Pagi itu, Mio berdiri di dekat pintu depan dengan tas selempang di bahu kiri dan seragam SMA yang dikenakan rapi seperti biasanya. Roknya jatuh pas di atas lutut, dan kaos kaki panjangnya naik sampai separuh paha, memberi kesan yang entah kenapa selalu membuatnya tampak lebih kecil sekaligus lebih mencolok.
Rambutnya diikat rapi. Wajahnya cerah, manis, dan ringan—jenis manis yang seolah tak pernah kehabisan tenaga untuk tersenyum.
Naoya baru keluar dari ruang tengah sambil menatap jadwal hari ini di kepalanya. Sepertinya ia tidak ada urusan penting keluar rumah. Paling hanya pekerjaan kecil di rumah, lalu penelitian yang bisa ia lanjutkan setelah siang. Di tangannya ada kantong cucian yang tadi malam sudah Mio satukan di dekat mesin cuci.
“Titip ini ya,” kata Mio sambil menunjuk kantong itu.
Naoya mengangguk. “Iya. Aku yang cuci aja.”
Mio menatapnya singkat, lalu tampak lega. “Kalau begitu, cuci bersih semuanya. Jangan ada yang ketinggalan.”
Naoya meliriknya. “Kamu menuntut sekali.”
“Karena aku percaya sama kakakku.”
Nada itu ringan, tapi Naoya menangkapnya dengan cara yang berbeda. Bukan sebagai candaan, melainkan sebagai sesuatu yang cukup penting untuk diucapkan. Ia menghela napas kecil lalu mengangkat kantong cucian itu sedikit.
“Baiklah. Aku akan pastikan bersih.”
Mio tersenyum. “Bagus.”
Naoya menatap seragam adiknya, lalu bertanya, “Kamu baik-baik saja di sekolah?”
Mio mengangguk cepat. “Iya. Kakak juga jangan terlalu lama di rumah sendirian.”
“Aku belum tentu sendirian lama.”