Bukan sedikit uang yang akan dihitung. Demi meredam kemarahan Arphan, sekali lagi Andin mengikuti perintahnya. Anto tidak jadi meraih radio.
Andin mulai menghitung jumlah uang yang ada di dalam kardus. Hal itu cukup memakan waktu lama.
Beberapa lama kemudian, terjadi sesuatu di luar dugaan semua orang.
Tiba-tiba saja pintu mobil sebelah kanan terbuka, meskipun belum benar-benar terbuka lebar. Namun, terlihat jelas pintu itu akan dibuka sepenuhnya dari dalam!
Serentak puluhan pucuk senjata mengarah ke pintu. Kapten Jatmiko dan semua yang melihat adegan ini dibuat menahan napas sejenak. Apakah pelaku akan menyerahkan diri?
Perlahan, celah pintu mulai terbuka lebar sedikit demi sedikit. Mulai terlihat kaki seseorang yang menggunakan sepatu kets putih menjulur keluar. Semua mata mengarah ke lantai aspal.
Orang itu perlahan terlihat ragu, sampai ujung tumit sepatunya menyentuh aspal. Diikuti sebelah kaki yang satunya lagi menjulur keluar perlahan. Kedua sepatunya senada dan sewarna.
Berikutnya, seseorang mulai keluar dari celah pintu yang terbuka setengah. Semua pasukan bersiaga, diiringi bunyi puluhan senjata dikokang bersamaan. Siap menyalak!
Bersamaan dengan itu pula, seseorang dari dalam menutup kembali pintu mobil rapat-rapat lalu dikunci. Ketegangan sampai pada puncaknya.
Tinggal seseorang berdiri tegang di samping pintu mobil yang sudah tertutup kembali. Seolah tidak yakin pada dirinya sendiri, orang itu menoleh ke kiri dan ke kanan. Semua lampu sorot mengarah kepadanya.
Orang itu berdiri sempoyongan, sampai akhirnya memberanikan diri melangkah ke depan menuju pintu gerbang!
Ternyata, seseorang yang barusan keluar dari dalam mobil dan sedang melangkah gontai, terlihat bimbang serta ragu, adalah sosok perempuan. Dia adalah Andin ... Andin Nabila!
Dalam sekejap, puluhan petugas bersenjata menyerbu ke depan menyongsong Andin. Mereka membentuk formasi tameng, berjalan mengendap sambil merunduk untuk memayungi Andin dari kemungkinan adanya seseorang yang akan menembak dari dalam mobil.
Andin dibawa semakin menjauh dari mobil menuju pintu gerbang. Mobil ambulans datang menyongsong, diikuti beberapa petugas tenaga medis. Mereka segera menyambut Andin di pintu pagar, lalu membopongnya masuk ke dalam. Andin terlihat pingsan seketika itu juga karena syok!
Andin dibawa ke rumah yang berjarak satu blok dari pintu gerbang dengan dikawal oleh empat anggota bersenjata yang mengiringinya.
Sorak-sorai dan tepuk tangan bergemuruh saat itu juga dari masyarakat yang melihat langsung kejadian tersebut. Kejadian yang sempat diliputi ketegangan dan menguras emosi siapa pun yang melihatnya. Mereka menyambut kebebasan Andin dengan sukacita!
Andin langsung dibawa masuk ke dalam rumah, ditempatkan di atas tandu dengan masker oksigen melekat di mulutnya. Kemudian, Andin ditangani oleh seorang dokter didampingi beberapa asisten sebelum dibaringkan di tempat tidur yang nyaman dan empuk di kamarnya sendiri.
Ibunda Andin dan Hermanto menyambut gembira kebebasan anak kesayangan satu-satunya itu. Mereka berharap tidak terjadi apa-apa dengan putrinya. Mereka menunggu dengan cemas di depan pintu kamar tempat Andin berbaring dan sedang ditangani oleh dokter, tidak sabar ingin segera memeluk anaknya.
Kegembiraan masyarakat menyambut kebebasan Andin belum sepenuhnya dirasakan oleh Kapten Jatmiko dan anak buahnya.
Tugas belum selesai!
Anto masih disandera! Saat ini pelaku tinggal berdua dengannya di dalam mobil yang tertutup rapat dan gelap.
Mesin mobil mati seketika. Bensin habis!
Kapten Jatmiko merasa lega karena pelaku telah membebaskan Andin dengan sukarela tanpa kekerasan. Namun, timbul tanda tanya besar, kenapa pelaku melakukan ini dan skenario apa lagi yang akan dibuatnya.j
Apa pun motifnya, masih ada tugas penting lain yang menanti: membebaskan Anto dari cengkeraman pelaku!
Kapten Jatmiko merasa Anto telah berjasa karena rela menjadi tumbal untuk kebebasan Andin. Bagaimanapun, Anto harus secepatnya dibebaskan. Nyawanya dalam bahaya!
Lalu, bagaimana ceritanya pelaku Arphan akhirnya melepaskan Andin dengan sukarela? Rupanya, pelaku masih memiliki jiwa ksatria setelah mendapatkan uang tebusan sebanyak satu miliar rupiah.
Tujuan semula memang berencana membebaskan Andin dan mengantarkannya pulang sesuai janji awal ketika pertama kali bertemu Andin di restoran. Karena itu, pelaku memilih mengarahkan mobilnya menuju kediaman rumah orang tua Andin.
Rencana berikutnya adalah menyandera kedua orang tua Andin sebagai pengganti Andin, juga Anto. Namun, rencana itu gagal total setelah pintu masuk gerbang ditutup dan dijaga puluhan aparat.
Belum lagi keempat ban mobil telah dilumpuhkan petugas agar mobil tidak dapat bergerak ke mana-mana lagi. Tidak ada pilihan lain lagi bagi pelaku selain membebaskan Andin dan menjadikan Anto sebagai penggantinya.
Sebelum membebaskan Andin, Arphan memerintahkan untuk menghitung uang yang berada di dalam kardus, dan Andin tidak menolak. Andin mulai menghitung setiap tumpukan uang lembaran seratus ribu dengan nominal sepuluh juta rupiah.