Lampu neon bertuliskan Salsa Diner menyala terang di tepi jalan malam itu, memantulkan warna kemerahan di permukaan aspal yang masih menyimpan sisa hujan sore. Dari luar, restoran itu tidak terlihat terlalu mewah. Hanya bangunan dua lantai dengan jendela kaca lebar, tirai tipis warna krem, dan papan menu bergambar pasta, pizza tipis, serta setangkup roti garlic yang tampak terlalu rapi untuk ukuran tempat makan pinggir jalan.
Namun justru di situlah letak hangatnya.
Begitu Nagisa berdiri di depan pintu kaca restoran itu, aroma yang keluar dari celah pintu langsung menyambutnya: mentega yang meleleh, bawang putih yang baru ditumis, saus tomat yang direbus lama, dan sesuatu yang mirip kaldu jamur. Ada juga bau kopi dan roti panggang yang samar-samar menggantung di udara malam, membuat perutnya yang sejak siang belum terisi layak terasa lebih sadar dari biasanya.
Nagisa memegangi tali tasnya erat-erat.
Ia mengenakan pakaian yang rapi namun sederhana—blus gelap, rok lurus, dan mantel tipis yang menutupi tubuhnya tanpa terlihat terlalu formal. Ia sudah berdiri beberapa detik di sana sebelum akhirnya menarik napas, lalu membuka pintu.
Lonceng kecil di atas daun pintu berbunyi pelan.
Di dalam, restoran itu lebih hangat dari yang ia bayangkan. Lampu kuning yang tidak terlalu terang menempel di langit-langit, memantul lembut di permukaan meja kayu yang dipoles. Sebagian kursi masih kosong, tapi ada beberapa pelanggan yang duduk tenang sambil makan malam. Suasana ramai secukupnya, tidak berisik, lebih seperti tempat yang memang biasa dipakai orang untuk melepas lelah setelah hari panjang.
Seorang perempuan berkaca mata di dekat meja kasir langsung mengangkat kepala.
“Selamat malam,” sapanya dengan nada profesional yang tetap ramah. “Kobayashi-san?”
Nagisa mengangguk kecil. “Iya.”
Perempuan itu tersenyum. “Silakan tunggu sebentar. Satoshi-san sedang bersiap, dan Emi-san juga sudah menunggu.”
Nagisa menunduk sopan lalu berjalan ke kursi tunggu yang diarahkan. Ia tidak benar-benar duduk seluruhnya; ia hanya menaruh tubuhnya di tepi kursi sambil menjaga punggung tetap tegak. Di meja kecil di depannya ada daftar menu, dan dari sana ia bisa melihat dapur terbuka di belakang. Api kompor menyala sebentar saat seseorang mengangkat wajan. Suara panci menyentuh logam terdengar jelas.
Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari area dapur.
Tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi ia membawa diri dengan santai. Apron yang ia kenakan sudah penuh noda saus kecil, dan wajahnya memperlihatkan orang yang terbiasa bekerja dengan ritme cepat tanpa kehilangan humor. Di belakangnya menyusul seorang wanita muda yang tampak sedikit lebih muda dari Nagisa, rambutnya diikat rapi dan seragam kerjanya terlihat bersih sekali. Mereka berdua mendekat dengan langkah yang tidak tergesa.
“Maaf menunggu,” kata pria itu sambil tersenyum. “Aku Satoshi. Pemilik tempat ini.”
Nagisa berdiri dan membungkuk. “Kobayashi Nagisa. Senang bertemu Anda.”
Wanita di sampingnya juga membungkuk. “Aku Emi. Kepala waitress di sini. Senang.”
“Saya juga senang,” jawab Nagisa singkat.
Satoshi mengangguk, lalu melirik jam di dinding seolah memastikan mereka masih punya waktu. “Kita bisa bicara di meja sana. Cukup santai saja.”
Nagisa mengikuti mereka ke salah satu meja di dekat jendela. Tempat itu agak terpisah dari pelanggan lain, cukup aman untuk wawancara singkat tanpa harus merasa sedang dipamerkan. Begitu mereka duduk, Satoshi menyandarkan lengan di sandaran kursi dan menatap Nagisa dengan wajah yang tidak mengintimidasi.
“Jadi,” katanya, “kamu cari kerja malam, ya?”
“Iya.”
“Kenapa malam?”
Nagisa menatap meja sebentar. Ia sudah menyiapkan jawaban dari rumah, tapi tetap saja pertanyaan sesederhana itu selalu terasa seperti pintu ke sesuatu yang tidak nyaman. Ia memilih kalimat yang jujur tanpa terlalu membuka diri.
“Karena siang saya masih ada kuliah dan penelitian akhir,” katanya. “Malam lebih fleksibel.”
Satoshi mengangguk pelan. Emi di sampingnya mencatat sesuatu di buku kecil. Ia tidak menatap Nagisa dengan cara yang menghakimi, hanya memperhatikan.
“Bisa kerja sampai larut?” tanya Emi.
“Bisa.”
“Shiftnya di sini kadang selesai lewat jam sepuluh malam. Kalau ada pelanggan ramai, bisa lebih lama.”
“Saya mengerti.”
Satoshi menatap Nagisa sebentar, lalu menggeser kursi sedikit. “Pernah kerja di restoran sebelumnya?”
“Belum,” jawab Nagisa jujur.
Emi mengangkat alis sedikit, tapi tidak terlihat terkejut. “Berarti semuanya baru.”
“Iya.”
“Kalau begitu, kamu siap belajar cepat?”
Nagisa mengangguk. “Saya mau.”
Satoshi tersenyum kecil. “Jawaban yang bagus.”
Nagisa tidak langsung merasa lega. Justru karena pertanyaan-pertanyaan mereka terdengar sederhana dan tidak menyudutkan, tubuhnya jadi lebih sadar bahwa ia sedang benar-benar dipertimbangkan. Bukan hanya sebagai nama di formulir, melainkan sebagai orang yang mungkin—jika cukup masuk akal—bisa dipakai bekerja di tempat ini.
Satoshi menyilangkan tangan di meja. “Kami butuh orang malam karena akhir-akhir ini ada beberapa pergantian shift. Restoran ini bukan tempat yang terlalu formal. Kami butuh yang rapi, cepat tanggap, dan tidak gampang hilang arah. Kalau kamu terlambat atau mendadak tidak masuk, itu jadi masalah.”
Nagisa mengangguk. “Saya paham.”
“Tidak cuma paham,” tambah Emi pelan. “Kami juga ingin orang yang bisa ngobrol normal dengan pelanggan. Tidak harus terlalu cerewet, tapi cukup ramah.”
Nagisa sempat diam sejenak, lalu menjawab, “Kalau itu, saya bisa mencoba.”
Satoshi menatapnya sebentar. “Kamu bilang ‘mencoba’.”
Nagisa menahan napas kecil. “Karena saya belum punya pengalaman. Tapi saya akan bertanggung jawab.”
Emi menutup bukunya sedikit. “Kenapa kamu ingin bekerja di sini?”
Pertanyaan itu membuat suasana ruangan terasa lebih tenang dari tadi. Bahkan dari dapur, suara alat masak terdengar seolah menjauh satu langkah.
Nagisa menatap kedua orang di depannya. Ia tahu tidak ada jawaban yang benar-benar sempurna. Terlalu jujur bisa membuka hal yang tidak perlu. Terlalu kabur justru membuatnya terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Jadi ia memilih kebenaran yang paling aman.
“Saya ingin mandiri,” katanya. “Selama ini saya terlalu bergantung pada uang keluarga. Sekarang saya ingin mulai menanggung kebutuhan sendiri.”
Satoshi tidak bereaksi besar, hanya mengangguk pelan. Emi menulis sesuatu lagi.
“Bisa dimengerti,” kata Satoshi. “Kalau begitu, kami mulai dari masa percobaan. Seminggu dulu. Shift malam.”
Nagisa menatap mereka cepat. “Seminggu?”
“Ya,” jawab Emi. “Kamu belajar sistemnya, kami lihat cara kerjamu.”
Satoshi menambahkan, “Kalau cocok, lanjut. Kalau tidak, kita berpisah baik-baik.”
Nagisa merasakan sesuatu di dadanya mengendur setengah langkah. Bukan lega penuh, tapi cukup untuk membuat napasnya sedikit lebih ringan.
“Baik,” katanya.
Emi menatapnya dengan senyum kecil. “Bagus. Kalau begitu, ikut aku sebentar. Aku tunjukkan dapur dan area kerja.”
Nagisa berdiri dan mengikuti Emi ke bagian belakang restoran.
Dapur Salsa Diner jauh lebih hidup daripada ruang makan di depannya.
Begitu melewati pintu ayun, udara berubah lebih hangat. Ada bunyi wajan, suara air mengalir, pisau yang memotong bahan, dan teriakan singkat yang saling bersahutan dengan ritme yang sudah jelas terbiasa. Lampu di sini lebih terang, dengan meja stainless yang mengilap dan rak-rak berisi bahan makanan yang ditata berlapis. Aroma mentega, saus krim, tomat, dan daging panggang bercampur begitu padat sampai Nagisa merasa langkahnya sedikit melambat untuk menyesuaikan diri.
Emi berjalan di depannya sambil menunjuk satu sisi dapur.
“Itu area plating,” katanya. “Kalau pesanan sudah selesai, ditaruh di sana. Jangan dekat-dekat kompor kalau belum terbiasa. Jun yang pegang sisi panas.”
Nagisa mengangguk, lalu melihat seorang pria dengan celemek abu-abu sedang sibuk memindahkan pasta dari panci ke piring. Ia tinggi, rambutnya sedikit berantakan, dan gerakannya cepat. Seolah tubuhnya sudah hafal urutan dapur tanpa harus banyak berpikir.
Emi memanggilnya, “Jun-san.”
Pria itu menoleh. “Apa?”
“Calon staf baru.”
Jun mengangkat pandang ke Nagisa, lalu menatap sebentar dengan wajah yang tidak terlalu ekspresif. “Oh.”
Emi segera memperkenalkan, “Ini Nagisa-san. Mulai kerja percobaan malam ini.”
Jun mengangguk singkat. “Lampu neon bertuliskan Salsa Diner menyala terang di tepi jalan malam itu, memantulkan warna kemerahan di permukaan aspal yang masih menyimpan sisa hujan sore. Dari luar, restoran itu tidak terlihat terlalu mewah. Hanya bangunan dua lantai dengan jendela kaca lebar, tirai tipis warna krem, dan papan menu bergambar pasta, pizza tipis, serta setangkup roti garlic yang tampak terlalu rapi untuk ukuran tempat makan pinggir jalan.
Namun justru di situlah letak hangatnya.
Begitu Nagisa berdiri di depan pintu kaca restoran itu, aroma yang keluar dari celah pintu langsung menyambutnya: mentega yang meleleh, bawang putih yang baru ditumis, saus tomat yang direbus lama, dan sesuatu yang mirip kaldu jamur. Ada juga bau kopi dan roti panggang yang samar-samar menggantung di udara malam, membuat perutnya yang sejak siang belum terisi layak terasa lebih sadar dari biasanya.