dalam cengkeraman Genggaman Setan!
Gudel yang sedari tadi berusaha menahan kesabarannya kini mulai menabuh genderang perang dengan Arphan.
"Bagaimana, Bos, rencana kita? Mumpung sepi, tidak ada orang lain lewat. Kita berdua sudah tidak tahan. Betul tidak, Jarot? Ngapain lagi mikirin tebusan, bakalan ribet dan panjang urusannya nanti."
"Tenang saja kalian! Kita akan menghubungi orang tuanya untuk meminta uang tebusan. Kalau berhasil, baru kita lepaskan cewek ini."
"Berapa, Bos, tebusannya?"
Sebenarnya, Gudel tidak terlalu tertarik dengan uang tebusan. Gudel lebih berminat kepada Andin untuk segera dapat melampiaskan hasratnya yang sejak tadi sudah tidak terbendung lagi.
"Satu miliar! Kita minta sama orang tuanya," tegas Arphan.
Terbelalak mata Jarot dan Gudel mendengar rencana bosnya. Besaran uang tebusan yang diminta oleh Arphan sangat tidak masuk akal bagi keduanya.
"Busyet dah! Kagak salah tuh gue dengarnya? Bagaimana caranya meminta uang sebanyak itu?" Jarot penasaran dengan ide gila bosnya.
"Apa tidak kegedean tuh? Mana mungkin orang tuanya punya uang sebanyak itu."
Gudel menganggap Arphan terlalu mengada-ada dan tidak yakin dengan usulan tersebut.
"Mending kita kerjain dulu, Bos. Panjang urusannya kalau minta tebusan sebanyak itu," ujar Gudel yang tidak sepaham dengan Arphan.
Jarot dan Gudel berkilah bahwa mereka sudah merasa capai dan stres. Menurut mereka, aparat kepolisian pasti sedang memburu mereka saat ini. Jadi, untuk apa berlama-lama menahan cewek ini jika tidak "merasakannya" dulu? Keburu tertangkap nantinya.
Dasar muka mesum, apa yang ada di dalam benak kedua temannya hanya seputar itu-itu saja. Hal itu membuat Arphan geram.
"Lo mau ikutin gue kagak? Kalau tidak mau, lo berdua mau gue kebiri?" bentak Arphan sambil mengarahkan pistolnya ke selangkangan Gudel.