Nagisa baru sampai di apartemennya ketika langit sudah gelap sepenuhnya.
Lorong kecil di depan pintu kamar terasa lebih dingin dari biasanya, mungkin karena tubuhnya sudah keburu lelah sebelum sampai. Dia membuka pintu dengan satu tangan, menendang sepatu keluar sembarangan, lalu menutupnya kembali tanpa suara. Tas selempang yang penuh buku referensi dibanting begitu saja ke kursi belajar. Sesaat kemudian, tubuhnya jatuh ke kasur empuk yang menyambutnya tanpa komentar.
“Aduh...”
Keluhnya pelan, lebih mirip hembusan napas yang menyerah.
Hari itu dia habiskan untuk mencari bahan penelitiannya ke perpustakaan dan toko buku bekas di sekitar stasiun. Pagi sampai sore terasa seperti satu garis panjang yang tak punya jeda. Di sela-sela itu dia sempat mampir membeli parfait karena perutnya mulai protes, lalu menatap sendok kecil di atas gelas bening itu dengan perasaan yang bahkan tidak ia pahami sendiri. Parfait yang manis dan dingin hanya membuat tubuhnya sedikit lebih tenang, bukan benar-benar membaik.
Nagisa memejamkan mata.
Kamar apartemennya sunyi. Sunyi yang biasa. Yang nyaman, tapi juga terlalu kosong kalau ia pulang dengan kepala penuh seperti ini.
Dering ponsel memecah diam beberapa menit kemudian.
Nagisa meraba-raba kasur, mencari sumber suara itu tanpa niat bangun sepenuhnya. Ketika layar ponsel akhirnya masuk ke genggamannya, nama yang terpampang membuatnya mendengus kecil.
Ako Ichigaya.
Nagisa mengangkat telepon sambil masih berbaring miring. “Ada apa?”
“‘Ada apa’ itu salam pembuka apa?” suara Ako langsung menyambar dari seberang, seperti biasa terlalu hidup untuk jam segitu. “Kamu masih sadar, kan?”
“Kalau nggak sadar, aku nggak akan angkat.”
“Jawabanmu hambar sekali. Kamu capek ya?”
Nagisa memejamkan mata lagi. “Sedikit.”
“Sedikit itu artinya banyak.” Ako berdecak. “Kamu habis ke mana saja?”
“Perpustakaan. Lalu toko buku. Lalu makan parfait.”
“Wah, rajin.”
Ada jeda kecil di ujung sana. Ako tampaknya sedang menunggu Nagisa bicara lebih dulu, tapi karena tidak ada respons yang cukup antusias, nada suaranya berubah lebih datar—bukan marah, lebih ke nada sahabat yang sudah cukup lama mengenal kebiasaan buruk lawan bicaranya.
“Nagisa,” kata Ako, “kalau kamu kuliah dengan benar, kamu nggak akan setersiksa ini. Jangan habiskan waktumu buat pacaran terus dengan cowok-cowok ikemen di kampus. Hasilnya cuma begini.”
Nagisa membuka mata, menatap langit-langit kamar yang gelap. “Berisik sekali kau.”
“Aku serius.”
“Aku tahu.”
“Tidak, kamu itu mana pernah serius mendengarkan.”
Nagisa menghela napas. “Sudahlah, berhenti. Aku capek.”
“Aku juga capek lihat kamu begitu.”
“Ya, ya.”
“Dan jangan pura-pura semua itu baik-baik saja.”
Nagisa menatap ponselnya sejenak. Ako mungkin ada di tempat yang sama setiap kali ia menelepon: entah di kamar kosnya yang berantakan, entah di halte bus, entah di jalan dengan suara kendaraan lewat di belakangnya. Nada bicaranya selalu begitu. Penuh perhatian, tapi juga cukup tajam untuk bikin orang malas membantah.
Nagisa tidak marah. Hanya sedikit kesal, seperti biasa.
“Kau ini benar-benar suka ceramah.”
“Karena ada yang harus diceramahi.”
Di seberang, Ako mendengus. Lalu terdengar suara langkah atau gesekan kain, mungkin ia sedang memindahkan ponsel ke telinga lain. “Aku cuma bilang, jangan terus-terusan buang waktumu ke hal yang sama. Kalau kamu terus begini, nanti kamu juga sendiri yang susah.”
Nagisa menatap plafon lagi. Kalimat itu terdengar lebih berat daripada seharusnya.
Tapi bukan berarti ia mau mengalah.
“Udah, berisik kau,” gumamnya. “Aku mau tidur.”
“Aku belum selesai.”
“Udah selesai untuk malam ini.”
Ako menghela napas panjang, lalu suara di ujung sana melunak sedikit. “Ya udah. Istirahat aja.”
Nagisa menutup mata lagi. “Kamu juga.”
“Besok jangan menghilang.”
“Aku nggak menghilang.”
“Kalau begitu buktikan.”
Nagisa tersenyum tipis, meski Ako tidak bisa melihatnya. “Iya.”
“Selamat malam.”
“Selamat malam.”
Telepon dimatikan. Nagisa melempar ponselnya ke sisi lain kasur, tepat di atas selimut yang sedikit kusut. Ia tidak langsung tidur. Tubuhnya masih terlalu lelah untuk bisa tenang, tapi pikirannya juga tidak sanggup memikirkan banyak hal. Jadi ia memilih cara paling mudah: memejamkan mata dan membiarkan semuanya menunda diri sampai besok.
--o--
Pagi di rumah Naoya dan Mio selalu punya aroma yang hampir menipu.
Ada wangi roti yang dipanggang, suara toaster yang berbunyi kecil, dan bunyi wajan yang disentuh spatula. Semua itu membuat rumah tua yang dulu sunyi kini terasa seperti tempat yang benar-benar hidup. Sesaat, siapa pun yang masuk mungkin akan mengira itu rumah keluarga yang biasa, rumah yang penuh rutinitas kecil, bukan rumah yang dihuni dua orang yang sedang belajar tinggal bersama.
Naoya turun dari tangga sambil membawa buku pinjaman dari perpustakaan yang kemarin belum sempat ia baca habis. Rambutnya masih sedikit acak karena baru bangun, tapi wajahnya sudah lebih segar dibanding sore sebelumnya. Ia menatap meja makan yang kini ditata rapi, lalu mengalihkan pandang ke Mio yang sedang sibuk di dapur.
Mio berdiri di depan kompor dengan celemek sederhana. Wajahnya tampak sangat cerah pagi itu, seperti memang tidak ada hal di dunia yang lebih penting daripada telur mata sapi yang sedang ia siapkan. Rambutnya diikat rapi, dan ujung-ujung poninya sedikit jatuh ke dahi ketika ia menunduk.
“Pagi,” kata Naoya.
Mio menoleh dan langsung tersenyum. “Pagi, Onii-chan.”
Naoya duduk di meja makan yang hanya ditempati dua orang. Ia meletakkan buku di sebelah piring kosong, lalu menghirup aroma dari arah dapur. “Bau rotinya enak.”
Mio mengangkat spatula sedikit. “Tentu saja. Kalau tidak enak, aku marah.”
Naoya terkekeh pelan. “Marah ke siapa?”
“Ke toaster. Ke mentega. Ke dunia.”
Itu membuat Naoya benar-benar tertawa kecil. “Kamu terlalu dramatis pagi-pagi.”
“Karena aku sedang masak untuk orang penting.”
Naoya mengerjapkan mata, lalu memandang Mio dengan ekspresi setengah heran. “Orang penting?”
Mio menatapnya seolah jawaban itu paling jelas di dunia. “Iya. Onii-chan.”
Naoya menahan senyum. Hal-hal seperti itu masih sering membuatnya diam sejenak. Bukan karena ia tidak tahu harus berkata apa, melainkan karena ia belum terbiasa menerima perhatian yang diucapkan tanpa ironi. Selama bertahun-tahun, hidupnya terlalu sering berjalan dengan suara yang menyuruhnya untuk jangan merepotkan orang lain. Jadi mendengar dirinya disebut orang penting oleh adik yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya... masih terasa sedikit asing, sedikit hangat, dan sedikit menyakitkan di tempat yang tak punya nama.
Mio mematikan kompor, lalu membawa satu piring telur mata sapi ke meja. “Duduk yang bener.”
“Aku sudah duduk.”
“Tidak cukup benar.”
Naoya menuruti dengan menggeser posisi duduknya sedikit lebih tegak. Mio menatapnya, puas sekali, lalu menaruh piring di depannya.
Naoya melihat isinya sambil mengangkat alis. “Kelihatannya bagus.”
“Memang bagus.”
“Kamu percaya diri sekali.”
“Karena aku yang masak.”
Naoya menoleh ke arah roti yang sedang dipanggang. “Kalau begitu, aku harus bilang aromanya menggoda.”
Mio berhenti sepersekian detik, lalu pipinya sedikit berubah warna. “Hah?”
“Aromanya enak.”
“Oh.” Mio berkedip, lalu mendadak pura-pura sibuk mengambil piring lain. “Ya, memang. Aku juga tahu itu.”
Naoya tersenyum kecil. “Kalau kamu tersipu karena dipuji, itu malah membuatmu terlihat lebih lucu.”
Mio langsung menoleh. “Aku tidak tersipu.”
“Kamu bahkan menutup separuh wajahmu.”
“Itu karena asap.”
“Tidak ada asap.”
“Naoya-nii, diam.”
Naoya kembali tertawa. Mio mendengus, tapi bibirnya tetap bergerak kecil seperti sedang menahan senyum. Suasana pagi itu terasa ringan sampai hampir tidak ada celah untuk pikiran lain.
Setelah roti selesai dipanggang, Mio ikut duduk di seberang meja. Ia makan dengan lahap namun tetap sopan, sesekali mencondongkan badan untuk mengambil garam atau saus. Naoya membuka buku pinjamannya sambil menyuap satu potong roti, lalu kembali menatap halaman yang tadi sempat ia baca. Namun pagi itu kepalanya belum penuh oleh penelitian. Yang lebih dulu memenuhi ruang pikirnya justru wajah perempuan yang kemarin ia tabrak di perpustakaan.
Nagisa Kobayashi.
Naoya mengernyit kecil. Ia sendiri tidak paham kenapa nama itu bertahan lebih lama daripada yang lain. Mungkin karena kejadian kemarin canggung. Mungkin karena reaksinya tenang tapi tajam. Mungkin juga karena sentuhan singkat di ujung jarinya menempel terlalu kuat di ingatan.
“Apa yang dipikirin?” tanya Mio tiba-tiba.
Naoya menoleh. “Nggak ada.”
Mio mengangkat alis. “Kalau Kakak bilang ‘tidak ada’ begitu, biasanya berarti ada.”
Naoya menatap adiknya diam-diam. Sejak tinggal bersama, Mio mulai tahu kebiasaan kecilnya. Ini kadang membuat Naoya merasa terbaca, tapi di waktu yang sama juga terasa melegakan. Setidaknya ada seseorang yang memperhatikan.