Langit sore sudah memerah ketika Naoya terakhir kali menatap gedung apartemennya dari pintu masuk. Kardus kecil yang dia bawa terasa terlalu ringan untuk menjadi penutup dari hampir empat tahun hidup yang dipaksa berjalan sendirian. Sebuah laptop, beberapa buku yang pinggirnya mulai mekar, dua stel pakaian yang paling sering dipakai, dan kotak obat yang terselip di dasar tas. Tidak ada barang yang benar-benar bisa disebut berharga. Tidak ada yang cukup besar untuk disesali.
Yang tersisa hanya rasa letih.
“Naoya-nii.”
Suara itu memanggilnya dari depan gerbang rumah tua yang sudah lama tidak dia lihat. Naoya menoleh, lalu mendapati seorang gadis berdiri di sana dengan kedua tangan terangkat kecil, seolah menahan kegirangan yang hampir tak muat di tubuhnya. Rambutnya hitam, panjangnya jatuh rapi di bahu, dan wajahnya dipenuhi senyum yang terlalu cerah untuk sore yang mulai dingin. Dia mengenakan sweater putih polos dan rok sederhana, seperti anak sekolah yang pulang lebih cepat dari biasanya.
“Mi..o..?” tanya Naoya pelan.
Gadis itu langsung berlari kecil menghampirinya. Langkahnya ringan, hampir melompat, lalu tanpa ragu dia memeluk lengan Naoya seperti seseorang yang akhirnya menemukan rumah setelah tersesat terlalu lama.
“Akhirnya,” katanya, suaranya hangat dan nyaris manja. “Aku takut Kakak berubah pikiran.”
Naoya berkedip. Pelukan itu terasa nyata, hangat, terlalu dekat. Dia tidak langsung membalas, bukan karena menolak, melainkan karena tubuhnya lambat memahami bahwa seseorang benar-benar mendekat dengan sukarela.
“Rumah ini...” Dia mengalihkan pandang ke bangunan di belakang Mio. Pintu geser kayu, dinding luar yang catnya sedikit mengelupas, taman depan yang dipenuhi rumput liar. “Ini masih bisa ditinggali?”
“Bisa, kok.” Mio tersenyum lebar. “Aku sudah bersihin yang paling penting. Listriknya juga masih bisa nyala karena aku bayar. Airnya aman. Aku bahkan masak nasi tadi pagi.”
Naoya menatapnya lagi. “Kamu yang menyiapkan semuanya?”
Mio mengangguk bangga. “Iya. Soalnya kalau aku cuma nunggu, Kakak pasti bakal telat mikir baik-baik dan malah balik ke apartemen itu lagi. Padahal sewa udah naik, kan?”
Naoya diam.
Bibir Mio mengerucut sedikit, lalu ia mengangkat kepala dengan ekspresi paling polos yang bisa dia buat. “Aku nggak ngintip. Kakak kan juga nggak bilang ke Ibu?”
Nama ibu itu menekan sesuatu di dada Naoya, seperti jari dingin yang mengetuk dari dalam.
“Belum.”
Mio mengangguk seakan-akan itu jawaban yang wajar. “Ya udah. Nanti Kakak nggak usah pusing. Tinggal di sini saja sama aku.”
“Apa maksudmu, ‘sama kamu’?”
“Ya kita berdua.” Mio menatapnya seperti itu adalah hal paling logis di dunia. “Rumah ini kan rumah kita juga. Rumah masa kecil kita. Aku sendirian di sini bosan, Kakak sendirian di sana juga nggak benar. Jadi sekarang tinggal di sini saja. Dua orang saja. Enak, kan?”
Naoya menatap wajahnya lama. Ada sesuatu yang sangat asing di balik keakraban itu, tapi anehnya, asing itu tidak terasa seperti ancaman. Lebih seperti pintu yang baru dibuka di rumah yang sudah lama tertutup. Naoya tidak tahu dari mana rasa nyaman itu datang. Yang dia tahu, dia lelah. Dan Mio berdiri di hadapannya seperti seseorang yang sudah menyiapkan tempat untuknya pulang.
“Kalau kamu bener-bener nggak keberatan...” ujar Naoya akhirnya.
Mio langsung bersinar. “Keberatan? Aku malah mau sekali!”
Dia meraih salah satu kardus dari tangan Naoya sebelum Naoya sempat menolak, lalu membawanya masuk sambil berjalan mundur sesekali agar tetap bisa menatap kakaknya. “Ayo cepet. Aku sudah bikin kamar Kakak bersih. Yang jendela menghadap taman belakang. Dulu itu kamar favorit Kakak, kan?”
Naoya tidak langsung menjawab. Kakinya bergerak mengikuti Mio tanpa banyak pikir. Lantai kayu di lorong depan sedikit berderit ketika ia masuk, dan aroma kayu tua bercampur pembersih lantai menyambutnya seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dipakai lagi. Rumah ini besar. Bukan megah, tapi lapang dengan cara yang hanya dimiliki rumah yang dulu pernah dipenuhi suara orang.
Di ruang tengah, lampu-lampu kuning menyala lembut. Tirai putih bergeser pelan ditiup angin dari celah jendela. Ada rak buku rendah, meja makan yang permukaannya sudah dipoles, dan vas bunga kecil di sudut ruangan. Semuanya terlihat terlalu hidup untuk rumah yang selama ini hanya tinggal sebagai alamat.
Mio menunggu di ambang ruang tengah, menoleh sambil memiringkan kepala. “Gimana? Lumayan, kan?”
Naoya mengangguk kecil. “Iya.”
“Bagus.” Mio menepuk kedua telapak tangannya pelan, seperti anak kecil yang berhasil membuat proyek kerajinan selesai tepat waktu. “Kalau begitu, nanti malam Kakak mandi dulu saja. Aku sudah siapin handuk dan pakaian ganti.”
Naoya mengerjapkan mata. “Kamu benar-benar sudah menyiapkan semuanya, ya?”
“Ya iyalah.” Mio terdengar kesal pura-pura. “Masa aku biarin onii-chan capek sendiri.”
Kalimat itu harusnya biasa saja. Tapi entah kenapa, telinga Naoya menangkapnya seperti sesuatu yang lebih berat dari sekadar kepedulian adik. Ada nada kepastian di sana. Seolah-olah Mio tidak sedang menawarkan, melainkan memastikan suatu hal yang tidak boleh ditolak.
Naoya menyentuh lehernya sendiri, lalu memalingkan pandangan. “Terima kasih.”
Mio tersenyum lagi. “Nah, itu baru onii-chan yang aku kenal.”
Malam itu mereka makan malam di ruang makan kecil dengan meja rendah. Naoya duduk bersila, sementara Mio mondar-mandir mengambil piring, menuangkan teh, lalu duduk sangat dekat sampai lutut mereka hampir bersentuhan. Sup miso buatan Mio masih mengepulkan uap tipis. Ada telur dadar gulung, ikan panggang, dan tahu dingin dengan parutan jahe. Makanan sederhana, tapi terasa seperti seseorang sengaja menyiapkan kehangatan ke dalam mangkuk.
“Kamu belajar masak dari siapa?” tanya Naoya.
Mio menatapnya sambil mengunyah. “Dari internet. Dan dari ingatan.”
“Ingatan?”
“Hmm.” Mio mencondongkan tubuh sedikit, lalu tersenyum nakal. “Kan aku adiknya Kakak. Jadi aku ingat hal-hal yang Kakak sendiri mungkin lupa.”
Naoya tak menjawab. Ia hanya memandang sendok di tangannya.
Mio melanjutkan, tidak menekan, seolah itu hal biasa. “Dulu Kakak suka makan telur dadar yang agak manis. Terus nggak suka kalau daikon terlalu pahit. Dan kalau habis hujan, Kakak suka duduk di dekat jendela kamar sambil baca buku, padahal aku ngajak main juga.”
Naoya mengangkat mata. “Kamu masih ingat sampai segitunya?”
“Karena aku ingat Kakak.” Mio menjawabnya terlalu cepat.
Ada sesuatu yang membuat ruangan menjadi hening sesaat. Naoya merasakan itu, tapi tidak tahu harus memanggilnya apa. Ia hanya tersenyum kecil, lebih karena kebiasaan daripada keyakinan.
“Kamu ini aneh,” katanya pelan.
Mio cemberut. “Kok aneh?”
“Nggak. Maksudku...” Naoya berhenti, mencari kata yang tidak akan merusak udara hangat di antara mereka. “Kamu terlalu semangat.”
Mio menatapnya sebentar, lalu tertawa ringan. “Karena akhirnya aku punya Kakak lagi.”
Naoya terdiam.
Kalimat sederhana itu masuk begitu dalam sampai membuat dadanya terasa sesak. Punya Kakak lagi. Seolah dirinya bukan orang yang datang, melainkan seseorang yang sempat hilang dan akhirnya kembali pada tempat yang seharusnya. Naoya menunduk ke mangkuknya, lalu makan lebih pelan.
Mio memperhatikan, lalu menyenggol bahunya lembut. “Mulai sekarang, Kakak nggak usah terlalu mikirin banyak hal. Aku bantu.”