Sabtu pagi datang dengan langit yang terlalu tenang untuk sebuah hari yang seharusnya terasa nyaman.
Nagisa masih bergelung di atas kasurnya, satu lengan menyilang di atas mata, satu kaki tertekuk di bawah selimut yang belum rapi. Kamar apartemennya sunyi. Tirai masih setengah tertutup, membiarkan cahaya pucat menyelinap masuk tanpa benar-benar mengganggu. Di meja kecil dekat jendela, segelas air semalam sudah tinggal separuh. Di lantai, sebuah jaket tipis terlipat asal.
Nagisa mengeluarkan napas panjang, tetapi tidak bangun.
Hari ini ia sebenarnya tidak punya alasan untuk tergesa-gesa. Itu justru yang membuat tubuhnya makin malas bergerak. Kalau ia tetap diam, mungkin pagi akan lewat sendiri. Kalau ia tidak membuka mata, mungkin semua hal yang menunggunya di luar kamar bisa menunggu lebih lama juga.
Tapi ponselnya berdering.
Satu getaran pendek. Lalu notifikasi email yang masuk.
Nagisa mendengus kecil, meraih ponsel dari sisi bantal, dan membuka layar dengan mata setengah tertutup. Nama pengirimnya membuat gerakan tangannya berhenti sesaat.
Ayahnya.
Ia menatap layar itu tanpa ekspresi beberapa detik, lalu membaca isi emailnya dengan gerakan yang jauh lebih lambat daripada biasanya.
Pesannya singkat.
Ia diminta datang ke ruang kantor pribadi untuk mengambil uang saku bulanan, seperti biasa.
Tidak ada pertanyaan lain.
Tidak ada kabar bagaimana ia. Tidak ada salam yang terasa benar-benar hangat. Hanya kalimat formal yang cukup untuk menjalankan rutinitas bulanan, seperti seorang atasan yang memeriksa jadwal orang di bawahnya. Nagisa membaca sekali lagi, lalu mematikan layar dan menaruh ponsel itu di sampingnya.
Ia terdiam.
Lama.
Sesudah itu, ia bangkit duduk di kasur, masih dengan selimut melilit pinggangnya. Bahunya sedikit turun, lalu naik lagi saat ia mengembuskan napas panjang. Kedua tangannya akhirnya bersilang di depan dada, memeluk dirinya sendiri seolah ada sesuatu yang harus dipastikan tetap utuh.
“Semuanya baik-baik saja,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
Ia tidak tahu apakah kalimat itu ditujukan pada dirinya atau pada pagi itu sendiri.
Beberapa menit kemudian, Nagisa sudah berada di dalam taksi.
Mobil itu meluncur melewati jalanan kota yang mulai ramai. Di balik kaca, gedung-gedung tinggi berdiri seperti dinding besar yang tidak benar-benar peduli pada siapa pun yang melewatinya. Nagisa duduk tegak di kursi belakang, mengenakan setelan yang membuatnya tampak lebih dewasa daripada usianya. Riasan wajahnya juga lebih rapi dari biasanya, tipis namun cukup untuk menutup wajah lelah yang tidak ingin ia tampilkan. Rambutnya tergerai, disisir rapi ke belakang telinga, dan tas tangannya tergantung di lengan dengan genggaman santai yang dipaksakan.
Taksi berhenti di depan salah satu gedung pencakar langit.
Nagisa menoleh ke atas.
Lantai-lantai kaca itu memantulkan langit pagi dengan dingin. Gedung itu terlalu tinggi untuk sesuatu yang dimiliki manusia biasa, dan terlalu bersih untuk tempat yang penuh hal-hal kotor yang disembunyikan di dalamnya.
Ia membayar taksi, turun, lalu berdiri sejenak di trotoar. Udara di depan gedung itu terasa lebih dingin daripada jalan lain. Nagisa menarik napas kecil sebelum akhirnya melangkah masuk.
Lobi utama menyambutnya dengan lantai mengilap dan aroma ruangan ber-AC yang terlalu formal. Resepsionis di meja depan mengangkat kepala saat melihatnya datang.
“Selamat pagi,” sapanya sopan. Senyumnya profesional, hangat secukupnya. “Apakah Anda ingin menemui Tuan Kobayashi?”
Nagisa mengangguk. “Iya.”
Resepsionis itu langsung mengambil telepon internal. Setelah beberapa kata singkat yang terdengar terlalu pelan untuk ia tangkap, ia mengangguk lagi dan tersenyum kepada Nagisa.
“Silakan, ruang pribadi beliau sudah siap menerima Anda.”
Nagisa membalas anggukan kecil itu, lalu berjalan ke arah lift. Sebelum ia benar-benar sampai, dua karyawan yang baru keluar dari koridor samping menoleh ke arahnya.
“Oh, Kobayashi-san,” salah satu dari mereka menyapa cepat, seolah sudah hafal siapa yang berhak dikenali di gedung itu. “Selamat pagi.”
Nagisa membalas singkat, “Pagi.”
Mereka melewatinya dengan sopan. Bagi orang-orang di gedung itu, putri bos mereka memang seharusnya dikenal. Nagisa tidak pernah suka bagian itu, tetapi ia juga sudah terlalu lama hidup bersama kenyataan tersebut untuk masih terkejut.
Lift datang.
Nagisa masuk, menekan tombol lantai atas, lalu menatap pantulan dirinya di dinding baja mengilap di dalam kabin. Wajahnya terlihat dewasa. Lebih dewasa dari yang ia rasakan. Kadang ia merasa dirinya seperti seseorang yang dipaksa tumbuh terlalu cepat agar bisa tampil layak di depan orang-orang yang tidak pernah benar-benar melihatnya.
Lift naik dengan lembut, nyaris tanpa suara.
Di lantai atas, ruang kantor pribadi ayahnya menunggu.
Di sisi lain kota, Ako sedang tertawa keras di sebuah kafe.
Suasana di meja mereka jauh lebih ringan daripada pagi Nagisa. Ada tiga teman yang duduk bersama, salah satunya sedang bercerita tentang profesor yang terlalu aneh, sementara yang lain menyela dengan komentar konyol. Ako, seperti biasa, adalah pusat energi yang membuat percakapan tidak pernah benar-benar diam. Ia mencondongkan tubuh, tertawa lepas, lalu mengangkat gelasnya saat ada lelucon yang cukup bodoh untuk dianggap lucu.
“Serius, dia benar-benar bilang begitu?” tanyanya sambil masih tertawa. “Astaga, itu bukan profesor biasa, itu bencana.”
“Kan aku bilang,” sahut salah satu temannya.
Ponsel Ako bergetar di atas meja. Ia melirik layar, lalu membaca pesan dari Nagisa.
Maaf, aku nggak bisa ikut ke kafe hari ini. Harus ke kantor ayahku.
Ako langsung membalas tanpa banyak pikir.
Santai aja. Nggak apa-apa.