ANDIN NABILA

Eddy Cahyo Tutuko
Chapter #15

Naluri Yang Berbicara

Namun, apabila ini gagal, artinya pelaku juga mampu memuntahkan pelurunya bersamaan tepat ke sasaran. Anto juga akan tewas seketika sebelum terkapar di lantai.

Bayang-bayang ketakutan akan hal yang terjadi pada dirinya menghantui Anto. Dia masih terus berada di bawah todongan pistol yang siap menyalak.

Posisi dirinya saat ini tidak menguntungkan. Posisi yang membelakangi pelaku menyulitkan Anto untuk dapat berbuat sesuatu.

Sebenarnya Anto bisa saja melakukan perlawanan seketika, mengingat dirinya memiliki sedikit ilmu bela diri dan memiliki keberanian untuk melakukan itu.

Namun, pistol yang membidik kepalanya harus dipikirkan matang-matang oleh Anto sebelum bertindak jika tidak ingin mati konyol.

Detik demi detik terus berlalu, keheningan di luar sana semakin terasa mencekam. Persiapan penyerbuan akan segera dilakukan, tinggal menunggu perintah komando!

Tiba-tiba Anto memiliki gagasan.

“Boleh saya menghubungi komandan? Saya akan bantu Abang keluar dari sini.”

Sejak tadi memang tidak ada komunikasi sama sekali. Radio maupun ponsel sengaja dimatikan oleh pelaku. Bahkan, ponsel milik Andin masih dikuasai oleh pelaku dan tidak dikembalikan! Dasar tidak tahu diuntung.

Berpikir sejenak, pelaku akhirnya membolehkan Anto menghubungi komandan, tetapi tidak melalui radio, melainkan menggunakan ponsel milik Andin.

Tiba-tiba ponsel Kapten Hermanto berdering. Terpampang foto dan nama Andin di layar.

“Iya, Andin, masuk.” Kapten Hermanto mengira Andin yang menghubunginya.

“Halo, Komandan. Ini dengan Anto. Bisa didengar suara saya?”

“Terdengar, teruskan!”

“Pelaku meminta sebuah helikopter segera didatangkan, mendarat di samping mobil. Tidak boleh ada siapa-siapa di dalamnya, juga tidak boleh ada senjata selain milik pilot helikopter itu sendiri.”

Tidak dijawab, telepon langsung ditutup oleh Kapten Hermanto. Anto tidak terlalu yakin ide ini akan berhasil, tetapi hanya itu satu-satunya jalan keluar dari kepungan rapat.

Sebuah helikopter tidak mungkin akan terkejar oleh polisi. Pelaku senang bukan main dengan ide Anto ini.

“Gila, encer juga otak lo. Gini, Bro, gue ada tawaran buat lo.”

Tiba-tiba, entah ada angin apa, pelaku mulai bersikap lunak kepada Anto. Pelaku tidak memanggil "lo" lagi, tetapi "Bro", saudara.

Pasti ada maunya. Betul juga.

“Bro, tahu berapa uang yang gue dapetin ini? Satu miliar, Cuy! Banyak, kan? Gue mau berbagi asal lo mau kerja sama sama gue. Bantuin lari dari sini, ntar lo ikut.” Pelaku mulai merayu Anto.

“Kita suruh pilot terbang jauh, nanti ketemu tempat sepi, suruh pilotnya mendarat di situ. Kalau perlu, pilotnya kita tembak sekalian biar enggak bisa ngejar kita lagi.” Pelaku mulai menghayal.

“Terus kita kabur berdua bawa uang ini. Paham maksud gue, Bro? Kalau berhasil, kita bagi uang ini separo-separo. Setuju, Bro?”

Tawaran yang menggiurkan. "Lima ratus juta" masing-masing bisa untuk beli rumah atau mobil keluaran terbaru. Arphan mencoba memengaruhi, tetapi Anto tidak tertarik dengan tawaran itu. Mustahil, pikirnya.

Insting Anto mengatakan Kapten Jatmiko tidak akan membiarkan pelaku kabur dari sini. Reputasi jabatannya dipertaruhkan apabila gagal menyelesaikan masalah ini secepatnya. Apa kata dunia nanti?

Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang dilakukannya: menculik, menyandera seorang gadis, membunuh, mencabut nyawa seseorang, melakukan tindak kekerasan dengan mencederai beberapa orang, memiliki senjata api ilegal, serta melarikan kendaraan yang bukan haknya.

Terakhir, menguasai uang senilai satu miliar yang juga bukan haknya. Pelaku akan dikenai beberapa pasal dan berkemungkinan dipenjara lebih dari dua puluh tahun lamanya. Bahkan, pelaku bisa terancam hukuman mati apabila sandera terakhir ikut tewas akibat perbuatannya!

Tidak ada opsi lain di benak Anto. Mengusulkan kabur menggunakan helikopter merupakan pilihan terbaik untuk keluar dari sini.

Namun, mustahil Kapten Jatmiko akan memenuhi permintaan ini. Terlalu mahal dan berkhayal terlalu tinggi, menginginkan adegan seperti di film Hollywood saja layaknya.

“Lebih baik kehilangan ikan mujair daripada kehilangan ikan kakap.”

Nah, lo. Bisa gawat, nih! Dirinya yang menjadi perumpamaan sebagai ikan mujair, sedangkan Arphan sebagai ikan kakapnya.

Jadi, berkemungkinan besar Anto akan menjadi tumbal demi membekuk sang pelaku. Hidup atau mati!

Saat ini Anto merasa dirinya bukan siapa-siapa, terlalu jauh bila dibandingkan dengan Andin, putri seorang konglomerat yang begitu dihormati semua kalangan.

Siapalah dirinya? Hanya seorang sopir pribadi, bekas tukang ojek, dan bukan dari kalangan orang berada atau berpangkat. Orang tuanya hanya seorang petani biasa. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Anto?

Anto selama ini dipuja oleh majikannya karena keberaniannya, serta disegani di antara teman-teman sejawatnya. Sekarang, dia mulai kehilangan kepercayaan diri dan merasakan ajal akan menjemputnya sebentar lagi.

Dia tidak berdaya di belakang kemudi di bawah todongan sepucuk pistol yang siap menyalak saat pelaku merasa terdesak dan terancam jiwanya.

Lihat selengkapnya