Tidak juga tersentuh perasaannya dengan ucapan Andin barusan, meskipun merasa disanjung oleh wanita yang dijadikan sanderanya sendiri. Mata hatinya sudah dijejali dengan tumpukan uang akan diperolehnya.
Justru Anto, merasa khwatir dengan polah Andin, dalam hati memuji keberanian Andin, padahal Andin dalam todongan pistol, sewaktu-waktu bisa menyalak, bila pemuda itu kehilangan kendali.
“Neng, maaf, sebaiknya, Neng Andin diam saja.” ujar Anto.
Tidak bisa berhenti untuk terus menumpahkan kegetiran dirasakannya. Berusaha meluluhkan, menjatuhkan wibawa, seorang laki-laki bernama Arphan, telah berhasil memperdayainya.
“Andin itu salah apa? Kenapa Andin diperlakukan seperti ini? Andin cuma mau jalan-jalan saja di mall, Andin tidak ngapa-ngapain. Andin tidak ngomong kasar, tidak juga ngerendahin Abang, waktu itu.
Malah, percaya sama Abang, mau mengantar Andin pulang baik-baik. Tapi kenapa jadinya seperti ini?" Mulai terisak. Arphan diam membisu.
“Sabar Neng, Abang, Arphan, tidak akan menyakiti kita lagi, Anto akan membantu Bang, Arphan, secepatnya mendapatkan uangnya.”
Gara-gara Anto ikut berkomentar Arphan menjadi panas lagi, “Lo, kalau mau pacaran jangan depan gue, Huh ...! Gue, getok lagi, lo.”
Sambil menonjok Anto sampai terjerembab dinding pintu, namun kali ini tidak berakibat cidera.
Andin semakin kesal dibuatnya, segala ucapannya tidak mampu meluluhkan hatinya,
“Sudah Bang! Tidak perlu ada kekerasan lagi, kita berdua akan bantu Abang. Anto, coba hubungi, Pak Jatmiko lagi.”
“Boleh, Bang, Anto hubungi komandan?"
Arphan, yang masih gondok dengan Anto, tidak menjawab, tapi akhirnya menjawab juga, "Lo, mau ngapain hubungi komandan segala, udah jelas kagak dateng- dateng dari tadi."
Batas kesabaran Arphan sudah habis, kali ini akan memberi pelajaran kepada Kapten Hermanto, juga Anto! Sedari tadi cuma janji-janji saja, sudah begitu pakai menggertak lagi, mau menyerbu segala.
Arphan akan mengeksekusi Anto!
"Jongkok, Lo, di bawah sekarang Cepetan!" Arphan menyuruh Anto jongkok di bawah, jok.
Tentu saja perintah Arphan membuat Andin panik luar biasa. Untuk apa menyuruh Anto jongkok di bawah, apa akan menembak Anto betulan?
Sesuai dengan ancamannya, bila sampai menjelang sore, tidak datang juga, Salah satu, harus ada yang mati! Anto akan dijadikan target lebih dulu.
Tidak bisa melawan kebringasan pelaku di saat seperti ini. Mau tidak mau, Anto menuruti kemauan Arphan, Beranjak turun ke bawah. Anto sudah pasrah. Berniat akan melawan, tidak ingin mati konyol ditembak begitu saja oleh Arphan.
Kekhawatiran Andin memuncak, "Abang, mau ngapain menyuruh Anto jongkok," sudah merasakan, Arphan, tidak akan main-main lagi untuk menembak Anto saat ini juga!
"Tolong, Bang, jangan tembak Anto. Andin mohon jangan lakukan itu, sebentar lagi uang diminta Abang pasti datang," Andin memohon sambil menangis.
Percuma saja rengekan Andin tidak digubris sama sekali, pistol sudah terlanjur dikokang. Anto nyaris tidak bisa berbuat apa-apa, dalam posisi jongkok sulit menjangkau Arphan.
Di samping kakinya di bawah jok tergeletak radio, saat dilempar ke wajah Anto tadi. Diam-diam akan berusaha meraih radio itu, akan dihantamkan ke wajah Arphan seketika! .... Terlambat!