Naoya sudah berpindah dari karpet ke sofa ketika Mio masih menempel di tubuhnya.
Sofa tua itu memang bukan barang mewah, tapi bantalan duduknya masih cukup empuk untuk menampung dua orang tanpa membuat rangkanya berderit terlalu keras. Naoya duduk dengan satu tangan bersandar di sandaran, sementara Mio yang sejak tadi hampir tengkurap di karpet kini merayap naik dan mendekat seperti anak kucing yang baru menemukan tempat hangat. Di meja kecil dekat sofa, ada mangkuk bekas es krim yang belum sempat dicuci dan buku yang tadi dibaca Naoya sebelum berangkat ke kampus. Ruang tengah rumah tua itu senyap, hanya diisi bunyi kipas kecil di sudut ruangan dan suara jam dinding yang berdetak pelan.
Mio memandangnya dari jarak sangat dekat, seolah sedang memastikan sesuatu yang tak kasat mata.
“Naoya-nii bener-bener nggak apa-apa?”
Naoya menoleh, lalu mengangkat bahu kecil. “Iya. Aku nggak terluka.”
Mio masih belum puas. Ia meraih lengan Naoya, memeriksa siku dan pergelangan tangannya seperti sedang mencari bekas benturan. Jari-jarinya bergerak hati-hati, lalu naik ke bahu, ke leher, dan sempat terhenti di pipi kakaknya. Naoya sempat menepuk tangannya pelan.
“Aku baik-baik saja.”
Mio mengembuskan napas panjang, baru seperti percaya. Lalu tanpa banyak kata ia mendekat dan melingkarkan lengannya ke leher Naoya dari samping, memeluknya setengah menggantung di sandaran sofa.
“Lain kali bilang sama orang lain,” gumamnya, suaranya sengaja dibuat ringan tapi tetap terdengar tegang. “Jangan diselesaikan sendiri terus. Kalau kenapa-kenapa bagaimana?"
Naoya sempat tertawa kecil. “Aku nggak disakiti sama sekali.”
“Bukan itu maksudku.”
“Aku tahu.”
Mio diam.
Kalau orang lain melihat, pelukan itu mungkin tampak manja. Adik kecil yang menempel pada kakaknya karena khawatir. Tapi di dalam dada Mio, ada sesuatu yang jauh lebih sulit diucapkan. Sesuatu yang membuat jari-jarinya memegang sedikit lebih erat, seolah kalau ia longgarkan sedikit saja, sesuatu yang sangat buruk akan ikut terbuka bersama udara.
Kenapa kamu selalu harus sebaik itu pada orang yang bahkan baru kau kenal dengan benar?
Itu pertanyaan yang melewati kepala Mio, tidak pernah benar-benar keluar menjadi suara. Sejak awal ia sudah tahu Naoya seperti itu. Terlalu mudah merasa wajib. Terlalu mudah mengulurkan tangan kepada orang asing yang tampak rapuh. Dan justru karena itulah Mio ketakutan. Bukan karena Naoya menolong seseorang. Melainkan karena wajah Naoya saat menolong selalu punya kelembutan yang sama seperti di hari ia pernah kehilangan dia.
Mio menahan napas, lalu mempererat pelukannya tanpa bicara lagi.
Naoya merasakan itu, tapi tidak memaksa melepas. Ia hanya menepuk punggung Mio pelan, satu dua kali, dengan ritme yang tenang seperti menenangkan anak kecil yang sedang cemas.
--o--
Sementara itu, di apartemen yang tidak jauh dari kampus, Nagisa baru saja membuka pintu kamarnya dan langsung menyadari ada cahaya di dalam.
Lampu kamar menyala.
Ia menghela napas kecil tanpa suara. Sudah bisa ditebak siapa yang berada di sana sebelum ia membuka sepatu.
Begitu masuk, benar saja, di sofa kecil dekat jendela, Ako sedang duduk dengan kaki diselonjorkan sedikit. Rambutnya dikuncir dua, warna oranye lembutnya tampak lebih terang di bawah cahaya kamar. Tangannya memegang cup pudding plastik yang tinggal separuh, dan di sampingnya ada kantong belanja kecil yang mungkin baru saja ia bawa dari supermarket.
“Akhirnya pulang juga,” kata Ako dengan nada ogah-ogahan yang tidak benar-benar berarti ogah. “Kukira kamu mau tidur di kampus.”
Nagisa menutup pintu dengan kaki, lalu meletakkan tasnya di kursi. “Kenapa kamu di sini lagi?”
“Karena kamu punya kunci cadangan.” Ako mengangkat sendok kecilnya. “Dan karena di supermarket tadi ada diskon pudding. Aku beli dua.”
“Masukkan kulkas.”
“Aku sudah makan satu.”
“Ya silakan saja.”
Nagisa melepas outer dan menaruhnya ke sandaran kursi. Tubuhnya masih terasa letih, tapi rasa lelah itu lebih lunak daripada sebelum pulang. Roti lapis yang tadi ia makan masih bertahan samar di perut, memberi sedikit rasa nyaman yang aneh. Ako yang melihatnya mengernyit.
“Eh.”
Nagisa meliriknya.
“Kenapa kamu bisa kenyang?” tanya Ako, suaranya langsung curiga. “Tadi aku pikir kamu bakal pulang dan langsung makan snack atau kari kalengan yang hampir kadaluarsa seperti biasa.”
Nagisa menatapnya datar.
Ako melanjutkan dengan nada yang sengaja dibuat terlalu polos, “Jangan bilang kamu akhirnya belajar makan makanan manusia.”
Nagisa mengambil bantal kecil dari sofa dan melemparkannya ke punggung Ako tanpa banyak peringatan. Bantal itu menghantamnya pelan, lalu jatuh ke lantai. Ako justru tertawa lepas.
“Jahat,” katanya sambil masih tertawa.
Nagisa duduk di sofa lain, merebahkan tubuhnya ke sandaran seolah benar-benar baru menurunkan beban yang ia bawa sejak siang. “Memang ada yang kasih aku roti lapis.”
Ako mengangkat kepala. “Siapa?”
“Naoya.”
Ako membeku sepersekian detik.
“Naoya yang itu?” tanya Ako cepat.
Nagisa mengangguk.
“Naoya Tsuchiya?”
“Iya.”
Ako menatapnya seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat tidak masuk akal. “Kamu dapat roti lapis dari dia? Dari cowok yang hampir tidak pernah kamu ajak bicara sejak masuk kampus?”
Nagisa mengalihkan pandang.
“Aku tanya serius,” kata Ako lagi, kini mulai duduk lebih tegak. “Kamu ngapain bisa tiba-tiba dikasih makanan sama dia?”
Nagisa mengambil bantal yang tadi ia lempar, memeluknya sebentar. “Tidak ada apa-apa.”
“Itu jawaban orang yang jelas-jelas menyembunyikan sesuatu.”