Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #17

Keluarga Baru

Pada minggu kedua, Nagisa mulai mengenali pola-pola kecil yang sebelumnya tidak ia sadari.

 Pelanggan di Salsa Diner ternyata punya kebiasaan yang mudah ditebak kalau sudah beberapa kali datang. Keluarga muda yang duduk di meja dekat jendela selalu memesan sup hangat lebih dulu, lalu baru memilih pasta. Seorang lelaki tua berkacamata yang datang sendirian setiap Kamis malam hampir selalu memesan kopi hitam dan sandwich keju panggang, lalu akan tersenyum kecil setiap kali Nagisa menaruh tisu tambahan tanpa diminta. Sepasang mahasiswa yang datang setelah jam delapan selalu memesan menu yang sama, lalu saling menukar garpu seperti kebiasaan yang sudah jadi sandi rahasia sendiri.

 Nagisa tidak langsung akrab dengan semuanya. Ia hanya menghafal pelan-pelan, lalu menyebut pesanan dengan cara yang membuat pelanggan merasa diingat.

 “Seperti biasa, salad jamur untuk Anda?” tanyanya pada lelaki tua berkacamata itu pada suatu malam.

 Lelaki itu langsung menatapnya, lalu tersenyum sampai sudut matanya mengerut. “Kamu ingat juga?”

 Nagisa menunduk sopan sambil menahan rasa hangat yang naik ke pipinya. “Sedikit.”

 “Bagus,” kata lelaki itu ringan. “Kalau begitu, aku mulai merasa seperti pelanggan tetap sungguhan.”

 Nada itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Nagisa diam sebentar sebelum membalas, “Anda memang pelanggan tetap.”

Kalimat itu membuat lelaki tua itu tertawa pendek. Bukan tertawa besar. Hanya bunyi tawa kecil yang terdengar puas, seolah malamnya baru saja diberi tempat duduk yang nyaman.

 Di meja lain, keluarga muda yang biasa datang dengan dua anak juga mulai hafal padanya.

 Si anak perempuan sering melambaikan tangan begitu melihat Nagisa mendekat membawa menu.

 “Nagisa-neechan!” panggilnya sekali, entah sejak kapan ia mulai memanggil begitu.

 Nagisa sempat berhenti beberapa detik pertama kali mendengarnya. Setelah itu, ia membalas dengan anggukan kecil dan senyum yang tidak ia pakai kepada orang asing.

 Malam demi malam, hal-hal kecil itu tumbuh tanpa suara.

 Panggilan nama. Senyum singkat. Cara pelanggan menunggu tanpa canggung ketika Nagisa menulis pesanan. Cara ia mulai tahu kapan harus meletakkan air tambahan tanpa diminta. Cara beberapa pelanggan tetap mengangguk ke arahnya setiap kali datang, seolah kehadirannya sudah termasuk bagian dari suasana restoran.

 

Awalnya Nagisa menganggap semua itu hanya kebiasaan kerja.

 Lalu ia menyadari, pelan-pelan, bahwa ia mulai menunggu hal-hal kecil itu juga.

 --o--

 Di malam yang lain, setelah restoran tutup dan pintu depan sudah dikunci, suasana Salsa Diner berubah sepenuhnya.

 Lampu di ruang makan diredupkan sebagian. Kursi-kursi sudah dinaikkan ke atas meja. Lantai dibersihkan dari remah-remah kecil dan sisa saus. Dapur yang tadi riuh kini tinggal mengeluarkan bunyi logam ringan dan suara air yang mengalir dari bak cuci. Aroma mentega, kopi, dan tomat masih bertahan di udara, tapi kali ini terasa lebih lembut, seperti jejak dari hari yang sudah selesai.

 Emi membawa beberapa bungkusan makanan ke meja staf.

 “Yang ini untuk Jun,” katanya sambil meletakkan satu kotak nasi. “Dan yang itu untuk Haru. Jangan ditukar.”

 Haru, yang sedang mengelap tangannya dengan handuk kecil, langsung menyeringai. “Aku tidak berniat mencuri milik Jun.”

 Jun menoleh sambil mendengus. “Bagus.”

 Satoshi keluar dari belakang dapur dengan dua gelas teh hangat. Ia menaruhnya di meja, lalu melihat sekeliling staf shift malam yang mulai berkumpul.

 “Sudah selesai?” tanyanya.

 Emi mengangguk. “Iya. Tinggal Nagisa dan aku yang masih beres-beres sedikit.”

 Satoshi menatap Nagisa sebentar. “Kalau kamu lapar, makan dulu. Jangan tunggu sampai pingsan.”

 Nagisa, yang masih melepas apron sambil berdiri dekat kasir, menunduk sopan. “Baik.”

 Emi meliriknya dan mengangkat alis. “Kamu tadi belum makan, kan?”

 “Belum terlalu lapar.”

 Itu kebohongan kecil. Tapi Satoshi langsung tahu.

 “Kalau begitu, makan sekarang.” Nada suaranya tidak keras. Justru terlalu tenang untuk ditolak. “Kalau nanti kamu kerja lagi dengan perut kosong, tidak ada gunanya.”

 Nagisa diam sejenak, lalu mengangguk.

 Ia duduk di meja staf bersama mereka, agak kaku di awal. Namun dalam beberapa minggu terakhir, meja itu sudah mulai terasa tidak asing. Tidak sepenuhnya rumah, tetapi juga tidak lagi seperti tempat yang harus dijaga jaraknya.

 Jun menyerahkan kotak makan dari sisi kiri meja.

 “Makan yang hangat,” katanya singkat.

 Nagisa menerima kotak itu. “Terima kasih.”

 Haru sudah lebih dulu membuka bungkus makanannya, lalu menatap Nagisa dengan ekspresi ringan. “Hari ini kamu cepat.”

 Nagisa menoleh. “Cepat?”

 “Cara kamu mengantar pesanan.”

 Emi langsung mengangguk. “Iya, aku juga lihat. Awalnya kamu sering berhenti sebentar kalau pindah meja. Sekarang sudah lebih lancar.”

 Nagisa memandang mereka satu per satu. Sementara ia makan pelan, pembicaraan di meja staf mengalir tanpa paksaan. Haru mengeluh soal pelanggan yang salah menyebut menu. Jun, yang biasanya tidak banyak bicara, menanggapinya dengan kalimat pendek yang membuat Haru mendecak. Satoshi sesekali ikut menimpali, terutama kalau ada masalah stok bahan atau pesanan yang terlalu mendadak.

 Nagisa lebih banyak mendengar daripada bicara. Tapi mendengar mereka begitu saja sudah terasa menyenangkan.

 Beberapa menit kemudian, Emilah yang pertama kali memecah keheningan kecil itu.

 “Ngomong-ngomong,” katanya sambil menyuap makanannya, “kamu sudah hafal pelanggan keluarga yang tadi?”

 Nagisa mengangguk kecil. “Yang anak perempuannya suka pesan sup dulu?”

 Emi langsung tersenyum. “Nah, iya. Mereka tadi juga bertanya soalmu.”

 Nagisa berkedip. “Soal saya?”

 “Ya.” Emi memiringkan kepala. “Katanya kamu selalu sopan dan cepat tanggap. Sang ibu bilang kamu kelihatan seperti anak yang bisa diandalkan.”

 Nagisa terdiam.

 Satoshi menyandarkan siku di meja. “Kalau pelanggan bilang begitu, biasanya berarti mereka nyaman.”

 Haru menambahkan, “Dan kalau pelanggan nyaman, berarti kamu memang sudah masuk ke ritme restoran.”

 Nagisa menunduk pelan ke kotak makan di tangannya. Ada rasa aneh yang hangat bergerak di dadanya. Bukan pujian besar. Bukan juga kejutan dramatis. Hanya pengakuan kecil yang datang dari luar, dari orang-orang yang tidak punya kepentingan apa pun selain datang untuk makan malam.

 Itu justru yang membuatnya percaya.

 Ia menatap meja di depannya, lalu mendengus kecil hampir tidak terdengar. “Saya masih sering salah.”

 Emi langsung menatapnya. “Semua orang salah.”

 “Tidak sesering saya.”

 “Ya, tapi kamu juga belajar lebih cepat.”

 Jun mengangguk pelan. “Betul.”

 Satoshi menatap Nagisa sejenak, lalu berkata, “Yang penting bukan tidak salah. Yang penting tahu kapan harus memperbaiki.”

 Nagisa mengangkat kepala sedikit.

 Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuatnya menahan napas sebentar. Ia menunduk lagi, lalu memegang sendoknya lebih erat. Ada beberapa hal yang belum selesai di hidupnya. Uang bulanan yang dihentikan. Tunjangan yang digantung. Pikiran tentang ayahnya yang selalu seperti ruangan tertutup. Namun di meja staf yang sederhana ini, ia merasakan sesuatu yang lebih mudah dipegang daripada semua itu.

 Rasa diterima.

 Dan rasa itu tidak datang dengan syarat yang menekan.

 --o--

Lihat selengkapnya