Mengetahui kenyataan bahwasanya sekarang Anto ikut dijadikan sandera oleh pelaku membuat Kapten Jatmiko memutar otak. Bagaimana caranya menyelamatkan keduanya? Bukan hanya Andin saja yang akan terancam jiwanya, tetapi sekarang Anto juga.
Namun, situasi ini bisa menguntungkan, bisa tidak. Baiknya, Andin tidak sendirian. Sekarang ada sopir pribadi yang menemaninya, setidaknya bisa mengurangi rasa ketegangan yang dirasakan selama berjam-jam disandera oleh pelaku. Namun, ini menjadi beban lebih berat di pundak Kapten Jatmiko untuk dapat membebaskan keduanya.
Kapten Jatmiko tahu reputasi Anto. Walaupun hanya sekadar sopir pribadi keluarga Bapak Hermanto, dirinya disegani oleh kawan-kawannya dari kalangan tukang ojek motor.
Terbukti saat ini, puluhan rekannya membantu tanpa pamrih, turut serta dalam pencarian Andin. Sepertinya Anto memiliki sedikit ilmu bela diri. Anto pernah menghalau beberapa preman jalanan ketika mereka hendak merampas kaca spion mobil milik majikannya.
Kapten Jatmiko yakin Anto dapat mengatasi pelaku, apalagi hanya seorang diri. Namun, yang dihadapi Anto sekarang berbeda.
Pelaku ini tidak bisa dianggap remeh dan tidak segan membunuh orang dengan tangan dinginnya. Dua orang tergeletak bersimbah darah. Salah satunya sedang mengerang kesakitan, sepertinya terkena tembakan di lututnya. Satunya lagi tidak bergerak sama sekali, terkena tembakan dua kali di dadanya.
Di samping kedua orang itu, tergeletak dua buah pisau. Sepertinya telah terjadi perkelahian sengit dengan pelaku bersenjata api tersebut. Keduanya berhasil dilumpuhkan, tidak bisa dipandang sebelah mata. Anto harus berhati-hati jangan sampai gegabah. Salah-salah, nyawanya sendiri melayang sia-sia, demikian juga dengan Andin!
Siapa kedua orang korban yang telah dilumpuhkan pelaku? Apakah dari pihak sekuriti atau pengunjung mal? Begitu mengetahui ada seorang gadis disandera.
Rasanya tidak mungkin dua orang pengunjung mal membawa sebilah pisau secara bersamaan. Bukan juga dari sekuriti mal, karena kedua korban berpakaian preman, tidak mengenakan seragam sekuriti.
Jangan-jangan kedua orang korban itu merupakan komplotan penyandera juga? Kapten Jatmiko berasumsi. Sepertinya, ya! Kapten Jatmiko yakin kedua korban itu komplotan penculik juga. Bisa jadi telah terjadi keributan di antara ketiganya.
Berkemungkinan masalah pembagian uang yang didapat setelah menguras kartu debit milik Andin. Atau, Andin, sandera mereka sendiri, menjadi rebutan di antara ketiganya. Mungkin saja itu bisa terjadi.
Kapten Jatmiko segera memerintahkan anak buahnya memindai wajah ketiga orang itu dengan lensa kamera zoom untuk dapat mengidentifikasi siapa mereka ini. Tidak sulit, wajah ketiganya terlihat jelas di kamera.
Wajah ketiga pelaku segera dikirim ke pusat untuk dianalisis oleh tim khusus identifikasi yang mampu mengenali seseorang melalui foto wajah.
Jangankan itu, gambar seseorang berupa guratan sketsa saja mampu dilacak. Apalagi ini, wajah pelaku terlihat jelas, terang benderang!
Terbukti tidak membutuhkan waktu lama, Kapten Jatmiko sudah dapat mengantongi identitas ketiga orang itu. Luar biasa!
Pihak kepolisian terus bergerak melakukan penyelidikan dengan mendatangi perusahaan taksi yang digunakan. Polisi juga melakukan penggerebekan bengkel milik orang tua Gudel yang digunakan untuk membongkar mobil.
Polisi mendatangi ketiga rumah keluarga pelaku, memeriksa, dan menginterogasi orang tua masing-masing.
Laporan dari Laboratorium Forensik menyebutkan pelaku menggunakan pistol G2 Combat kaliber 9 x 19 mm berisi 15 peluru. Korban diketahui bernama Gudel, positif meninggal dunia dengan dua lubang peluru bersarang di dadanya.
Satu lagi teridentifikasi bernama Jarot, masih dalam perawatan karena tertembak di bagian lututnya. Dari hasil penelusuran, mereka bertiga merupakan sahabat yang saling kenal satu sama lain. Mereka secara bersama-sama berencana menculik korban sejak dari mal.
Sepertinya dua orang berembunyi di belakang jok setelah menemukan lokasi bengkel, tempat di mana mereka memodifikasi mobil.
Bengkel itu milik orang tuanya Gudel. Satu lagi, di kantong mereka masing-masing ditemukan uang sejumlah lima juta rupiah.
Tim ahli negosiasi dipersiapkan karena kemungkinan bakal alot perundingan masalah uang tebusan. Tim akan membujuk dengan segala cara agar pelaku melepaskan kedua sanderanya. Penembak jitu bersiaga di setiap sudut bangunan.
Alternatif terakhir akan ditempuh, yaitu menembak pelaku tepat sasaran di saat lengah tanpa membahayakan kedua sandera, terutama Andin. Di mana ujung laras senjata api milik pelaku terus menempel ketat di tengkuk Andin, sewaktu-waktu bisa meledak setiap saat!
Hermanto sebagai orang tuanya diperintahkan mempersiapkan uang tunai saat ini juga!
Dipastikan pelaku akan meminta tebusan hari ini juga. Uang tebusan nanti akan dimasukkan ke dalam kantong kardus, sejumlah seberapa yang diminta. Pastinya tidak akan sedikit jumlah yang diminta oleh pelaku nantinya.
Segala rencana ini telah dipersiapkan dengan seksama. Target utama adalah menyelamatkan Andin dan Anto, serta melumpuhkan pelaku sebelum hari menjelang tengah malam.
"Hidup atau mati!" Tekad Kapten Jatmiko!
Di luar gedung, semakin banyak aparat kepolisian berjaga. Kemungkinan pelaku akan meninggalkan area basemen dengan membawa kedua sandera. Telah dipersiapkan juga beberapa mobil pengawal yang bertugas memepet terus ke mana perginya nanti. Termasuk sebuah helikopter dari kepolisian disiagakan!
Area sekitar gedung pusat perbelanjaan diblokir total! Masyarakat semakin ramai berdatangan ke lokasi penyanderaan.
Komando operasi penyelamatan sandera masih dipegang oleh Kapten Jatmiko. Reputasinya akan dipertaruhkan di sini!
Negosiasi dimulai, “Saudara Arphan, dengan Kapten Jatmiko di sini. Masih bisa mendengar suara saya?”
Kapten Jatmiko langsung menyebut nama pelaku, mengawali negosiasi melalui radio komunikasi di tangan. Dengan menyebut namanya, hal itu bisa berdampak menciutkan nyali pelaku.