Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #18

Kenapa Harus Kakak

Pagi itu, beranda rumah tua mereka terasa lebih terang dari biasanya.

 Naoya berdiri di dekat pintu depan dengan kemeja yang sudah dirapikan, tas selempang di bahu, dan selembar catatan kecil yang penuh coretan nama apartemen, kontrakan, dan sharehouse yang semalam ia susun sampai larut. Ada angka-angka biaya sewa, akses ke stasiun, keterangan kamar, dan beberapa catatan singkat tentang fasilitas dasar. Ia mengecek semuanya sekali lagi, lalu memasukkan pulpen ke saku.

 Kali ini ia tidak punya tujuan lain selain bergerak.

 Tidak ada kelas pagi yang mendesak. Tidak ada urusan kampus. Ia memang sengaja menyisihkan hari itu untuk berkeliling, mencari informasi yang paling masuk akal buat Nagisa. Apartemen yang lebih murah. Kontrakan yang masih bisa ditanggung. Bahkan sharehouse kalau memang opsi lain terlalu berat. Ia tidak tahu mana yang akan paling cocok, tapi setidaknya ia ingin melihat sendiri, bukan hanya menebak dari layar ponsel.

 Di belakangnya, dari area ruang dalam, terdengar suara kecil yang familiar.

 Mio berdiri di karpet dekat pintu depan sambil menjilat gagang es krim yang hampir habis. Ia mengenakan kaus rumah longgar dan rambutnya diikat santai, seperti orang yang sengaja membiarkan pagi lewat tanpa terburu-buru. Namun begitu melihat Naoya sedang memeriksa barang bawaan sekali lagi, ia mendekat beberapa langkah.

 “Naoya-nii mau pergi jauh?” tanyanya ringan.

 “Keliling kota sebentar,” jawab Naoya sambil menatap catatannya. “Aku mau cari informasi tempat tinggal yang lebih terjangkau.”

 Mio mengedip. “Buat Nagisa?”

 Naoya menoleh dan mengangguk. “Iya.”

 Mio diam sesaat.

 Naoya tidak langsung menyadari perubahan kecil di wajah adiknya itu. Hanya sekilas, sangat cepat, seperti awan tipis yang lewat di depan matahari. Mio menatapnya dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya bisa disebut marah atau sedih. Hanya kosong sedikit di balik senyum manis yang biasa ia pakai.

 “Serius sekali,” gumam Mio.

 Naoya mengangkat alis. “Kalau aku tidak serius, nanti kamu bilang aku setengah-setengah.”

 Mio mendengus kecil, lalu berjalan mendekat. Begitu sampai di depan Naoya, ia menempelkan tubuhnya pada lengan kakaknya dan meraih sisi lengannya dengan kedua tangan. Pelukannya kecil, manja, dan hangat. Terlalu hangat untuk orang yang sedang bertanya, terlalu erat untuk sekadar bercanda.

 Naoya menatapnya sebentar. “Kenapa?”

 Mio menggesek pipinya ke bahu Naoya seperlunya, lalu bicara dengan suara yang sengaja dibuat ringan. “Bukan apa-apa. Aku cuma mau tahu... kenapa Kakak sampai segitunya menolong orang yang belum lama dikenal?”

 Naoya diam sebentar.

 Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi ada semacam berat yang tak biasa di dalamnya. Naoya menghela napas kecil, lalu menoleh pelan ke arah Mio.

 “Karena dia butuh bantuan,” katanya. “Dan aku bisa bantu.”

 Mio tidak langsung menjawab.

 Sementara itu, tangannya masih menggenggam lengan Naoya. Jarinya sempat mengencang sebentar, lalu melunak lagi. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang ingin bertanya lebih jauh. Kenapa harus Naoya? Kenapa harus orang itu? Kenapa harus Nagisa? Tapi pertanyaan yang lebih jujur dari itu justru terasa terlalu berbahaya untuk keluar.

 Mio menahan semuanya di tenggorokan.

 Lalu, seperti biasa, ia menutupnya dengan wajah kecil yang manis.

Lihat selengkapnya