Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #9

Trofi Kemenangan

Pukul 11.20 siang, jemuran di samping rumah akhirnya penuh.

Naoya berdiri di halaman kecil belakang rumah dengan lengan sedikit basah karena baru saja menyelesaikan cucian mereka berdua selama tiga hari terakhir. Tidak hanya baju luar, tapi juga beberapa potong pakaian dalam Mio yang tadi malam sengaja dipisahkan sesuai pesan adiknya. Itu membuat proses mencuci jadi lebih lama, tapi Naoya tidak keberatan. Bahkan, entah kenapa, ia justru merasa aneh kalau tidak mengerjakannya dengan benar.

Ia mengangkat satu per satu pakaian dari keranjang, mengguncangnya sebentar agar tidak terlalu kusut, lalu menjepitnya di tali jemuran. Matahari sudah naik agak tinggi, meski angin yang bertiup dari arah samping rumah membuat udara masih terasa nyaman. Cuaca seperti ini cocok untuk menjemur. Tidak terlalu lembap, tidak terlalu panas.

Kaos Mio yang berwarna lembut bergoyang pelan di udara. Di sebelahnya, kemeja Naoya tergantung berdampingan.

Naoya tanpa sadar menghitung jumlah seragam yang ada di tumpukan cucian sebelum semuanya habis dijemur. Dua, tiga, empat... ia berhenti saat menyadari ada beberapa pasang seragam Mio yang cukup sering muncul di tumpukan itu.

Kalau dipikir-pikir, ia belum pernah benar-benar menjemput Mio dari sekolah. Mio pernah melakukannya untuknya, bahkan beberapa kali. Sekarang justru Naoya mendadak terpikir untuk membalasnya. Mungkin lain kali ia bisa datang ke stasiun kecil itu, menunggu kepulangan adiknya, lalu berjalan pulang bersama. Hanya karena ingin menukar perhatian kecil yang diberikan Mio selama ini.

Pikiran itu membuat sudut dadanya terasa hangat.

Namun kemudian ia teringat jam.

Siang ini ia harus ke kampus. Perpustakaan fakultas akan tutup pukul empat, dan ia masih ingin mencari satu dua referensi sebelum pulang. Naoya mengusap ujung hidungnya, lalu memandang jemuran yang mulai penuh. Setelah ini makan siang, mandi sebentar, lalu berangkat.

“Harus cepet selesai,” gumamnya.

 Tepat hari itu, tanggal 3 April.

 Awal bulan.

 Naoya duduk di dalam kereta dengan ponsel di tangan. Layar ponselnya menampilkan satu email masuk yang baru saja ia baca. Nama pengirimnya membuat matanya berhenti sejenak: Ayase Tsuchiya.

 Ia tidak perlu membaca dua kali untuk tahu siapa itu. Nama ibunya sudah lama terpisah dari nama ayahnya, seperti hidup mereka yang juga sudah lama tidak lagi punya bentuk utuh.

 Email itu singkat.

 Uang bulanannya sudah ditransfer.

 Itu saja.

Lihat selengkapnya