Pukul 20.31, Salsa Diner sudah berada di jam yang paling sibuk.
Lampu kuning hangat di dalam restoran memantul di permukaan meja kayu, sementara suara pelanggan bercampur dengan bunyi sendok yang sesekali menyentuh gelas dan panggilan singkat dari dapur. Weekend rush memang selalu punya cara untuk membuat tempat seperti ini terasa lebih hidup dari biasanya. Ada keluarga yang datang lengkap, ada pasangan muda yang duduk berdekatan sambil menunduk pada menu, ada pula rombongan kecil mahasiswa yang memesan makanan dengan wajah terlalu senang seolah malam minggu adalah alasan cukup untuk menunda semua kesulitan hidup sampai besok.
Di tengah suasana itu, Naoya masuk bersama Ako dan Mio.
Mio lebih dulu menoleh ke papan menu dengan antusias yang hampir meledak. Ako yang berjalan di sampingnya langsung menyambut ruangan dengan suara yang sedikit terlalu keras untuk restoran, lalu buru-buru menahan diri saat beberapa pelanggan menoleh.
“Wah, ramai sekali,” bisiknya dengan gaya yang sama sekali tidak benar-benar pelan.
Mio terkikik. “Karena ini malam minggu.”
“Benar juga.” Ako menyelipkan tangan ke pinggang, lalu melihat ke sekeliling sambil pura-pura menilai tempat itu seperti kritikus restoran. “Kalau tempat ini penuh begini, berarti memang enak. Atau orang-orang Tokyo memang sangat lapar.”
“Dua-duanya,” sahut Mio cepat.
Naoya berdiri di antara mereka berdua sambil mengamati alur meja kosong. Ia tidak ikut larut dalam kegaduhan kecil itu, tapi sudut bibirnya pelan-pelan naik saat melihat keduanya sudah saling menimpali seperti orang yang sudah lama kenal. Aneh. Cepat sekali. Mungkin karena Mio memang mudah menempel pada orang yang membuatnya merasa nyaman, sementara Ako memang tipe yang seolah bisa memulai percakapan dengan siapa pun tanpa banyak syarat.
Mereka akhirnya memilih sebuah meja kosong di dekat jendela yang agak terpisah dari area jalan utama.
Begitu duduk, Mio langsung menaruh dagunya di atas tangan, sementara Ako sedang tertawa kecil mendengar sesuatu yang barangkali baru saja dikatakan Mio. Di atas meja, Mio menaruh kantong kecil berisi snack yang tadi ia bawa dari rumah.
“Aku bawa ini,” kata Mio sambil menggeser kantong itu ke tengah meja. “Buat Nagisa kalau dia selesai shift nanti.”
Ako langsung menoleh. “Wah, kamu baik sekali.”
Mio membusungkan dada kecil. “Tentu.”
“Kalau begitu aku juga harus terlihat baik.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau kalah dari adik kecil Naoya.”
Mio terkikik lagi.
Naoya menatap mereka sebentar, lalu duduk di kursi paling dekat dengan lorong. Ia membuka menu untuk memastikan pesanan mereka bertiga tidak terlalu berat bagi Nagisa nanti. Kalau malam sedang ramai begini, sebaiknya ia tidak memesan terlalu banyak. Ia akhirnya memilih beberapa makanan yang mudah dibagi, lalu mencatatnya di ponsel sebelum memanggil pelayan yang sedang lewat.
Ketika seorang waitress mendekat ke meja mereka, Naoya menyebutkan pesanan mereka dengan jelas dan sopan. Mio menambahkan minuman yang ingin ia coba, sementara Ako—yang jelas tidak mau kalah—ikut menyodorkan satu dessert tambahan dengan alasan yang sangat tidak perlu.
“Aku juga mau ini,” katanya sambil menunjuk satu menu manis. “Supaya ada energi untuk ngobrol.”
Naoya mengernyit kecil. “Kamu datang ke sini memang berniat membuat restoran ini rugi.”
“Aku datang untuk memperkaya suasana.”
“Dengan kalap makan.”
“Benar sekali.”
Mio menutup mulut sambil tertawa. “Ako selalu lucu.”
“Aku tahu.”
Naoya menghela napas kecil, lalu berkata pada pelayan, “Itu saja dulu.”
Waitress itu menuliskan catatan terakhirnya, lalu mengangguk ramah. Namun sebelum pelayan itu sempat berbalik pergi, Naoya menahan langkahnya sebentar.
“Oh iya, sekalian permisi,” kata Naoya sopan. “Toilet di sebelah mana, ya?”
Waitress itu langsung tersenyum dan menunjuk arah koridor kecil di sisi kanan mereka. “Lewat koridor kecil di sebelah sana, lalu belok kiri.”
“Terima kasih.”
Pelayan itu membungkuk sedikit, lalu melangkah pergi menuju area dapur untuk memasukkan pesanan mereka.
Setelah itu, Ako dan Mio kembali melanjutkan perbincangan mereka yang sempat terpotong. Entah bagaimana, mereka cepat sekali klop. Ako menceritakan hal-hal kecil dari kampus, Mio membalas dengan komentar yang kadang terlalu polos, kadang justru terlalu tajam untuk anak enam belas tahun. Naoya mendengarkan sambil sesekali menimpali, tapi sebagian besar hanya memperhatikan bagaimana adiknya tampak nyaman, dan bagaimana Ako bisa menanggapi Mio tanpa menganggapnya merepotkan.
Pada beberapa titik, Naoya sempat merasa ada yang janggal.