Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #15

Kebiasaan Baru

Pagi itu, apartemen Nagisa terasa terlalu sunyi untuk seseorang yang baru saja kehilangan satu sumber hidupnya.

 Bukan sunyi yang nyaman. Bukan sunyi yang bisa diisi dengan musik atau suara air mendidih. Sunyi yang ini lebih seperti ruangan yang mendadak kehilangan penyangga, lalu diam-diam menunggu sesuatu runtuh.

 Nagisa duduk di tepi kasur dengan ponsel di tangan, masih mengenakan kaus rumah yang kusut.

Tunjangan bulanan ditangguhkan. Dua bulan.

 Di samping kasur, selembar kertas catatan dari kuliah masih terbuka setengah, tidak terbaca lagi karena pikirannya sudah pecah ke arah lain sejak semalam.

 Nagisa mengembuskan napas panjang lalu menunduk.

 Ia tahu dirinya harus bergerak.

 Namun justru karena tahu itulah tubuhnya enggan. Kalau ia berdiri, berarti semua hal yang selama ini digantungkan pada uang dari ayahnya benar-benar harus dihadapi. Kalau ia mulai memikirkan biaya hidup, biaya kuliah, biaya makan, dan semua kebutuhan kecil yang biasanya tidak pernah perlu ia hitung satu per satu, kepalanya langsung terasa penuh.

 Pintu kamar diketuk dua kali.

 Nagisa menoleh.

 Tidak lama kemudian, tanpa menunggu jawaban, Ako masuk sambil membawa kantong plastik berisi roti dari minimarket. Rambut oranye gradient-nya masih sedikit berantakan, dan wajahnya menunjukkan ekspresi terlalu segar untuk pagi yang muram seperti ini.

 “Pagi,” katanya. Lalu, begitu melihat wajah Nagisa, ia langsung mengernyit. “...Kamu belum tidur lagi?”

 Nagisa menggeser ponselnya ke samping. “Aku udah bangun.”

 “Itu bukan jawaban.”

 “Tidak penting.”

 Ako menutup pintu lalu mendekat. Ia meletakkan roti-roti itu di meja kecil, lalu menatap Nagisa sebentar dengan wajah yang langsung menjadi lebih tenang. “Aku sudah tanya beberapa kenalan. Ada beberapa tempat yang butuh orang malam. Restoran, kafe, satu convenience store, dan satu tempat yang aku belum terlalu yakin.”

 Nagisa menatapnya sekilas. “Kamu serius cari banyak begitu?”

 “Ya, iya.” Ako mengangkat bahu. “Kamu nggak bisa duduk diam dan menunggu keajaiban, kan?”

 Nagisa tidak menjawab.

 Ako lanjut, kali ini lebih pelan. “Kamu bisa pilih yang jadwalnya paling masuk akal. Aku cuma bantu cari. Kalau cocok, ya bagus. Kalau nggak, cari yang lain.”

 Nagisa mengusap wajahnya. “Aku nggak pernah kerja sambilan.”

 “Aku tahu.”

 “Itu akan merepotkan.”

 “Semua hal pertama memang merepotkan.” Ako menjatuhkan diri di kursi kecil dekat meja. “Tapi kalau kamu terus menghindar, kamu cuma makin stres. Lagipula, kamu bilang mau mandiri.”

 Nagisa menoleh.

 Ako menatapnya lurus, tidak menggodanya kali ini. Hanya bicara sebagai teman yang sudah cukup lama tahu kapan Nagisa sedang terlalu keras pada dirinya sendiri.

 “Aku serius,” katanya. “Kalau kamu benar-benar mau lepas dari ketergantungan itu, ya mulai dari hal yang paling sederhana dulu.”

 Nagisa diam beberapa saat, lalu menatap keluar jendela.

 Ketika akhirnya ia menjawab, suaranya lebih kecil dari biasa. “Kalau aku salah memilih tempat?”

 “Kalau salah, pindah.”

 “Kalau aku nggak sanggup?”

 “Kalau nggak sanggup, bilang.”

 Nagisa memandang Ako lagi.

 Ako mengangkat ponselnya. “Tapi yang ini sepertinya bisa. Salsa Diner masih butuh staf malam. Aku sudah bicara dengan orang yang kenal pemiliknya. Mereka tidak terlalu formal. Jadi kalau kamu mau, kita coba tanya hari ini.”

 Nagisa menatap ponselnya sendiri sejenak. Nama restoran itu terdengar familiar, meski belum cukup dekat untuk disebut akrab. Ia teringat pernah mendengar Naoya menyebutnya sekali. Atau mungkin ia hanya membentuk hubungan itu sendiri di kepala karena tempat itu terdengar seperti salah satu titik kecil yang sejak awal diam-diam menggerakkan hidupnya.

 “Restoran Italia?” gumamnya.

 “Kurang lebih.”

 Nagisa menghela napas lalu mengangguk kecil. “Kalau begitu, coba saja.”

 Ako langsung tersenyum. “Nah. Itu baru jawaban yang enak didengar.”

 Nagisa tidak menanggapinya. Namun sesuatu di dalam dirinya sudah mulai bergerak. Bukan lega penuh. Hanya sekadar arah.

 Dan pagi itu, dari kamar yang terlalu sunyi, kebiasaan baru mulai disusun tanpa bentuk jelas.

 --o--

 Malam pertamanya di Salsa Diner terasa lebih panjang daripada yang ia bayangkan.

 Bahkan sebelum masuk, Nagisa sudah bisa merasakan perbedaan antara dirinya yang datang sebagai calon staf dan dirinya yang biasa datang sebagai pelanggan. Ada rasa canggung yang tidak bisa disembunyikan. Lampu neon di luar restoran, aroma mentega dan bawang putih dari pintu kaca, lalu suasana hangat di dalam ruangan—semuanya terasa seperti dunia yang sudah berjalan tanpa menunggunya.

 Emi yang menyambutnya di awal shift malam tampak sama seperti saat wawancara: rapi, sigap, dan terlalu cekatan untuk disebut santai. Ia langsung memperkenalkan alur kerja dasar, sambil sesekali menunjuk area kasir, meja layanan, dan jalur dapur.

 “Kalau pelanggan datang, sapa dulu,” kata Emi. “Kalau mereka sudah duduk, catat pesanan. Kalau kamu bingung, tanya. Jangan pura-pura tahu.”

 Nagisa mengangguk.

Di sisi dapur, Jun terlihat seperti orang yang dari luar tidak banyak bicara, tapi dari cara ia bergerak sudah jelas bahwa ia memegang bagian paling penting dari malam itu. Haru di area minuman justru lebih mudah tersenyum. Ia memindahkan gelas, menuangkan minuman, dan sesekali memberi komentar ringan yang membuat suasana tidak terlalu kaku.

 Nagisa memulai dengan mengantar menu ke meja pelanggan.

 Langkah pertamanya masih sedikit kaku. Ia terlalu sadar pada posisi tangan, kecepatan berbalik, cara menunduk saat menyapa, dan kapan harus menarik napas. Di meja kedua, ia sempat lupa mencatat satu permintaan tambahan. Di meja ketiga, ia hampir menumpahkan air karena salah memegang baki.

Lihat selengkapnya