Mereka hampir sampai rumah ketika jalan kecil di depan kompleks itu mulai berubah jadi lorong yang lebih sunyi.
Lampu-lampu rumah di kanan kiri menyala lembut, memantulkan warna kuning ke permukaan aspal yang gelap. Naoya dan Mio berjalan berdampingan tanpa tergesa. Setelah malam yang ramai di Salsa Diner, tubuh mereka sama-sama terasa sedikit lelah, tapi kelelahan itu bukan jenis yang membuat langkah jadi berat. Lebih mirip kelelahan yang pelan-pelan menempel setelah hati dipakai terlalu banyak tertawa.
Mio masih bercerita tentang semua omongan Ako yang tadi sempat keluar saat Naoya ke kamar mandi.
“Aku hampir nggak bisa menahan muka,” katanya sambil tertawa sendiri. “Ako-san benar-benar bilang kalau dia lebih cocok jadi pelanggan tetap. Terus dia juga sempat bilang kalau makanan di sini enak karena semua orang kelihatan lapar sekali.”
Naoya menatap jalan di depan sambil mendengarkan, lalu akhirnya ikut tertawa.
“Dia memang selalu bicara seenaknya.”
“Nggak seenaknya. Itu namanya ekspresif,” Mio membela dengan nada sok serius.
Naoya menoleh sebentar. “Kalau begitu kamu juga ekspresif.”
Mio langsung mengangkat dagu. “Tentu saja. Aku dan Ako-san sama-sama berbakat.”
“Bakat apa?”
“Bakat membuat orang lain capek.”
Naoya mengeluarkan tawa pendek, lalu menggelengkan kepala. Jalan di depan mereka terasa lebih hangat dari biasanya, seolah lampu-lampu rumah yang berjajar di kanan kiri sengaja dinyalakan untuk menyambut mereka pulang. Mio terus mengoceh, menirukan sebagian besar cara Ako bercanda, memelesetkan satu dua kalimat dengan gaya yang berlebihan sampai Naoya kembali tertawa.
Namun di tengah semua itu, wajah Nagisa tadi mendadak muncul lagi di kepala Naoya.
Saat ia menopang tubuh perempuan itu di koridor restoran, saat wajahnya memerah sangat cepat, saat matanya membesar karena kaget, saat napasnya yang pendek dan jarak di antara mereka yang terlalu dekat—semuanya datang kembali tanpa diundang. Naoya sempat melambat satu langkah, lalu menatap ke depan lagi seolah mencoba menaruh kembali ingatan itu di tempat yang lebih tenang.
“Makasih ya,” kata Mio tiba-tiba.
Naoya berkedip. “Untuk apa?”
“Karena ketawa sama aku.”
Naoya menatap adiknya sebentar, lalu tersenyum kecil. “Kamu juga lucu soalnya.”
Mio menyengir, bangga seperti biasa. Tapi di bawah senyum itu, ada sesuatu yang bergerak sangat kecil. Terlalu kecil untuk disebut jelas. Hanya detik singkat ketika tatapan Mio sempat tidak benar-benar ke Naoya, lalu kembali lagi dengan cepat begitu ia sadar kakaknya sedang menoleh.
Naoya tidak menangkapnya.
Ia hanya mengusap tengkuk dan mendengarkan Mio melanjutkan cerita soal Ako yang katanya terlalu ribut memuji dessert padahal bahkan belum sempat memakan semuanya. Naoya tertawa lagi. Kali ini lebih tenang.
Ketika gerbang rumah akhirnya terlihat, Mio berhenti duluan.
“Nah, sudah sampai.”
Naoya mengangguk pelan. “Iya.”
Ia menatap pintu rumah tua itu. Semuanya tampak seperti biasa. Halaman kecil. Lampu teras. Sepatu yang mereka tinggal di dekat pintu. Namun di dalam kepala Naoya, wajah Nagisa tadi masih sempat tinggal satu detik lebih lama sebelum akhirnya dipaksa mundur oleh suara Mio.
Mio menoleh. “Kakak kenapa?”
Naoya memalingkan pandang. “Tidak apa.”
Mio mengerjap, lalu tersenyum dan membuka pintu rumah lebih dulu. “Kalau begitu masuk.”
--o--
Di dalam rumah, kehangatan malam langsung menyambut mereka dengan cara yang akrab.
Mio menaruh sandal di tempatnya, lalu berjalan lebih dulu ke ruang tengah sambil mengumumkan dengan nada terlalu santai, “Aku mau nonton film dulu.”
Naoya menutup pintu pelan. “Aku ke kamar saja.”
“Langsung?”
“Iya.”
Mio menoleh ke belakang. “Tidak nonton bareng?”
Naoya menggeleng kecil. “Kamu saja dulu. Aku mau istirahat.”
Mio menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi jangan tidur terlalu cepat.”
Naoya tersenyum samar. “Tergantung.”
Mio terkikik kecil lalu berjalan ke ruang tengah, sementara Naoya menuju kamarnya. Di lorong sempit yang menghubungkan ruang depan dan kamar, ia sempat mendengar bunyi televisi dinyalakan dari ruang tengah. Suara pembuka film terdengar samar, disusul suara Mio yang mengomel pada dirinya sendiri karena mencari remote.