Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #2

Hari-Hari yang Tak Berbeda Tapi Indah

Pagi itu, ketika Naoya turun ke dapur setelah membasuh wajah seadanya, rumah sudah terasa berbeda.

Bukan berbeda yang besar—tidak ada suara aneh, tidak ada cahaya asing, tidak ada sesuatu yang membuat jantungnya melonjak. Hanya sesuatu yang kecil, seperti udara yang baru saja dibuka dari jendela. Ada aroma manis yang samar, tipis namun jelas, mengambang dari arah ruang tengah.

Naoya mengikuti aroma itu dengan langkah masih setengah terjaga.

Di atas meja kecil dekat pintu dapur, berdiri sebuah pot bunga mungil berwarna putih. Tanahnya masih gelap dan lembap. Tiga kuntum bunga kecil mekar di atas batang ramping, warnanya lembut seperti kain tipis yang terkena matahari pagi. Di sisi pot, terselip secarik kertas lipat.

Naoya mengambilnya dan membukanya perlahan.

Untuk Onii-chan.

Aku taruh ini supaya rumahnya nggak terlalu sunyi. Bunga ini harum, jadi kalau Kakak capek, tinggal lihat ke sini sebentar.

— Mio

Naoya memandangi tulisan itu lama.

Huruf-hurufnya rapi, namun ada goresan kecil di beberapa ujung yang membuatnya terasa hidup. Seperti tulisan orang yang menulis sambil tersenyum, atau sambil menahan sesuatu agar tidak terlalu tumpah. Naoya tidak tahu kenapa bagian itu membuat dadanya hangat. Ia meletakkan kertas kembali ke meja, lalu menunduk pada bunga itu.

“Harum...” gumamnya pelan.

Benar saja. Ketika ia mendekat, aromanya makin jelas. Tidak tajam, hanya manis dan bersih, seperti sesuatu yang baru diletakkan di ambang jendela setelah lama disimpan di tempat teduh.

Naoya mengusap tengkuknya. Hari ini ada urusan ke kampus, jadi ia harus pergi lebih pagi. Ia masih sempat melihat rumah sebelum keluar: lorong kayu yang mulai akrab, pintu-pintu geser, satu sendok jatuh di wastafel semalam, dan sekarang bunga kecil itu di meja, seolah memang selalu ada di sana.

Saat ia hendak memakai sepatu, suara langkah cepat terdengar dari tangga belakang.

“Naoya-nii? Udah mau pergi?”

Mio muncul dari koridor dengan seragam SMA yang membuatnya terlihat lebih muda dari usianya sendiri. Roknya rapi, blazer sekolahnya dikenakan setengah terbuka karena belum dikancing penuh, dan rambutnya diikat tinggi dengan pita kecil yang warnanya senada. Ia masih mengantuk sedikit, tapi wajahnya sudah siap dengan senyum yang biasa itu—senyum yang entah kenapa selalu tampak seakan hanya diarahkan pada Naoya.

Naoya menoleh. “Iya. Ada pertemuan dengan profesor pembimbing.”

Mio langsung memeluk map kecil yang dibawanya. “Hati-hati. Jangan terlalu lama di kampus.”

“Kamu juga semangat sekolahnya.”

“Sekolahku aman.” Mio mendekat, lalu menatap wajah Naoya sejenak. “Kakak lihat bunga itu?”

“Sudah.”

“Bagus.” Mio tersenyum puas, lalu menunduk sedikit. “Aku beli tadi pagi waktu berangkat.”

“Jam berapa kamu bangun?”

“Pagi.”

“Itu bukan jawaban.”

Mio mengerjap, lalu menyeringai kecil. “Kalau Kakak bangun lebih awal, aku jadi harus bangun lebih awal juga, kan?”

Naoya hendak menegur, tapi Mio sudah menyelipkan tangan ke belakang punggungnya dan memiringkan kepala dengan ekspresi nakal yang terlalu polos untuk disebut benar-benar nakal.

“Pokoknya jangan lupa lihat bunga itu kalau capek,” katanya.

Naoya menatapnya lagi. Ada sesuatu yang aneh dalam cara Mio berdiri pagi-pagi begitu; terlalu siap, terlalu rapi, seolah setiap gerakan kecilnya dipikirkan agar terlihat spontan. Tapi ketika Mio menatap balik dengan mata yang hangat dan sedikit berkabut tidur, Naoya tidak menemukan alasan untuk mempertanyakannya.

“Ya,” jawabnya pelan. “Aku akan lihat.”

Mio tampak senang sekali hanya karena itu.

Naoya keluar rumah beberapa menit kemudian. Jalan ke stasiun masih dingin, namun cahaya pagi mulai menghangat di ujung atap rumah-rumah tetangga. Di dalam kereta, ia sempat membuka ponsel dan melihat pesan dari Mio yang baru masuk beberapa menit lalu.

Jangan lupa makan siang ya.

Kalau pulang sore, aku masak nanti.

Naoya menatap layar itu lama, lalu mematikan ponsel tanpa membalas. Bukan karena tidak ingin, hanya karena ia tidak terbiasa menjawab perhatian sekecil itu dengan kecepatan yang sama. Hidupnya terlalu lama berjalan dengan kebiasaan menahan diri. Jadi saat ada seseorang yang memberinya sesuatu tanpa diminta, ia masih seperti orang yang belajar menerima dengan hati-hati, takut sesuatu akan rusak jika digenggam terlalu kuat.

Namun sore hari, ketika ia kembali, rumah menyambutnya dengan kehangatan yang sama seperti semalam—bahkan lebih.

Bunga putih di meja masih berdiri tegak, dan di samping potnya kini ada catatan kecil lain yang semula tidak ada pagi tadi.

Naoya mendekat, lalu mengambil kertas itu.

Kalau bunganya tetap segar sampai malam, berarti Kakak nggak terlalu capek hari ini. Kalau layu, aku bakal marah ke dunia.

Naoya menatap tulisan itu, lalu tanpa sadar sudut bibirnya bergerak sedikit. Ia membaca ulang kalimat terakhir, dan entah kenapa bayangan Mio yang memegang pinggang sambil mengomel kecil langsung terlintas di pikirannya.

Anehnya, setelah itu sesuatu dalam ingatannya seperti bergerak. Bukan ingatan yang jelas—lebih seperti rangkaian potongan kecil yang tidak tahu harus disusun dari mana. Senyum Mio saat duduk di lantai pagi tadi. Cara dia mencondongkan tubuh ketika memanggil namanya. Tangannya yang selalu bergerak kecil saat berbicara. Suaranya yang lembut tapi tidak pernah benar-benar pelan.

Naoya memejamkan mata sebentar.

Ketika membuka mata lagi, ia sadar ia sedang memikirkan Mio dengan cara yang belum pernah ia lakukan untuk siapa pun dalam waktu lama: dengan perhatian.

--o--

Pintu kamar belakang terbuka sedikit.

“Naoya-nii?”

Ia menoleh.

Mio muncul, masih mengenakan seragam sekolah, namun blazer-nya sudah dilepas dan digantung di lengan. Pipi kirinya tampak sedikit memerah, mungkin karena berlari atau karena memasak dekat kompor. Ia memandang Naoya sambil tersenyum lebar.

“Aku baru mau manggil. Kakak udah lihat bunganya ya?”

Lihat selengkapnya