Sudah hampir lima tahun yang lalu, ketika Nagisa masih duduk di kelas dua SMA, namanya untuk pertama kali diucapkan dengan suara keras di depan banyak orang—bukan karena nilai, bukan karena kenakalan, melainkan karena seorang senpai kelas tiga yang populer tiba-tiba menyatakan perasaan di halaman sekolah.
Hari itu cuacanya cerah. Terlalu cerah, sampai lantai koridor sekolah memantulkan cahaya putih yang menyilaukan mata. Beberapa siswa berhenti berjalan hanya untuk melihat. Ada yang menutup mulut sambil tertawa kecil, ada yang bersiul pelan, ada pula yang pura-pura tidak peduli padahal jelas sedang menoleh.
Nagisa masih ingat bagaimana ia berdiri mematung di tempat yang rasanya terlalu sempit untuk tubuhnya sendiri.
Senpai itu punya wajah yang sering terlihat di lorong-lorong sekolah, di acara olahraga, di rapat kelas, dan di percakapan para perempuan yang suka membicarakan siapa yang paling tampan di angkatan atas. Ia tinggi, rapi, dan mudah tersenyum. Saat ia menatap Nagisa waktu itu, semua orang di sekeliling mereka mendadak seperti menjauh setengah langkah, memberi ruang pada sesuatu yang belum ia pahami.
“Kalau boleh,” kata senpai itu sambil tersenyum, “aku ingin Nagisa-chan jadi pacarku.”
Suasana langsung pecah oleh suara kecil yang tertahan. Teman-teman di sekitar mereka berdesis seperti angin yang lewat di sela daun.
Nagisa sendiri tidak langsung mengerti apa yang harus dirasakan.
Ia hanya sempat menunduk sebentar, lalu memandang senpai itu lagi. Wajahnya merah—bukan karena malu saja, tapi karena terlalu banyak mata sedang mengarah kepadanya. Namun di balik rasa panas itu, ada sesuatu yang lebih besar: perasaan bahwa dirinya sedang dipilih. Bahwa seseorang yang disukai banyak orang justru memilihnya.
Maka ia mengangguk.
Dan sejak hari itu, untuk pertama kalinya, ia berpacaran.
Ia tidak langsung memahami arti kalimat itu. Tidak seperti di drama, tidak seperti di lagu-lagu yang sering terdengar dari ponsel teman-temannya. Yang ia pahami justru hal-hal paling dekat dan paling mudah disentuh: kalau pacaran berarti harus sering bersama, harus dekat, harus menempel, harus menunjukkan pada orang lain bahwa mereka berdua memang pasangan.
Jadi ia menerima ketika senpai itu memegang tangannya di lorong sekolah. Menerima saat lengan besarnya melingkari bahu Nagisa saat mereka berjalan keluar gerbang. Menerima saat jari-jari itu menyelusup di sela-sela jemarinya seolah itu hal yang paling biasa di dunia. Menerima saat pinggangnya ditarik sedikit lebih dekat ketika mereka berdiri di depan mesin minuman.
Kalau itulah cinta, pikir Nagisa waktu itu, maka cinta pasti berarti tidak memberi jarak.
Ia pun membiarkan semuanya.
Kalau senpai itu merangkul bahunya di depan teman-temannya, Nagisa diam. Kalau senpai itu menariknya sedikit ke sisi tubuhnya saat berjalan di koridor sekolah, Nagisa menurut. Kalau senpai itu menggenggam tangan Nagisa terlalu lama di depan kelas, ia hanya menunduk sambil menahan rasa canggung yang masih bisa ia anggap sebagai rasa bahagia.
Dengan popularitas senpai itu, Nagisa yang menjadi pasangannya ikut terseret ke sorotan.
Para siswi kelas lain menatapnya dengan tatapan campuran antara iri, penasaran, dan ingin tahu. Ia mendengar namanya disebut di belakang punggungnya. Ada yang bilang ia beruntung. Ada yang bilang senpai itu akhirnya berhenti menebar perhatian ke semua orang. Ada yang bilang Nagisa memang cocok karena cantik.
Nagisa saat itu tidak tahu harus memikirkan yang mana.
Jadi ia hanya bertahan di dalam perasaan yang paling sederhana: kalau ia selalu dekat, maka ia tidak akan kehilangan tempatnya.
Begitulah cara ia belajar cinta.
Atau setidaknya, begitulah cara ia salah memahaminya.
--o--
Hari-hari berikutnya diwarnai oleh hal yang terasa manis pada awalnya.
Senpai itu sering menjemputnya di depan gerbang. Kadang membawa minuman, kadang membawa roti, kadang hanya datang dengan senyum yang membuat teman-teman Nagisa menoleh. Di sekolah, mereka tidak segan menunjukkan kedekatan. Di koridor, di tangga, di lapangan belakang, di sela jam istirahat—senpai itu selalu punya cara untuk menyentuh sekilas lengan Nagisa, membetulkan rambutnya, atau merangkul pundaknya seolah Nagisa memang miliknya.
Nagisa membiarkan semuanya.
Bahkan ia mulai berpikir bahwa mungkin, begitulah hubungan berjalan. Bahwa kalau seseorang menyukai kita, maka wajar kalau ia ingin terus berada dekat. Bahwa kalau pasangan saling mencintai, mereka tidak perlu terlalu banyak memberi ruang.
Jadi ketika senpai itu memeluknya di depan beberapa teman, Nagisa tidak menolak. Ketika tangannya ditarik ke bawah meja saat istirahat, ia tidak menyingkir. Ketika pipinya dicium singkat di lorong belakang sekolah, ia hanya tertawa kecil dengan wajah memerah.
Ia mulai terbiasa dengan sentuhan.
Atau lebih tepatnya, ia mulai terbiasa tidak menanyakan terlalu banyak.
Namun di antara semua itu, ada satu kebiasaan kecil yang paling ia percaya: kalau bersama senpai itu, ia tidak sendirian. Dan karena itu, ia tidak ingin kehilangan hubungan yang baru saja ia miliki.
Maka Nagisa lebih sering menempel.
Ia menunggu senpai itu di depan kelas. Duduk di dekatnya saat makan siang. Pergi bersama ke perpustakaan. Pulang bersama kalau jadwal mereka cocok. Kalau teman-temannya bertanya apa mereka benar-benar selalu bersama, Nagisa hanya tersenyum kecil dan mengangguk.
Ia pikir itu romantis.
Ia pikir itu tanda bahwa mereka pasangan yang dekat.
Ia tidak tahu bahwa kedekatan yang tidak pernah diberi batas justru pelan-pelan mengaburkan garis yang seharusnya ada.
--o--
Suatu hari, senpai itu mengajaknya ke bilik karaoke.
Ruangan kecil itu dipenuhi lampu remang dan layar yang memantulkan warna-warna terang pada meja rendah. Di atas meja, ada jus dingin, kentang goreng, dan beberapa cemilan yang sudah dibelikan untuk Nagisa. Suara musik dari speaker terasa agak keras, cukup untuk membuat percakapan mereka terdengar seperti rahasia yang sengaja dijaga di balik pintu tertutup.
Awalnya mereka bernyanyi bergantian.
Lagu-lagu yang dipilih senpai itu hampir semuanya romantis, mendayu, dan sedikit melankolis. Nada-nadanya meluncur dari pengeras suara seperti sesuatu yang dilatih untuk membuat hati terasa hangat. Nagisa mendengarkan dengan senang. Suara senpai itu memang bagus, dan dengan cara tertentu terdengar aman. Bagus, stabil, dan percaya diri.
Saat gilirannya tiba, Nagisa juga menyanyi.
Senpai itu menatapnya dengan senyum yang membuat Nagisa merasa pipinya sedikit memanas. Ia pernah beberapa kali dipuji soal wajahnya, soal matanya, soal rambutnya yang terlihat lembut. Namun saat senpai itu menatapnya di tengah bilik karaoke yang sempit, pujian yang keluar terasa lebih dekat dari sebelumnya.
“Suaramu bagus,” kata senpai itu sambil tersenyum.
Nagisa menunduk kecil, lalu meminum jus yang sudah ia sedot pelan-pelan. Kentang goreng di depannya terasa hangat di permukaan, masih asin, dan membuat suasana semakin seperti sesuatu yang biasa saja. Ia menyukai momen itu. Menyukai cara senpai itu menatapnya. Menyukai kenyataan bahwa mereka berdua duduk di ruang kecil yang tertutup, jauh dari tatapan sekolah.
“Kalau kamu bernyanyi, kedengerannya makin cantik,” tambah senpai itu.
Nagisa tertawa kecil, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinga.