Nagisa sudah duduk terlalu lama di kursi tunggu lantai 14 sampai ujung-ujung kakinya mulai terasa kebas.
Lorong di depan kantor ayahnya itu bersih, terlalu bersih, dengan karpet abu-abu yang menelan suara langkah orang. Di sisi kanan ada deretan kursi tunggu berlapis kulit sintetis yang dingin, dan di sisi kiri ada kaca bening yang memantulkan langit siang dari ketinggian. Dari tempat duduknya, Nagisa bisa melihat sebagian kecil pusat kota yang tampak begitu jauh, seolah dunia di bawah sana bukan milik siapa pun yang sedang menunggu di sini.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk dari Ako.
Santai aja. Nggak apa-apa.
Tapi kalau pulang nanti, beliin jajan yang banyak.
Nagisa menatap layar itu sebentar, lalu mendesah kecil melalui hidung. Kalau Ako sedang bercanda, nadanya selalu terdengar seolah apa pun bisa diselesaikan dengan cemilan dan komentar usil. Nagisa mengetik jawaban singkat.
Iya. Nanti aku mampir supermarket.
Begitu pesan terkirim, perutnya baru terasa lapar.
Ia melirik jam. Masih beberapa menit sebelum resepsionis mengizinkannya masuk, dan ayahnya sedang menerima tamu dari mitra perusahaan. Informasi itu disampaikan dengan wajah profesional oleh perempuan resepsionis lantai 14, seolah ini perkara biasa. Bagi gedung seperti ini, mungkin memang biasa. Bagi Nagisa, menunggu di kursi itu selalu terasa seperti duduk di depan pintu yang bisa menentukan napas hidupnya untuk bulan berikutnya.
Ia menyentuh perutnya pelan, lalu berdiri.
Kalau harus menunggu lebih lama lagi, ia tidak mau melakukannya sambil menahan lapar.
Nagisa menghampiri meja resepsionis, membungkuk sopan, dan mengatakan bahwa ia akan turun sebentar untuk makan siang. Perempuan resepsionis itu mengangguk, tetap dengan senyum profesional yang nyaris tak bergerak.
“Tentu, Kobayashi-san. Silakan. Kami akan menghubungi Anda begitu Tuan Akihiko selesai menerima tamu.”
Nagisa membalas dengan anggukan yang sama sopannya, lalu masuk ke lift dan turun dua lantai ke area kantin kantor.
Kantin di gedung itu jauh lebih luas daripada kantin kampus. Meja-mejanya tersusun rapi, lampu putih menyorot permukaan stainless dan kaca, dan dari dapurnya tercium aroma sup, kopi, serta roti panggang. Ada banyak karyawan lalu-lalang sambil membawa nampan, berbicara dengan nada datar yang hanya sedikit lebih tinggi dari bisikan.
Nagisa membeli sandwich sederhana, membawanya ke meja dekat sisi jendela, lalu duduk sendirian.
Ia membuka bungkusnya pelan.
Sebelum suapan pertama sempat masuk ke mulutnya, suara dari salah satu sudut ruangan menarik perhatiannya.
Bukan karena mereka berbicara keras. Hanya karena kantin itu cukup tenang untuk suara gosip kecil terdengar sampai ke tempatnya.
“...katanya sekretarisnya diganti lagi.”
“Yang kemarin itu? Yang rambutnya pendek?”
“Iya. Udah dianggap terlalu tua, katanya.”
“Serius? Berapa kali itu?”
“Entahlah. Aku dengar sudah berkali-kali.”
Suara tawa pelan mengikuti kalimat itu, ditahan agar tidak terlalu jelas.
Nagisa menegang sedikit.
Ia tidak seharusnya mendengar. Namun justru karena tahu bahwa ia seharusnya tidak mendengar, telinganya malah tetap menangkap semuanya.
“Bos kita memang begitu,” ujar salah satu suara lagi, lebih rendah tapi tetap cukup jelas. “Kalau sudah tidak sesuai seleranya, dibuang.”
“Dibuat seperti barang.”
“Aku malah dengar dia sering pakai posisi perusahaan buat kepentingan sendiri.”
“Ya, itu sih dari dulu.”
“Kalau benar Ayase-san yang ambil alih, perusahaan ini pasti jauh lebih baik.”
“Aku juga dengar begitu.”
“Jangan bilang itu keras-keras. Nanti ada mata-mata.”
Mereka tertawa kecil lagi. Kali ini lebih santai, lebih menghakimi.
Nagisa membeku di tempat.
Nama itu.
Ayase.
Bukan ibunya. Bukan orang yang ia kenal. Tapi nama itu, yang disebut orang-orang dengan nada yakin seperti sesuatu yang sudah pasti lebih pantas memimpin gedung ini daripada ayahnya, terasa seperti jarum kecil yang menekan bagian dalam kepalanya. Napas Nagisa pelan-pelan mulai naik ke dada. Ia merasa perutnya mual.
Ada suara lain.
“Sudah tua juga dia. Kayaknya cuma nunggu digantikan aja.”
“Benar. Tapi orang yang nyebelin seperti itu biasanya paling lama bertahan.”
Nagisa berhenti menelan.
Rasanya sandwich di tangannya mendadak mengeras. Suasana kantin yang tadi biasa saja berubah asing. Lampu putih, piring, sendok, kaca jendela, semua terasa terlalu terang. Kepalanya menunduk sedikit, lalu perutnya mulai menegang dengan tidak nyaman.
Ia berdiri cepat.
Langkahnya awalnya tenang, tapi begitu sampai di lorong dekat toilet, ia mempercepatnya. Pintu kamar mandi dibuka, dan begitu masuk ke salah satu bilik, tubuhnya langsung membungkuk.
Ia muntah.
Satu kali. Lalu dua kali.
Perutnya terasa seperti ditarik ke atas. Tangan Nagisa menahan dinding bilik toilet, jari-jarinya dingin. Ia menutup mulut dengan lengan, bernapas tersengal, sementara pikirannya berputar tak menentu.