Taman itu nyaris kosong.
Siang yang terlalu terang membuat bangku-bangku logam memantulkan cahaya pucat, sementara angin tipis menggerakkan ujung rumput di tepi jalur setapak. Di satu sudut, ayunan berderit pelan, didorong oleh sesuatu yang bahkan tidak ada. Di sisi lain, air mancur kecil di dekat pagar telah lama berhenti berfungsi, menyisakan bekas kerak putih di dasar batu.
Mio duduk di salah satu ayunan itu dengan satu kaki menyentuh tanah, tubuhnya condong sedikit ke depan. Sebelah tangannya memegang eskrim mangga yang sudah tinggal separuh, lengket di ujung jari. Tangan satunya menggenggam ponsel lipat kecil yang layarnya terbuka, tapi pandangannya tidak pernah benar-benar turun lama ke sana. Sesekali ia mengetuk layar, membaca sesuatu, lalu berhenti lagi.
Rambutnya diikat menjadi ponytail tinggi. Seragam sekolahnya masih dikenakan, tetapi bagian atasnya tertutup outer hoodie putih yang kebesaran, membuatnya tampak lebih kecil dari biasanya. Rok pendeknya bergerak ringan ketika angin menerpa, seolah siang itu sendiri tidak sabaran.
Mio tidak terlihat seperti anak sekolah yang bolos.
Ia lebih mirip seseorang yang sedang menunggu kabar buruk.
Ia menggigit eskrimnya lagi, lalu memiringkan kepala sedikit. Untuk waktu yang lama ia diam. Hanya suara plastik kecil dari bungkus eskrim yang bergesek di jemarinya, dan angin yang menyeret daun kering di bawah ayunan.
Akhirnya, Mio mengangkat wajah ke langit.
Langit biru itu luas sekali. Bersih. Terlalu bersih untuk orang yang sedang resah.
“Mmm,” gumamnya sangat pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri saja. “Badainya akan datang.”
Kalimat itu melayang sebentar di udara lalu hilang begitu saja, seperti tidak pernah diucapkan.
Mio menurunkan pandangan kembali ke ponselnya, kemudian mematikan layar. Ia menatap satu titik kosong di depan taman, raut wajahnya tidak berubah, tetapi ada sesuatu yang mengencang halus di sekitar matanya. Sesuatu yang hanya akan terlihat jika seseorang cukup lama memperhatikannya.
Ia tetap duduk di sana, menunggu.
--o--
Sementara itu, di perpustakaan kampus, Naoya sedang menatap tumpukan buku yang terasa semakin tinggi dari waktu ke waktu.
Di depannya terbuka beberapa referensi sastra dan linguistik, sebagian diberi penanda warna, sebagian penuh coretan di pinggir halaman. Ada satu buku teori yang dibuka lebar, satu catatan kecil di sampingnya, dan satu folder yang sudah ia bolak-balik entah berapa kali tanpa menemukan kalimat yang benar-benar bisa ia pakai.
Naoya menggaruk kepalanya pelan, lalu menghela napas panjang.
“Tidak cocok,” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
Premis yang beberapa hari lalu didesakkan oleh profesornya masih belum bisa ia satukan ke dalam alur penelitiannya. Ia paham maksudnya, kurang lebih. Tapi pemahaman yang kurang lebih tidak cukup untuk menulis sesuatu yang bisa dipertahankan. Kalimat-kalimatnya terasa seperti potongan kaca: tajam, tetapi tidak membentuk apa pun.
Naoya menekan ujung pena ke bibirnya, lalu bersandar di kursi.
Di sekelilingnya, perpustakaan besar itu bergerak dengan tenang. Ada mahasiswa yang menekan buku ke dada sambil berjalan cepat, ada yang duduk diam di meja panjang sambil menatap layar laptop, ada juga suara halaman dibalik pelan, nyaris seperti bisikan. Suasana yang biasanya menenangkan kini justru membuat kepalanya terasa lebih penuh.
Naoya memejamkan mata sebentar.
“Kalau terus begini...” gumamnya lirih.
Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Tidak perlu.
Setelah menghela napas lagi, ia menutup buku di depannya dan berdiri. Mungkin buku lain akan lebih berguna. Mungkin ia hanya butuh rak lain, sudut lain, atau satu istilah yang belum ia temukan. Naoya memasukkan beberapa catatan ke dalam map, lalu berjalan menyusuri lorong rak yang lebih sepi di bagian pojok perpustakaan.
Rak itu tinggi dan padat. Judul-judul buku tersusun rapat sampai matanya harus bergerak satu per satu, membaca sampul, lalu menarik buku jika dirasa mendekati kebutuhan.
Naoya melakukannya dengan sabar.
Satu buku ditarik. Bukan. Dikembalikan.
Satu lagi. Terlalu tua.
Satu lagi. Tidak tepat.
Sampai akhirnya ia menoleh sedikit ke sisi kanan, dan tanpa sadar bahunya menyenggol seseorang.
Buku-buku di tangan perempuan itu hampir jatuh.
“Ah—”
Naoya spontan memutar tubuh. “Maaf.”
Perempuan itu juga segera menahan tumpukan bukunya dengan kedua tangan. “Tidak apa-apa. Aku juga tidak memperhatikan.”
Nada suaranya tenang. Bukan suara malu-malu, bukan juga dingin. Lebih seperti orang yang memang terbiasa menjaga jarak secara wajar.