Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #3

Belajar Satu Hal Lagi

Sore di kawasan kampus selalu punya bunyi yang berbeda dengan pagi. 

Pagi biasanya tergesa-gesa, penuh langkah cepat dan suara pintu otomatis yang dibuka-tutup tanpa sempat diingat. Tapi sore—terutama saat langit mulai merendah dan bayangan gedung memanjang di atas jalur pejalan kaki—selalu terasa seperti waktu yang sedang mengendur. Orang-orang berjalan lebih lambat. Percakapan terdengar lebih ringan. Udara pun seolah tidak lagi menuntut apa-apa. 

Naoya menyukai jam-jam seperti ini. 

Ia sedang berjalan menuju halte bus di sisi luar kompleks kampus ketika seseorang memanggil namanya dari belakang.

“Naoya? Eh, Naoya Tsuchiya, kan?”

Naoya menoleh. Seorang pria yang wajahnya cukup familiar berdiri tak jauh darinya sambil mengangkat tangan, seolah sedang memastikan bahwa yang dilihatnya memang orang yang sama. Mereka pernah satu gedung apartemen sebelumnya—bukan teman dekat, tapi cukup sering saling menyapa di lift, di lorong, atau saat sama-sama membawa belanjaan supermarket.

“Oh,” ujar Naoya pelan. “Lama tidak bertemu.”

Pria itu mendekat dengan langkah santai. “Iya, iya. Aku sempat lihat kamu pindah mendadak waktu itu. Jadi penasaran juga, kenapa tiba-tiba cabut? Aku kira kamu cuma capek sama apartemen itu.”

Naoya sempat menggeser pandang ke depan, ke arah jalur pejalan kaki yang ramai. Pertanyaan itu tidak terlalu berat, tapi tetap terasa seperti menyentuh sesuatu yang dulu ia simpan rapat-rapat tanpa perlu dijelaskan ke siapa pun. Ia mengusap tali tasnya sebelum menjawab.

“Biaya sewanya naik,” katanya. “Cukup banyak. Uang dari ibuku juga tidak bisa dipakai seenaknya karena beliau tinggal di kota lain. Jadi... aku pindah.”

“Ah.” Pria itu memasang wajah memahami, lalu menghela napas panjang seperti baru ingat sesuatu yang sebenarnya sederhana. “Harusnya kamu bilang dari awal. Kalau soal uang, jangan dipikir sendirian terus. Aku juga ada kerjaan sampingan, tahu. Kalau sohib macam kamu mau gabung, aku bisa bantu.”

Naoya menoleh sedikit. “Tidak usah. Sudah tidak masalah sekarang.”

“Beneran?” tanya pria itu sambil menyipit, setengah memastikan, setengah bercanda.

Naoya mengangguk. “Aku pindah ke rumah lama keluargaku. Di Yanaka. Masih masuk akal dari kampus juga.”

Pria itu tertawa kecil. “Oh, baguslah. Kupikir kamu bakal makin sengsara.”

“Kenapa terdengar seperti harapan buruk?”

“Karena mukamu memang sering kelihatan seperti orang yang memaksa kuat.”

Naoya terdiam sepersekian detik, lalu mengalihkan pandang dengan tenang. Pria itu tampaknya tidak berniat menyakiti. Hanya terlalu santai. Terlalu mudah bicara, seperti dunia tidak pernah benar-benar menghantam siapa pun dengan keras. Naoya tidak iri. Hanya sedikit lelah.

“Kalau begitu, terima kasih sudah menawarkan,” katanya akhirnya.

“Ya, kapan-kapan singgah saja main sini.” Pria itu merangkul bahunya singkat, ramah, tanpa maksud lain. “Jangan terlalu serius terus.”

Naoya menahan diri untuk tidak menegang. Ia hanya tersenyum kecil dan mengangguk.

“Kalau ada waktu.”

“Bagus. Nah, aku duluan.”

Pria itu pergi sambil melambai singkat. Naoya berdiri sejenak di bawah bayang-bayang pohon pinggir jalan, memandang punggung orang itu yang makin menjauh. Ada rasa aneh yang tidak sempat berubah menjadi apa pun. Bukan sedih, bukan marah. Hanya kebiasaan lama yang tiba-tiba menempel lagi di kulit: perasaan bahwa ia seharusnya merasa berutang, bahkan saat hanya diberi perhatian kecil.

Naoya menghela napas pelan.

Lalu, tanpa ia sadari, dari seberang jalur pejalan kaki, seseorang sedang memperhatikannya.

Mio berdiri agak jauh dari sana, masih mengenakan seragam sekolahnya. Rok abu-abu, blazer rapi, rambut diikat seperti pagi tadi, dan tas punggung kecil yang digantung hanya di satu bahu. Bagi orang lain, ia mungkin tampak seperti adik SMA yang kebetulan menunggu seseorang dari kampus. Bahkan mungkin seperti gadis lucu yang sedang cemburu kepada teman kakaknya.

Namun tatapan Mio tidak sekadar menunggu.

Ia mengamati.

Matanya mengikuti gerak tangan Naoya, arah tubuhnya, bahkan jeda singkat saat kakaknya berbicara pada pria tadi. Sekilas, wajahnya memang tenang. Tapi ada sesuatu yang terlalu waspada di balik ketenangannya, seperti seseorang yang takut kehilangan sesuatu bahkan saat benda itu masih ada di depannya.

Mio memeluk tali tasnya lebih erat. Dadanya terasa tidak nyaman sejak tadi siang, tepat setelah ia memutuskan untuk datang ke kampus Naoya tanpa memberi tahu lebih dulu. Ia tidak tahu kenapa perasaan itu muncul secepat itu. Yang ia tahu hanya satu hal: jika ia terlambat satu langkah saja, Naoya bisa saja kembali ke arah yang pernah menelannya dulu.

Tidak. Tidak boleh.

Mio menarik napas kecil, lalu mulai berjalan lebih dekat, tetap menjaga jarak agar tidak terlalu mencolok. Beberapa mahasiswa yang lewat sempat meliriknya, mungkin karena wajahnya yang imut dan seragamnya yang masih rapi. Seorang mahasiswa laki-laki bahkan menatapnya lebih lama, tapi Mio tidak peduli. Fokusnya hanya satu: kakaknya.

Ketika Naoya mulai bergerak menuju gerbang terluar kompleks kampus, Mio mempercepat langkah. Ia menyelinap ke sisi jalan setapak yang tidak terlalu ramai, lalu menunggu di tempat yang aman agar bisa muncul seolah kebetulan.

Begitu Naoya melewati sudut gedung, Mio melangkah keluar dengan senyum lebar.

“Onii-chan!”

Naoya menoleh cepat. Wajahnya langsung melunak saat melihat Mio berdiri di hadapannya, seperti baru saja selesai mengerjakan sesuatu yang membuatnya lega.

“Mio? Kamu dari mana?”

“Dari sekolah, dong.” Mio menyamakan langkah dengannya tanpa menunggu dipersilakan. “Aku habis pulang lebih cepat. Tadinya mau langsung ke rumah, tapi aku kepikiran Kakak mungkin masih di kampus.”

“Dan kamu benar.”

“Lihat?” Mio mengangkat dagu sedikit, bangga. “Aku memang hebat.”

Naoya menatapnya sambil menahan senyum. “Kamu selalu datang tiba-tiba.”

“Karena kalau bilang duluan, nanti Kakak keburu nolak.”

“Kenapa aku harus menolak?”

Mio mendongak ke arahnya, lalu tersenyum tipis. “Karena Kakak kadang terlalu suka bilang iya ke semua orang.”

Naoya tidak langsung menjawab. Mereka terus berjalan menjauhi kompleks kampus, menyusuri trotoar yang mulai dipenuhi orang pulang kerja. Bunyi sepatu, klakson jauh, dan suara lalu lintas menjadi latar yang biasa. Namun percakapan kecil di antara mereka terasa berbeda, seperti ada benang halus yang menarik perhatian Naoya tanpa ia sadari.

“Sekolahmu hari ini bagaimana?” tanya Naoya.

“Biasa.” Mio mengangkat bahu. “Ada ujian kecil, terus satu guruku kelihatan lebih semangat dari biasanya. Temanku juga ribut karena kehilangan pulpen. Hal-hal begitu.”

“Berarti cukup menyenangkan.”

“Lumayan.” Mio menyipitkan mata, lalu menoleh ke arahnya. “Kalau Naoya-nii?”

Naoya berpikir sejenak. “Aku bertemu profesor, lalu sempat ngobrol dengan orang yang dulu tinggal satu apartemen.”

“Yang suka ramah itu?”

Naoya mengangguk. “Dia menanyakan kenapa aku pindah.”

Mio tidak menunjukkan reaksi besar. Tapi langkahnya sempat melambat sepersekian detik sebelum ia kembali menyesuaikan diri.

“Terus Kakak jawab apa?”

“Yang beneran terjadi.”

Mio diam, lalu meliriknya cepat. “Dan dia menawarkan kerja sampingan?”

“Ya.”

“Tidak boleh.”

Nada itu keluar terlalu cepat. Naoya menoleh.

Mio langsung tersenyum kecil, seolah baru sadar dirinya berlebihan. “Maksudku, Kakak sudah punya banyak urusan. Kalau kerja lagi, nanti capek.”

Naoya memandangnya sebentar. Ada sesuatu yang rapuh di balik senyum Mio, sesuatu yang berkedip sesaat lalu disembunyikan lagi. Bukan baru pertama kali ia melihat hal seperti itu, tapi kali ini terasa sedikit lebih jelas. Naoya tidak menanyakannya. Hanya mengalihkan pandang ke depan.

Lihat selengkapnya