Siang itu, ruang asistensi di fakultas sastra terasa tenang namun tidak benar-benar santai. Jendela besar di satu sisi ruangan membiarkan cahaya masuk dengan lembut, menyapu meja panjang, tumpukan map penelitian, dan cangkir kopi yang sudah hampir dingin. Profesor pembimbing mereka—seorang perempuan berusia awal tiga puluhan dengan wajah elok yang selalu tampak terlalu tenang untuk ukuran orang yang kritis—duduk di ujung meja sambil memeriksa catatan para mahasiswa satu per satu.
Nada suaranya tegas, tetapi tidak menusuk. Cara berbicaranya justru membuat orang sulit membantah, karena logikanya selalu jelas.
Di depan meja itu ada tiga mahasiswa.
Naoya duduk dengan punggung sedikit tegak, map penelitiannya terbuka di pangkuan. Di sebelahnya, Rin Manami menatap lembaran koreksinya dengan wajah serius. Sementara Ako Ichigaya—yang sejak tadi sudah mengubah suasana sepi menjadi sedikit lebih hidup hanya dengan cara ia duduk—menyimak penjelasan profesor dengan wajah antara terkejut dan pasrah.
“Ako-san,” kata sang profesor sambil menunjuk satu paragraf di catatan. “Bagian ini masalahnya bukan pada idenya. Idenya bisa dipertahankan. Yang belum rapat adalah hubungan antara data lapangan dan argumen akhirnya. Kamu lompat terlalu cepat dari observasi ke kesimpulan.”
Ako mengangguk-angguk, lalu mengerjap. “Jadi saya terlalu semangat menyimpulkan, ya, sensei?”
“Bukan semangat,” jawab profesor sambil membetulkan letak kertas di depannya. “Tergesa-gesa. Itu beda.”
Naoya melirik sepintas, lalu kembali menatap catatannya sendiri. Rin di sebelahnya tampak berusaha menahan senyum kecil. Ako, yang jelas-jelas tidak tersinggung, justru mengangkat tangan seperti anak sekolah yang ingin membela diri.
“Tapi saya merasa sudah menulis cukup banyak…”
“Jumlah tidak selalu berarti kedalaman,” potong profesor.
Ako segera diam. Wajahnya menunjukkan ekspresi orang yang baru saja dipukul logika dengan sangat rapi.
Profesor itu melanjutkan dengan sabar, menjabarkan letak kesalahan satu per satu. Ia menuliskan beberapa saran sumber literatur dasar di pinggir catatan Ako, lalu menambahkan beberapa nama buku yang menurutnya akan membantu Naoya juga, karena beberapa tema penelitian mereka ternyata mirip.
“Naoya-kun,” kata sang profesor sambil menoleh ke arah lain meja, “buku-buku ini juga sebaiknya kamu baca. Kalau memang sudah pernah dipinjam, tidak apa-apa tukar tangan dengan Ako-san nanti. Kalian bisa saling bantu.”
Naoya mengangguk. “Baik, sensei.”
Profesor itu menatap mereka bertiga sekali lagi, lalu menghela napas kecil sambil menutup foldernya. “Sepertinya cukup untuk hari ini. Saya ada keperluan setelah ini, jadi saya pulang lebih awal.”
Ako langsung mengangkat kepala. “Wah, sensei ada kencan?”
Ruangan mendadak hening sepersekian detik.
Profesor itu menoleh pelan, lalu menyeringai tipis dengan wajah yang justru lebih berbahaya karena terlalu tenang. “Kalau kamu ingin saya cepat lulus lalu menikah, bantu carikan saya calon suami yang lebih tua dan tampan.”
Naoya sempat menunduk supaya tidak tertawa, sementara Rin menutup mulutnya dengan tangan. Ako malah terdiam kaku.
Profesor itu sudah berdiri, membawa mapnya ke sisi tubuh. “Kalau ada lelaki yang baik hati, informasikan pada saya. Saya terbuka untuk saran itu.”
“Eh??” jawab Ako, nyaris tidak percaya.
Profesor itu tertawa pelan, lalu melangkah keluar ruangan disusul ketiga mahasiswanya.
Begitu mereka sampai di lorong, Rin berhenti duluan dan mengangkat tangan kecil. “Aku pamit di sini ya. Ada urusan lain.”
Naoya mengangguk. “Iya.”
Ako juga melambaikan tangan. “Hati-hati, Rin-chan.”
Rin pergi lebih dulu, meninggalkan Ako dan Naoya berjalan berdampingan di lorong yang mulai lengang. Langkah Ako terdengar lebih ringan daripada wajahnya yang tadi pasrah di ruang asistensi. Ia membuka catatan yang diberikan profesor, membaca cepat daftar rekomendasi buku, lalu mengangkat pandang ke Naoya.
“Eh, kamu sudah pinjam semua judul ini dari perpustakaan fakultas?”
Naoya melirik daftar itu. “Sebagian besar, iya.”
“Semua?”
“Kalau yang di daftar ini, iya.”
Ako menatapnya sebentar, lalu wajahnya berubah cerah. “Bagus. Kalau begitu, boleh pindah pinjam?”
Naoya berhenti sedikit. “Maksudmu?”
Ako mengangkat catatan itu. “Maksudku, kalau kamu sudah selesai pakai bukunya, aku mau pinjam juga. Daripada aku nunggu daftar antrian.”
“Oh.”
Naoya tampak berpikir sejenak. “Bisa.”
Ako langsung tersenyum lebar. “Serius?”
“Ya.”
“Berarti aku tinggal tukar peminjamnya saja.”
Naoya mengangguk kecil. “Kalau memang sudah selesai, aku bisa kembalikan ke koleksi perpustakaan lalu kamu pinjam lagi.”
“Wah, baik sekali.” Ako menepuk lengan Naoya pelan, hampir seperti kebiasaan lama yang tidak pernah ia sadari terlalu akrab. “Terima kasih, ya.”
Naoya hanya mengangguk, tapi ekspresinya sedikit lebih lunak dari sebelumnya. Ada sesuatu yang membuat berbagi buku dengannya terasa wajar. Mungkin karena hari itu memang tidak ada alasan untuk menolak.
--o--
Sementara itu, di salah satu gazebo taman fakultas sastra, Nagisa sudah menunggu cukup lama.
Di bangku kayu itu, beberapa bungkus plastik onigiri terlipat rapi dan ditindih tasnya agar nanti bisa dibuang sekaligus. Nagisa sendiri tampak santai sambil duduk menyandar, satu lutut sedikit terangkat, kepala menoleh sesekali ke arah jalan setapak. Ia sudah menghabiskan beberapa potong onigiri sambil menunggu Ako selesai bimbingan.
Angin siang bergerak pelan di sekitar taman. Daun-daun bergeser kecil di bawah bangku. Beberapa mahasiswa lewat jauh di jalur utama, tapi gazebo itu sendiri terasa agak terpisah dari keramaian.
Nagisa membuka ponselnya sebentar, lalu menutupnya lagi.
“Lama sekali,” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, ia melihat sosok Ako keluar dari gedung fakultas. Dari kejauhan, rambut oranye gradient milik sahabatnya itu langsung terlihat mencolok. Ao—begitu Nagisa kadang memanggilnya diam-diam dalam kepala jika sedang kesal—melambaikan tangan sambil berjalan cepat ke arahnya.
Begitu Ako mendekat, Nagisa menyipit.
“Lama,” kata Nagisa tanpa basa-basi.
Ako menghela napas dramatis. “Iya, agak alot tadi. Tapi sudah beres kok.”
“Kelihatannya tidak seperti ‘sudah beres’.”
“Karena aku habis dimarahi.”
Lalu matanya turun ke meja gazebo. Ia mengernyit.