Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #16

Naoya

Gazebo di taman kampus itu tidak pernah benar-benar ramai, tapi siang itu justru terasa lebih sepi dari biasanya.

 Angin yang lewat di antara dedaunan membuat suara daun saling bergesek terdengar pelan, seperti seseorang yang sengaja merendahkan napas. Meja kayu di tengah gazebo memantulkan sedikit cahaya sore, dan bangku-bangkunya masih hangat oleh matahari yang tadi sempat jatuh terlalu lama di sana. Dari kejauhan, gedung fakultas berdiri tenang dengan jendela-jendelanya yang berkilau pucat.

 Nagisa duduk dengan satu kaki disilangkan, membiarkan tasnya tergeletak di samping bangku. Di depannya, Naoya sedang sibuk menulis sesuatu di lembar catatan kecil sambil sesekali mencondongkan tubuh ke depan untuk memastikan angka-angka yang ia hitung tidak salah.

 Ako belum datang. Katanya ia masih harus bimbingan mandiri dulu.

 Nagisa sebenarnya tidak keberatan menunggu. Yang membuatnya sulit diam justru bukan waktu, melainkan orang di hadapannya.

 Naoya menatap catatannya dengan sangat serius, alisnya sedikit turun, bibirnya tipis, dan pena di tangannya bergerak cepat tetapi tetap rapi. Ia menulis angka, lalu menggarisbawahi sesuatu, lalu menoleh ke Nagisa.

 “Jadi, kalau kamu kerja malam di Salsa Diner,” katanya sambil menunjuk baris yang baru ia tulis, “dan kamu ambil shift penuh satu minggu, kira-kira kamu dapat sekitar delapan ribu yen per hari.”

 Nagisa mengangguk pelan.

 Naoya melanjutkan, suaranya tenang dan tidak tergesa, seolah ia sedang menjelaskan sesuatu yang benar-benar penting. “Itu bagus kalau dipakai untuk kebutuhan dasar. Tapi kalau kamu tetap tinggal di apartemen yang sama sekarang, pengeluaranmu akan berat. Sewa, listrik, air, internet, bahan makanan, lalu transport. Belum termasuk kalau ada hari kamu masuk lebih lambat atau terpaksa istirahat.”

 Ia menggeser catatannya sedikit ke arah Nagisa, lalu mulai menghitung lagi dengan ujung pena.

 “Sebaiknya kamu pisahkan dulu. Nomor satu: biaya menetap. Nomor dua: makan. Nomor tiga: tabungan darurat. Jangan campur semuanya. Kalau semuanya ditaruh di satu tempat, nanti kamu sendiri yang bingung kenapa uangnya habis.”

 Nagisa menatap tulisan-tulisan itu tanpa benar-benar membaca. Bukan karena ia tidak mengerti, tapi karena yang membuatnya sulit fokus justru wajah orang yang berbicara.

 Naoya tampak serius sekali saat menjelaskan hal seperti itu.

 Serius, tapi tidak menggurui. Ia seperti benar-benar sedang memikirkan hidupnya sendiri bersama hidup orang lain, lalu menyusun jalan yang paling masuk akal agar semuanya tidak runtuh. Ada sesuatu yang aneh di sana. Aneh dalam arti yang tidak membuat Nagisa takut. Justru sebaliknya.

 Ia mulai terpikat sejak beberapa detik yang lalu, atau mungkin sejak lebih lama dari itu.

 Bukan pada angka-angka itu. Bukan pada daftar kebutuhan bulanan. Melainkan pada wajah Naoya yang terlihat tenang saat bicara, pada cara matanya sesekali turun ke kertas lalu naik lagi ke dirinya seakan memastikan ia tetap mengikuti, pada nada suaranya yang lembut tapi tidak pernah ragu.

 Nagisa mendadak sadar kalau dirinya sedang menatap Naoya terlalu lama.

 Wajah Naoya jadi lebih menarik daripada apa yang ia katakan.

 Itu kesimpulan yang datang begitu saja, tanpa izin. Dan justru karena tidak diundang, kesimpulan itu terasa jauh lebih jujur.

 Naoya masih berbicara. “Kalau kamu bisa dapat jumlah seperti itu secara rutin, dan kamu berhasil cari apartemen yang lebih murah, pengeluaranmu akan jauh lebih aman. Aku bisa bantu cari info. Ada beberapa situs yang bisa dibandingkan. Jangan langsung ambil yang pertama kelihatan bagus. Lihat akses stasiun, jarak ke tempat kerja, dan biaya tambahan.”

 Nagisa memandangnya diam-diam.

 Naoya tampak seperti orang yang benar-benar serius membantu. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dianggap baik, tapi karena memang sedang memikirkan apa yang paling masuk akal untuknya. Entah kenapa, hal itu terasa lebih besar dari bantuan itu sendiri.

 Naoya menggeser lembar catatan lagi. “Untuk makanan juga perlu dikontrol. Jangan cuma mikir nasi dan lauk. Camilan juga harus dihitung. Kalau tidak, pengeluaran kecil justru yang paling sering bocor.”

 Nagisa masih menatapnya.

 Di kepalanya, angka-angka itu semestinya menjadi informasi penting. Tapi yang lebih dulu tertangkap justru gerak kecil tangan Naoya saat ia mengetuk ujung pena ke kertas, cara bahunya sedikit maju saat ia ingin memastikan Nagisa paham, dan bibirnya yang bergerak pelan ketika menyusun kalimat yang tepat. Ia merasa bodoh karena mendadak memikirkan semua detail itu, tapi ia juga tidak bisa berhenti.

 Nagisa menunduk sedikit, berusaha menyembunyikan ekspresi yang mungkin terlalu lembut.

 “Aku dengar,” jawabnya pelan.

 Naoya menatapnya singkat. “Benarkah?”

 “Iya.”

 “Kalau begitu, coba ulang bagian paling penting.”

 Nagisa mengerjap. “Bagian paling penting?”

 “Iya.”

 Nagisa membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sebenarnya ia ingat isi penjelasan Naoya tadi. Hanya saja, anehnya, kepalanya tidak mau menyusun ulang kata-kata itu. Yang muncul justru wajah Naoya yang sedikit condong ke depan, seolah benar-benar percaya bahwa dirinya bisa membantu.

 “Ada apa?” tanya Naoya, terdengar agak khawatir. “Kamu merasa ini susah dipahami?”

 Nagisa buru-buru menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”

 Naoya menatapnya beberapa detik. Lalu ia mengangguk kecil dan melanjutkan, tetap sabar. “Kalau begitu, intinya: kamu harus punya anggaran bulanan. Minimal. Jangan terlalu longgar. Dan kalau bisa, apartemen yang lebih murah akan sangat membantu. Aku akan cari beberapa opsi yang dekat dengan stasiun. Jangan ambil yang terlalu jauh dari kerja malammu, nanti kamu capek sendiri.”

 Nagisa mengangguk.

 Tapi lagi-lagi yang tertinggal bukan angka. Yang tertinggal justru wajah Naoya saat ia berbicara, seolah seluruh penjelasan itu datang bukan dari kebiasaan mengajar, melainkan dari kebiasaan memikirkan bagaimana cara orang lain tidak tersesat.

 Nagisa menatapnya tanpa berkedip.

 Ia tidak mengerti kenapa dirinya jadi begini.

 Kenapa hanya karena seseorang menjelaskan hal sederhana tentang uang, ia justru merasa bagian dalam dadanya seperti ditarik pelan. Kenapa mata Naoya yang serius itu terasa lebih sulit dilepas daripada kalimat yang sedang diucapkannya. Kenapa ia mendadak ingin terus mendengar suara itu, bahkan kalau isinya cuma angka, daftar biaya tetap, atau saran mencari apartemen yang lebih murah.

 “Naoya,” panggilnya tiba-tiba.

 Naoya menoleh. “Ya?”

 Nagisa terdiam sebentar, lalu berkata, “Kamu serius sekali.”

 Naoya tampak sedikit bingung. “Soal apa?”

Lihat selengkapnya