Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #13

Aku Hanya Ingin Bersenang-Senang

Saat Nagisa menarik tuas pintu apartemennya, bau kaldu instan langsung menyambut dari dapur kecil.

 Ako sedang berdiri di depan kompor mini dengan celemek seadanya, membungkuk sedikit saat mengaduk mie ramen yang baru saja mendidih. Rambutnya diikat dua, dan dengan ekspresi riang yang terlalu biasa untuk disebut serius, ia sedang mencari sumpit di samping wastafel. Begitu pintu terbuka, ia menoleh sambil tetap mengocok sendok sayurnya.

 Lalu ia membeku.

 Mie di panci hampir meluap. Sumpit yang tadi dipegangnya jatuh ke lantai.

 Nagisa berdiri di ambang pintu.

 Wajahnya sembab. Matanya merah. Rambutnya sedikit berantakan karena angin luar, dan bahunya turun seperti seseorang yang menahan beban terlalu lama baru saja sampai di rumah. Sepintas ia terlihat seperti habis terseret badai. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya berdiri, lalu menatap Ako dengan mata yang kosong, seolah tidak yakin apartemen ini benar-benar miliknya.

 Ako langsung melepas celemek itu.

 “Nagisa...?”

 Suara itu keluar pelan, kali ini tidak seperti biasanya. Ako hampir berjalan satu langkah sebelum Nagisa tiba-tiba menunduk. Bahu perempuan itu bergetar sekali, lalu dua kali, dan sebelum Ako sempat memikirkan apa pun, Nagisa sudah melangkah lebih dulu ke arahnya.

 Mereka saling bertabrakan dalam pelukan.

 Ako memeluknya dengan kedua tangan sekuat yang ia bisa, satu tangan menahan belakang kepala Nagisa, tangan satunya merapat di punggungnya. Tubuh Nagisa langsung kaku sesaat, lalu remuk di dalam pelukan itu. Tangisan yang tadi ditahan di jalan pecah begitu saja, berat, tersendat, dan begitu pilu sampai Ako ikut menahan napas.

 “Aku di sini,” gumam Ako, suaranya bergetar kecil. “Sudah, sudah. Nggak apa-apa.”

 Namun Nagisa hanya jadi menangis lebih keras.

 Seperti orang yang baru saja menahan runtuh di tempat yang salah, lalu akhirnya menemukan dinding untuk bersandar.

 Ako tidak bertanya apa pun. Ia hanya menggenggam Nagisa lebih erat, memindahkan mereka pelan-pelan ke sofa, menuntun sahabat masa kecilnya itu duduk tanpa melepaskan pelukan. Mie di dapur sudah tidak diperhatikan lagi. Uapnya masih naik, tapi sesi makan malam mereka berdua sudah berubah menjadi sesuatu yang lain sama sekali.

 Sore itu milik mereka berdua.

 Sahabat yang terluka, dan sahabat yang berusaha menahan air mata dengan pelukan.

 --o--

 Di saat yang hampir sama, di tempat yang jauh lebih terang dan bising, Naoya dan Mio sedang berdiri di depan pintu masuk taman hiburan.

 Mio menatap papan besar dengan mata berbinar-binar, sementara Naoya berdiri di sampingnya sambil memegang tiket. Langit cerah, angin cukup sejuk, dan suara tawa pengunjung lain bercampur dengan musik ceria dari pengeras suara yang dipasang di gerbang. Aroma gula kapas, popcorn, dan makanan goreng ringan memenuhi udara.

 Mio langsung menoleh pada Naoya.

 “Onii-chan, kita bener-bener jadi masuk?”

 Naoya menatapnya lalu mengangguk. “Iya. Kita udah di sini.”

 Mio nyaris memegang kedua pipinya sendiri saking senangnya. “Aku pikir Kakak bakal berubah pikiran.”

 “Kenapa aku harus berubah pikiran?”

 “Karena Kakak suka tempat yang terlalu tenang.”

 Naoya tersenyum samar. “Kalau aku berubah pikiran, kamu marah.”

 “Bukan marah.” Mio mengangkat telunjuk. “Aku kecewa.”

 “Itu sama aja.”

 “Nggak sama.”

 Naoya mendengus kecil, lalu mengacak rambut adiknya pelan. Mio langsung mengeluh dengan gerakan tubuh kecil yang dibuat-buat, tetapi senyumnya tidak hilang. Mereka melangkah masuk bersama, dan seketika suasana taman hiburan menelan mereka utuh.

 Wahana pertama yang mereka coba adalah roller coaster.

 Mio berdiri di antrean dengan wajah penuh semangat yang hampir terlalu besar untuk tubuhnya. Ia mengangkat kepala beberapa kali melihat rel besi yang berkelok di udara, lalu menoleh ke Naoya dengan mata bersinar.

 “Kakak nggak takut?”

 Naoya memandangi lintasan yang meluncur tajam ke bawah. “Sedikit.”

 “Sedikit?”

 “Sedikit.”

 Mio terkikik. “Aku akan pegang tangan Kakak kalau takut.”

 Naoya meliriknya. “Bukankah harusnya aku yang pegang tanganmu?”

 “Boleh juga.”

 Begitu giliran mereka tiba, kereta roller coaster berhenti dengan bunyi logam yang pendek. Naoya dan Mio duduk berdampingan, sabuk pengaman dipasang, dan sebelum wahana bergerak, Mio sudah menoleh cepat.

 “Onii-chan.”

 “Apa?”

 Mio tersenyum lebar. “Kalau kita mati, setidaknya mati bersama.”

 Naoya menatapnya kosong beberapa detik, lalu menghela napas. “Kamu bilangnya terlalu santai.”

 “Itu kan cuma bercanda.”

 “Candaan yang buruk.”

 Mio tertawa begitu keras sampai petugas di depan menoleh sebentar. Naoya tidak bisa menahan senyum juga, meski detik berikutnya kereta mulai naik ke puncak rel, dan tubuhnya mendadak menegang.

 Begitu jatuh, dunia seperti terlempar.

 Angin menghantam wajah mereka. Teriakan orang-orang lain bercampur jadi satu. Mio menjerit bukan karena takut, melainkan karena terlalu senang. Naoya sendiri akhirnya tertawa setelah kereta mulai meluncur turun lagi, tubuhnya terasa ringan sekaligus kacau. Di sampingnya, Mio mengangkat kedua tangan meski sudah dilarang dan berteriak, “LAGI!”

Naoya memejamkan mata sejenak ketika kereta berbelok tajam.

 Saat mereka turun, Mio hampir melompat dari kursi.

“Aku mau naik lagi!”

 “Tidak,” jawab Naoya cepat, masih tertawa pelan. “Seenggaknya beri aku waktu bernapas.”

 Mio menatapnya lalu tertawa lebih keras. “Kakak ternyata takut juga!”

 “Karena itu emang mengerikan.”

 “Nggak. Itu menyenangkan.”

Lihat selengkapnya