Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #23

Dalam Mimpi

Mio tertidur di tengah hari.

 Di selasar rumah yang panjang dan agak sejuk itu, ada meja lebar tapi tidak terlalu tinggi. Kedua kakinya bersilang di bawah meja, sementara kepala dan satu tangan Mio tergeletak di atas permukaannya. Tangannya yang lain masih berada di atas setumpuk cucian lipat yang belum sempat ia rapikan seluruhnya. Baju-baju Naoya yang sudah dilipatnya tersusun rapi di sisi kanan meja, seolah ia sengaja ingin membuat semuanya tampak tenang dan tertata.

 Ada sesuatu yang lembut di situ.

 Bukan cuma karena kain-kain itu sudah terlipat dengan penuh perhatian, tapi juga karena kelelahan yang tertinggal di tubuh Mio setelah ia beres-beres sejak pagi. Rumah terasa sunyi. Naoya sedang keluar sebentar, entah ke minimarket atau mungkin ke kampus untuk urusan singkat yang tidak sempat ia jelaskan panjang. Dalam sela kesibukannya, Mio hanya ingin menunggu. Hanya sebentar. Hanya sampai kakaknya pulang.

 Lalu kantuk datang terlalu pelan untuk dicegah.

 Kepalanya masih menyentuh meja ketika napasnya menjadi lebih rata. Punggungnya sedikit melengkung, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Di luar, cahaya siang masuk dari sisi rumah dan membuat debu kecil di udara tampak berkilat sesaat. Tidak ada yang bergerak di selasar itu selain suara jam dinding yang berjalan sangat pelan.

 Mio terlelap sangat pulas.

 Dan di dalam tidur yang dalam itu, ia tidak tahu bahwa sesuatu sedang menariknya menjauh.

 --o--

 Awalnya hanya seperti mengambang.

 Seperti tubuhnya berubah ringan, lalu ruangan rumah memudar menjadi sesuatu yang jauh. Mio merasa ia masih duduk. Masih menunggu. Masih sendirian di meja itu. Namun sesaat kemudian selasar itu menghilang, digantikan oleh tempat lain yang terasa familiar dengan cara yang tidak menyenangkan.

 Lorong kampus.

 Ada cahaya putih yang terlalu terang. Ada suara langkah siswa yang lewat. Ada suara tawa. Ada suara seseorang memanggil nama Nagisa dengan nada yang manis sekali, terlalu manis sampai terdengar salah kalau didengar cukup lama.

 Mio menoleh.

 Dan di sana, seperti yang pernah ia lihat berkali-kali dalam potongan-potongan ingatan yang tidak pernah benar-benar selesai, Nagisa berdiri dekat Naoya dengan wajah yang penuh dengan perasaan yang terlalu besar untuk satu orang saja.

 Mereka begitu dekat.

 Terlalu dekat.

 Naoya sedang memandang Nagisa seperti orang yang baru belajar bahwa seseorang bisa menjadi pusat dari semua hal yang ia lakukan. Nagisa menempel pada lengan Naoya. Lalu pundaknya. Lalu tangannya. Lalu hidupnya. Naoya merespons semuanya dengan cara yang membuat dada Mio terasa tidak enak—dengan diam yang lembut, dengan perhatian yang tidak pernah berkurang, dengan kebiasaan mengalah yang bahkan di dalam mimpi pun masih terasa terlalu familiar.

 Mio berdiri di kejauhan, menatap mereka tanpa bisa bergerak.

 Di kampus, Naoya dulu tampak seperti orang yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang selalu ia cari-cari tanpa tahu namanya. Ia berjalan di samping Nagisa, meminjamkan perhatian, mengantar pulang, menunggu, mendengar. Dan Nagisa—Nagisa yang cantik itu—semakin lama semakin seperti orang yang menggantungkan napasnya pada dada Naoya.

 Mio ingin memalingkan muka.

 Tapi mimpi ini tidak mengizinkan.

 Satu adegan muncul, lalu adegan berikutnya.

 Nagisa duduk terlalu dekat di restoran keluarga. Naoya menyuapkan perhatian ke dalam tiap geraknya. Tangannya mengeluarkan dompet, lalu membantu, lalu mengalah, lalu berkata iya tanpa henti. Naoya yang biasanya menahan diri justru seperti kehilangan semua pagar di depan orang itu. Setiap keinginan Nagisa diterima. Setiap keluhan Nagisa dijawab. Setiap langkah kecil Nagisa dijaga.

 Dan Nagisa, yang awalnya hanya dekat, menjadi bergantung.

 Tidak hanya emosinya. Juga uangnya. Juga waktunya. Juga ketenangannya.

 Mio menyaksikannya dengan perasaan yang semakin susah dijelaskan. Bukan cemburu semata. Bukan kesal saja. Ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang membuat tenggorokannya seakan tertutup. Karena dalam mimpi ini, ia bisa melihat betapa Naoya terus mengesampingkan akal sehatnya sendiri. Bagaimana kakaknya itu mengabaikan lelah, mengabaikan batas, mengabaikan sisa-sisa dirinya demi menjaga satu orang yang menempel padanya seperti bayangan yang tidak mau lepas.

 Naoya bahkan tidak terlihat marah.

 Itu yang paling menakutkan.

 Ia hanya terus menanggung.

 Mio melihat daftar belanja, melihat Naoya membayar sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ia bayar, melihat kakaknya menunduk kecil saat Nagisa minta ini dan itu dengan wajah manja yang bagi dunia mungkin tampak lucu, tapi bagi Mio terasa seperti luka yang sedang disenyumkan.

 Lalu mimpi itu berubah lagi.

 Kali ini Naoya berdiri sendirian di stasiun kereta.

 Langit di atas sana mendung. Jalur rel memanjang ke kejauhan seperti garis yang sengaja ditarik untuk membawa seseorang pergi tanpa arah. Naoya berdiri dengan tas di pundaknya, wajahnya tampak kosong dengan cara yang tidak wajar. Tidak seperti kelelahan biasa. Bukan seperti orang habis bekerja. Ini lebih mirip orang yang sudah terlalu lama tidak mendengar suara dirinya sendiri.

 Mio terdiam.

 Naoya menatap depan, lalu naik ke kereta.

 Lalu turun di tempat lain.

 Lalu berjalan lagi.

 Mio mencoba mendekat, tapi kakinya seperti tenggelam di udara. Ia ingin memanggil, tapi suaranya tidak keluar. Di mimpi, dunia seperti menolak memberinya tempat. Naoya terus berjalan dengan langkah yang makin lama makin tidak mantap. Jalan kota berubah. Bangunan berubah. Asfal berubah menjadi jalan yang lebih gelap. Lampu-lampu jalan menghilang satu per satu.

 Mio baru sadar ketika ia melihat pepohonan.

 Hutan.

 Naoya berjalan ke arah hutan sendirian.

 Tidak ada Nagisa di sampingnya. Tidak ada rumah. Tidak ada suara lain. Hanya kakaknya yang berjalan semakin jauh ke tempat yang tak punya suara.

 Mio tercekat.

 “Naoya-nii...?”

 Suara itu akhirnya keluar, lirih sekali. Naoya tidak menoleh. Atau mungkin ia tidak mendengar. Ia terus berjalan menembus pepohonan yang rapat, tubuhnya tampak kecil di antara bayang-bayang gelap yang menutup jalan.

 Mio menoleh ke kanan dan kiri, panik yang tumbuh terlalu cepat. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada tempat untuk kembali. Tidak ada rumah untuk dituju. Yang ada hanya suara daun yang bergesekan dan tanah yang semakin gelap di bawah kaki Naoya.

Lihat selengkapnya