Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #4

Semilir di Pagi Hari

Sabtu pagi datang dengan udara yang jernih.

Naoya baru sadar setelah mereka keluar dari gang kecil di belakang rumah, sepatu olahraga mereka menyentuh aspal yang masih dingin oleh sisa malam. Langit belum terlalu terang, tapi sudah tidak gelap lagi. Cahaya matahari menyusup di antara atap-atap rumah, menempel lembut di pagar, di daun-daun yang bergerak pelan, di kaca jendela yang masih tertutup rapat.

Di sisi kirinya, Mio berlari dengan langkah yang jauh lebih ringan. Karena tubuhnya lebih kecil, langkah itu terlihat seperti loncatan pendek yang nyaris tidak memakan tenaga. Rambutnya diikat tinggi, beberapa helaian halus lolos di sisi pipi dan bergerak tiap kali ia menoleh. Napasnya teratur, bahkan saat mereka sudah melewati tikungan pertama di kawasan permukiman itu.

“Jangan terlalu cepat,” kata Naoya sambil menyesuaikan langkah.

“Aku nggak cepat,” balas Mio.

“Kamu hanya merasa begitu.”

“Itu artinya onii-chan lambat.”

Naoya menghela napas pendek, lalu meliriknya. Mio tersenyum lebar, ekspresi puas yang sangat kecil dan sangat mudah muncul, seolah pagi memang dibuat untuk itu. Mereka sudah terbiasa berjalan atau berlari kecil bersama di area sekitar rumah beberapa kali belakangan. Tidak terlalu jauh, tidak terlalu serius. Hanya cukup untuk membuat tubuh bergerak dan kepala tidak terlalu penuh.

Udara pagi terasa bersih. Bau tanah basah masih samar di dekat taman kecil, bercampur aroma rumput yang baru dipangkas. Di depan mereka, seorang lelaki tua sedang mengajak anjingnya berjalan santai. Beberapa menit kemudian, mereka berpapasan dengan pasangan ibu dan anak yang tampaknya sedang berangkat belanja pagi. Lalu, di sudut jalan lain, ada perempuan paruh baya yang bergerak cepat sambil mengenakan topi olahraga, wajahnya serius seperti sedang mengejar sesuatu yang penting.

Naoya sempat menoleh ke arah taman kecil di ujung blok. Ayunan kosong bergoyang perlahan ditiup angin. Lalu, seperti biasa, Mio tiba-tiba mengurangi kecepatan dan berhenti setengah langkah.

“Onii-chan, lihat itu.”

Naoya mengikuti arah telunjuknya.

 

Seekor kucing gendut berwarna abu-abu duduk di atas tembok rendah, badan bulatnya tampak seolah terlalu nyaman untuk bergerak. Ekor panjangnya melingkar rapi di kaki depan.

Naoya menatapnya sebentar. “Oh kucing biasa.”

Mio mengerjap, lalu menoleh dengan mata yang seketika membesar. “Biasa?”

“Ya.”

“Itu bukan biasa. Itu gemuk dan lucu.”

“Dua-duanya masih bisa benar.”

Mio menatapnya seperti orang yang baru saja mendengar kalimat paling keterlaluan di dunia. Lalu ia menekan bibirnya agar tidak tertawa terlalu keras. Kucing itu sendiri tidak memedulikan mereka sama sekali; ia hanya membuka satu mata sebentar, lalu kembali menatap jalan dengan ekspresi malas.

“Kita buang-buang waktu kalau berhenti setiap kali melihat hewan lucu,” kata Naoya.

“Tidak ada yang namanya buang-buang waktu untuk hewan lucu.”

“Itu logika apa?”

“Logika yang benar.”

Naoya tidak membantah. Mereka melanjutkan lari kecil, melewati jalan yang dibingkai rumah-rumah sederhana dengan pagar rendah dan pot tanaman di teras. Sesekali, mereka berpapasan dengan orang yang juga sedang jogging, mengangguk singkat satu sama lain seperti tradisi yang tidak perlu dijelaskan. Mio terkadang menoleh, menilai sepatu orang lain, pakaian olahraga mereka, atau cara mereka membawa botol minum. Sesekali ia berkomentar pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Di dekat tikungan menuju jalan utama kawasan itu, Naoya melihat seorang nenek yang tampak sedang menyiram tanaman di depan rumahnya. Rambutnya digelung rapi, bajunya sederhana, dan ia mengenakan celemek kecil di atas pakaian rumah.

“Ah, Naoya-chan. Sudah besar, ya” katanya begitu melihat Naoya dari kejauhan. Suaranya serak tapi hangat. “Pagi sekali, ya.”

Naoya langsung memperlambat langkah dan menunduk sopan. “Selamat pagi.”

Nenek itu tersenyum lebar, lalu menatap Mio yang berdiri di samping Naoya. “Eh? Ada teman?" 

Naoya hendak menjawab, tapi nenek itu sudah lebih dulu memperhatikan Mio dengan tatapan penuh minat.

“Wah, cantik sekali,” katanya tanpa basa-basi. “Adikmu?”

Mio sedikit terkejut, lalu tersipu. Ia menunduk kecil, ujung bibirnya bergerak malu-malu. “Terima kasih, Nek.”

Nenek itu tampak mengernyit, seolah mencoba mengingat sesuatu. “Naoya-chan punya adik perempuan ya? Aduh, nenek ini sudah mulai lupa-lupa. Usia memang kejam.”

Naoya hendak mengatakan sesuatu, tetapi Mio lebih dulu menegakkan badan. Wajahnya yang tadi masih malu kini berubah manis dengan sangat cepat, seperti seseorang yang tiba-tiba tahu peran yang harus dimainkan.

“Iya, Nek,” katanya lembut. “Kami memang adik-kakak.”

Naoya tidak bereaksi. Ia hanya berdiri di samping Mio, menunggu.

Nenek itu tampak lega. “Oh, begitu rupanya. Nenek kira kalian ini baru kenal. Soalnya rasanya tidak pernah lihat kalian berdua bersama.”

Lihat selengkapnya