Mereka keluar dari kereta bawah tanah bersama-sama di sebuah stasiun yang tidak terlalu besar, tapi cukup hidup untuk ukuran kota yang jauh dari pusat.
Tangga keluar stasiun masih memantulkan suhu dingin dari bawah tanah. Di atas, udara siang Fukushima terasa lebih kering dibanding Tokyo. Jalan di depan stasiun tidak terlalu ramai, namun cukup penuh untuk membuat orang-orang yang lewat saling bersinggungan bahu jika tidak berhati-hati. Ada mesin minuman di dekat pintu keluar. Ada papan petunjuk warna biru. Ada suara roda koper yang terseret pelan. Dan ada angin yang lewat di sela bangunan, tipis tapi menusuk.
Nagisa berjalan beberapa langkah di depan Naoya dengan ponsel yang menempel erat di telinganya. Ekspresinya jelas memperlihatkan rasa kecewa yang tertahan.
“Aku sudah bilang, kalau kamu tiba-tiba batal begini, aku berhak marah, Ako,” gumamnya ketus pada speaker ponsel. “Nggak, aku nggak bilang nggak apa-apa. Aku dan Naoya sudah keluar dari peron stasiun Fukushima. Hah? Iya, aku dengar, tapi—”
Naoya berjalan di belakangnya sambil memegang catatan kecil dan tas selempang. Ia tidak ikut memotong pembicaraan, hanya sesekali menoleh ke arah pinggir jalan untuk memastikan arah yang mereka ambil masih sesuai dengan daftar yang tadi ia tulis semalam. Tujuan pertama mereka hari itu adalah sebuah sharehouse yang lokasinya sedikit keluar dari pusat, karena harga sewanya lebih masuk akal dan fasilitasnya masih cukup layak untuk dipertimbangkan. Mendengar nama Ako disebut, Naoya melirik jam di ponselnya, sekarang ia paham mengapa sosok berisik itu belum juga menampakkan diri di titik temu.
Suara Nagisa yang mengeluh ke telepon terdengar separuh serius, separuh kesal.
“Kalau aku tahu dari awal, kami nggak perlu berdiri menunggu di dekat mesin tiket,” katanya lagi. “Iya, iya, aku tahu rekan kerja di supermarketmu itu mendadak sakit sampai harus dibawa ke klinik. Tapi kenapa selalu kamu yang harus jadi tumbal untuk menutup lubang shift orang lain? Kamu kan juga punya jadwal hari ini.”
Naoya memperhatikan gurat wajah Nagisa dari belakang. Nada Nagisa yang cemberut itu sebenarnya tidak benar-benar menyimpan kemarahan yang buruk. Setelah hubungan mereka membaik, kekesalan Nagisa sekarang murni karena ia merasa sayang rencana bertiga mereka harus berantakan akibat sifat Ako yang kadang terlalu sungkan untuk menolak permintaan tolong di tempat kerjanya.
Beberapa detik kemudian, Nagisa menghela napas panjang, melunakkan intonasi suaranya.
“Sudahlah. Mau bagaimana lagi, kan? Bekerja aja yang benar. Jangan sampai kamu sendiri ikut jatuh sakit karena kecapekan.”
Ia menutup panggilan sambil menurunkan ponsel dari telinganya. Lalu ia menghembuskan napas lagi, lebih pelan dari tadi. Bahunya turun sedikit, seolah baru saja merelakan ekspektasi perjalanan bertiga mereka hari itu dan bersiap menyesuaikan diri dengan sisa hari yang kini hanya ada dirinya dan Naoya.
Naoya berhenti tepat di sampingnya.
Nagisa menoleh. “Kita pergi ke arah mana dulu?”
Naoya mengeluarkan catatan kecil dari saku tasnya dan mengecek sekali lagi. Garis-garis tulisan tangannya cukup penuh, beberapa alamat ia coret, beberapa lagi diberi tanda. Setelah menatapnya sebentar, ia mengangkat kepala.
“Ada satu lokasi di Fukushima selatan,” katanya. “Katanya sharehouse, harganya masih di bawah yang lain.”
Nagisa mengernyit sedikit. “Jauh juga.”
“Kalau pilihan lain terlalu mahal, tidak ada salahnya lihat dulu.”
Nagisa memutar ponselnya di tangan, lalu mengangguk. “Kalau begitu, jalan sekarang.”
Naoya menatapnya sebentar. “Kamu nggak keberatan?”
“Keberatan untuk apa?”
“Keliling begini. Sudah dari pagi, kan?”
Nagisa memiringkan kepala sejenak, lalu mendengus ringan. “Kalau aku keberatan, dari tadi aku udah pulang. Ayo jalan.”
Naoya mengangguk.
Mereka pun bergerak lagi, menyeberangi jalan di depan stasiun dan masuk ke jalur bus kecil yang membawa mereka ke daerah dengan rumah-rumah yang lebih jarang, bangunan yang lebih sederhana, dan jalan yang lebih sunyi. Selama perjalanan itu, Nagisa beberapa kali membuka catatan di ponselnya sendiri. Naoya sesekali menyandingkan catatan itu dengan miliknya, lalu mengoreksi satu dua nama tempat yang sempat tertukar.
“Yang ini lebih dekat ke halte,” kata Naoya.
Nagisa mengangguk sambil melihat layar. “Kalau begitu, itu dulu.”
Ia berkata begitu dengan nada yang hampir terlalu praktis, seperti orang yang tahu ia tidak bisa memutuskan hanya dengan imajinasi. Naoya mengerti itu. Karena itu, ia tidak memaksa. Ia hanya mengikuti ritme langkah Nagisa.
--o--
Sharehouse pertama yang mereka datangi berada di sebuah bangunan dua lantai yang tampak lebih tua dari foto iklannya.
Pemiliknya adalah seorang pria paruh baya yang ramah, dengan kemeja yang sedikit kusut dan senyum yang terlihat sudah terbiasa menerima tamu. Begitu mereka datang, pria itu langsung membuka pagar kecil depan rumah dan mempersilakan mereka masuk.
“Silakan, silakan,” katanya. “Kalian pasti yang telepon tadi.”
Nagisa membungkuk sopan. “Iya. Saya Nagisa Kobayashi, dan ini teman saya, Naoya Tsuchiya.”
Naoya ikut menunduk. “Terima kasih sudah menyambut kami.”
Pria itu langsung tersenyum lebih lebar. “Tidak perlu terlalu formal. Saya Satou. Mari lihat dulu dalamnya.”
Nagisa berkeliling bersama Satou, sementara Naoya mengikuti dari belakang sambil mendengar penjelasan soal harga, fasilitas dapur bersama, kamar mandi, mesin cuci, sampai aturan jam malam yang cukup longgar. Bangunan itu memang tidak mewah, tapi rapi. Ruang bersama cukup luas. Dapur terlihat bersih. Beberapa penghuni lain tidak tampak di area umum, mungkin masih bekerja atau sedang keluar.
Saat Satou menunjukkan kamar-kamar, Nagisa menatap setiap pintu dengan hati-hati. Ia tidak langsung mengucapkan ya atau tidak. Ia hanya memperhatikan ukuran ruang, pencahayaan, jarak ke kamar mandi, dan kondisi jendela. Naoya berada di sampingnya, memegang catatan, sambil sesekali mengangguk ketika Satou menjelaskan sesuatu.
“Kalau untuk kamar pribadi, ini sekitar sepuluh meter persegi,” kata Satou. “Yang ini sedikit lebih besar, tapi harganya naik sedikit.”
Nagisa menatap ruang itu beberapa detik. “Penghuni lain kebanyakan siapa?”
“Mayoritas pekerja kantoran. Ada beberapa mahasiswa, tapi tidak banyak.”
Naoya melirik ke arah Nagisa. Ia tahu pertanyaan itu penting. Bukan karena kesan semata, tapi juga karena kenyamanan hidup bersama orang-orang yang usianya terlalu jauh bisa berubah jadi masalah kalau tidak cocok.
Nagisa bertanya lagi, kali ini lebih spesifik. “Sharehouse ini campur laki-laki dan perempuan?”
“Iya,” jawab Satou. “Tapi kamar mandi dan ruang bersama kami pisahkan waktu tertentu. Aturannya jelas.”
Nagisa mengangguk pelan.
Mereka melihat dua kamar lagi. Salah satunya cukup terang, jendelanya besar, dan kasurnya masih rapi. Yang satu lagi sedikit lebih sempit namun paling dekat ke dapur bersama. Secara harga, yang pertama lebih cocok. Secara kenyamanan, kamar itu juga tidak buruk. Namun Nagisa tidak langsung bicara.
Ia berdiri di ambang kamar sambil memandang ruangan itu cukup lama. Naoya menunggu di belakang tanpa memotong. Satou pun menunggu dengan sabar, seperti orang yang sudah terbiasa melihat calon penghuni mempertimbangkan semuanya sebelum mengambil keputusan.
Akhirnya, Nagisa menoleh ke arah Naoya.
Ia tidak berkata apa-apa dulu, hanya menatapnya seolah meminta pendapat yang tidak terlalu memaksa. Naoya tahu maksudnya. Karena keputusan ini bukan sesuatu yang bisa ia putuskan sendiri. Mereka harus mempertimbangkan preferensi Nagisa dulu—dari kenyamanan, biaya, sampai keamanan.
Naoya menatap kamar itu sekali lagi, lalu berkata pelan, “Kalau kamu mau yang dekat dapur, itu lebih praktis. Tapi kalau soal privasi, yang tadi lebih baik.”