Kapten Jatmiko bertekad akan mengakhiri penyanderaan malam ini juga. Dia tidak akan membiarkan pelaku kabur lagi semua jalan ditutup dengan brigade kawat berduri.
Diam-diam Kapten Jatmiko memerintahkan beberapa penembak jitu untuk menyelinap di belakang mobil. Terlihat empat anggota sniper merayap di belakang mobil di antara dua trotoar di kiri dan kanan jalan. Mereka menyamarkan diri serupa dengan rumput dan tanaman yang menghias kedua trotoar.
"Lumpuhkan keempat roda pelaku, sekarang juga!"
Perintah tegas dari Kapten Jatmiko diberikan kepada salah seorang anggota snipernya. Tujuannya, mobil pelaku tidak akan bisa lagi beranjak dari tempat ini.
Salah seorang anggota sniper dengan senjata peredam di tangan melepaskan tembakan empat kali beruntun, mengarah tepat pada keempat roda mobil pelaku seketika itu juga!
Akibatnya, keempat ban roda depan dan belakang hancur berkeping. Rata dengan aspal!
Melalui pengeras suara, Kapten Jatmiko memberikan ultimatum.
"Saudara Arphan! Lepaskan kedua sandera sekarang juga, letakkan pistol, dan menyerah tanpa syarat. Kami tidak akan melakukan kekerasan dan akan memperlakukan Saudara baik-baik, asalkan bersedia menyerahkan diri dengan sukarela."
Kapten Jatmiko menunggu reaksi pelaku, tetapi setelah lama ditunggu, pelaku tidak juga menyerah. Kapten Jatmiko mulai hilang kesabaran.
"Tidak ada jalan keluar lagi, semua jalan telah kami blokir! Kita akhiri semua ini tanpa ada lagi yang cedera satu pun. Sekali lagi saya perintahkan, letakkan senjata! Keluar dari dalam mobil, angkat kedua tangan ke atas!"
Percuma saja perintah dari Kapten Jatmiko untuk menyerahkan diri karena hanya dianggap angin lalu oleh pelaku penyanderaan. Meskipun tahu tidak akan bisa lagi meninggalkan tempat ini—karena keempat roda mobilnya sekarang sudah rata dengan aspal baru saja ditembak oleh aparat—pelaku tetap berkeras.
"Bagaimana ini, Bang? Kita tidak bisa bergerak lagi. Semua ban depan dan belakang pecah semua," bisik Anto.
Pelaku dibuat semakin marah. "Diam, lo! Kalau perlu, lo dorong sendiri mobil ini."
Anto tidak berani lagi berkomentar. Salah-salah ngomong, keadaan bisa tambah runyam jadinya. Pelaku sudah marah sekali.
Anto dan Andin semakin cemas dengan kejadian ini. Keadaan bakal menjadi lebih mengerikan seandainya pelaku dan aparat yang mengepungnya sama-sama kehilangan kendali.
Sekali lagi Kapten Jatmiko memberi ultimatum agar pelaku menyerahkan diri baik-baik dengan membebaskan kedua sanderanya.
Arphan sepertinya tidak akan mau menyerah begitu saja. Tumpukan uang ratusan juta yang sudah berada dalam genggamannya menjadi alasan untuk tetap bertahan. Arphan harus bisa kabur dari tempat ini dengan segala cara, meskipun harus menembak mati kedua sanderanya!
Suasana menjadi tegang. Hari sudah menjelang malam dan pelataran sekitar kompleks semakin ramai. Semua orang sudah tidak sabar dan berharap drama penyanderaan ini cepat berakhir.
Kesibukan semakin bertambah ketika beberapa anggota mulai menempatkan lampu sorot di tempat yang strategis. Sadar mobilnya tidak akan bisa lagi bergerak ke mana-mana, Arphan teringat sesuatu.
Arphan membuka laci mobil yang terletak di tengah-tengah antara Andin dan Anto. Arphan mengambil tabung kecil di dalamnya yang ternyata sebuah tabung cat piloks berwarna hitam.
Kenapa barang itu berada dalam laci mobil? Apakah benda ini sudah dipersiapkan sejak semula, atau memang kebetulan sudah ada di laci mobil? Atau mungkin, cat piloks itu milik Gudel yang tertinggal di laci ketika selesai membongkar mobil?
Arphan tidak peduli dari mana datangnya barang itu. Yang jelas, Arphan punya gagasan baru dengan tabung kecil yang ditemukan tanpa sengaja dalam laci mobil tersebut. Cat Piloks Hitam!
"Semprotkan cat hitam ini ke semua kaca jendela mobil sampai ke belakang. Cepat!"
Rupanya ini maksud Arphan, tetapi hal itu membuat Anto bingung. "Maksudnya bagaimana, Bang?"
"Goblok amat sih lo! Semprot saja kayak gini!"
Benar-benar kurang ajar Arphan ini. Arphan memberi contoh dengan menyemprotkan cat hitam itu ke wajah Anto sendiri. Tentu saja Anto kaget dan cepat mengelak agar tidak mengenai kedua matanya.
Tak pelak, wajah Anto sekarang seperti badut, hitam legam sebagian. Anto berusaha menghapusnya dengan lengan baju.
Hal itu membuat Andin ikut marah. "Apa-apaan ini? Apa maksud Abang?" Andin tidak terima dengan kelakuan Arphan.
"Cepat ambil! Semprot pakai piloks ini. Semua kaca depan, samping, dan belakang juga!" perintah Arphan sambil mengokang pistolnya.
Anto tidak lagi bertanya. Anto langsung mengambil tabung cat piloks tanpa melihat ke belakang, lalu mulai menyemprot.
Seketika itu juga, kaca depan menjadi hitam legam. Bau cat menyengat seluruh ruangan dalam mobil. Andin menutup hidung dan mulut karena tidak tahan dengan baunya.