Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #24

Ruangan Yang Bukan Milikku

Ballroom itu terang sekali.

 Bukan terang yang biasa, bukan pula terang yang membuat mata lelah. Lampu kristal yang menggantung tinggi di langit-langit memantulkan cahaya lembut ke meja-meja bundar, ke gelas-gelas yang belum sepenuhnya disentuh, ke permukaan lantai marmer yang begitu licin sampai orang yang melangkah di atasnya seperti sedang berjalan di atas bayangan sendiri. Dari ujung ruangan hingga panggung kecil di depan, semuanya tampak dirancang agar orang penting bisa merasa lebih penting lagi.

 Naoya berdiri di antara tamu-tamu dengan jas yang terasa sedikit lebih ketat di bahu kanan.

 Ia sudah pernah datang ke pesta seperti ini lebih dari sekali. Ia bahkan sudah hafal pola yang tak pernah berubah: salam, senyum, tepuk tangan, pertanyaan basa-basi, lalu orang-orang dewasa itu saling menilai satu sama lain lewat nada bicara yang dibuat senetral mungkin. Namun setiap kali ia datang, rasa asing itu tetap ada. Bukan karena tempatnya. Melainkan karena semua yang ada di ruangan ini seolah dibangun di atas sesuatu yang tidak ia miliki.

 Kepercayaan diri yang diwariskan.

 Nama keluarga yang dipakai sebagai pintu masuk.

 Atau mungkin, sekadar kebiasaan untuk merasa layak berada di tengah orang-orang semacam ini.

 Naoya menggeser tatapannya pelan-pelan ke sekeliling ballroom. Ada para direksi dengan istri yang berdandan sangat rapi. Ada top manajer yang membawa pasangan. Ada beberapa desainer teknologi muda yang datang bersama anak mereka yang masih kecil, anak-anak itu tampak lebih tertarik pada makanan penutup daripada pidato penghargaan di panggung. Di sisi lain ruangan, beberapa orang tertawa terlalu pelan. Beberapa lagi menatap ponsel sebentar sebelum mengangkat kepala kembali ketika ada wajah yang lewat.

 Semua orang di sana tampak tahu persis kapan harus tersenyum.

 Dan kapan harus berhenti.

 Nama-nama besar dari K-Tech Inc. memenuhi hampir seluruh sudut pandangnya, mulai dari dewan direksi, kepala divisi, sampai para mitra yang wajahnya lebih sering muncul di berita bisnis daripada di media umum. Semua berkumpul karena alasan yang sama: penghargaan triwulan pertama untuk Ayase Tsuchiya, sang CFO andalan K-Tech, karena angka penjualan yang kembali melampaui target.

 Naoya menyesap minuman dalam gelasnya pelan.

 Ibunya memang seperti itu. Datang ke ruangan mana pun dengan langkah mantap, lalu membuat ruangan itu menyesuaikan dirinya. Sejak kecil, Naoya sudah tahu bahwa orang seperti Ayase selalu punya cara untuk terlihat seakan ia tidak sedang meminta apa-apa, padahal semua orang tahu ia sedang memegang kendali.

 Lampu panggung menyala sedikit lebih terang.

 Pembawa acara selesai memperkenalkan pemenang penghargaan malam itu, dan tepuk tangan pun mulai mengisi seluruh ballroom. Naoya ikut bertepuk tangan, agak terlambat sepersekian detik dari yang lain. Ayase muncul di panggung dengan setelan formal yang disesuaikan dengan tubuhnya secara sangat tepat. Ia tersenyum secukupnya, lalu berdiri di samping podium sambil menerima plakat penghargaan dari seorang pria yang tak asing lagi bagi Naoya.

 Akihiko Kobayashi.

 CEO K-Tech Inc., atasan langsung ibunya, sekaligus salah satu tokoh paling berpengaruh di industri teknologi Jepang.

 Pria itu tampak berdiri dengan penuh kebanggaan di depan mikrofon. Usianya sudah melewati lima puluh, tapi suaranya masih jelas dan penuh tenaga. Wajahnya keras, tegas, dan tampak seolah ia terbiasa membuat keputusan yang tidak memberi ruang untuk sangsi. Ketika Akihiko mengangkat tangan untuk memulai sambutan, ballroom langsung menenangkan diri.

 “Untuk pencapaian seperti ini,” katanya dengan suara mantap, “K-Tech tidak hanya membutuhkan orang-orang yang cerdas. Kami membutuhkan orang-orang yang sanggup mempertahankan hasilnya. Tsuchiya-san sudah membuktikan itu berkali-kali.”

 Tepuk tangan kembali pecah, lebih riuh dari sebelumnya.

 Akihiko tersenyum singkat, lalu melanjutkan dengan nada yang terasa sangat nyaman bagi para eksekutif yang mendengarnya. Penuh pujian, penuh penghargaan, tapi tetap menyisakan jarak yang membuat semua orang tahu siapa yang berada di puncak dan siapa yang bekerja untuk sampai ke sana.

 Naoya menatap panggung dengan tenang.

 Ia melihat ibunya menerima pujian itu dengan ekspresi yang tidak terlalu berlebihan. Ayase hanya menunduk secukupnya, lalu tersenyum ke arah ruangan. Bagi orang lain mungkin itu sekadar sikap profesional. Bagi Naoya, itu seperti sesuatu yang sudah ia lihat berkali-kali sampai tak lagi mengejutkan.

 Sesi sambutan pun berlanjut beberapa menit. Tentang pertumbuhan pasar. Tentang strategi pemasaran yang tepat sasaran. Tentang pentingnya menjaga kualitas distribusi. Tentang kerja keras tim yang menyokong hasil akhir. Kata-kata yang terdengar resmi, tapi di baliknya ada tekanan yang tidak diucapkan.

 Naoya memperhatikan lampu-lampu di atas panggung sampai sambutan itu selesai.

 Setelah itu, panggung kembali redup sedikit. Tepuk tangan bergeser menjadi suara percakapan di meja-meja. Musik lembut mulai diputar lagi. Ballroom kembali menjadi ruang sosial yang tersenyum.

 Naoya mengalihkan pandangan ke sekeliling.

 Orang-orang penting itu semuanya datang bersama keluarga mereka. Ada yang membawa pasangan saja. Ada yang membawa anak remaja. Ada yang membawa seorang putra dengan kemeja rapi dan sepatu mahal. Ada yang membawa putri mereka yang duduk diam di sisi kursi sambil sesekali mengamati ruangan. Naoya menyapu pandangan ke seluruh sisi ballroom, lalu berhenti sejenak ketika ibunya mendekat dari arah panggung.

 Ayase turun dari sana dengan langkah yang sama mantapnya seperti saat naik.

 “Naoya,” panggilnya.

 Naoya menoleh cepat dan menegakkan tubuh. “Iya, Bu.”

 Ayase berhenti di depannya dan mengamati sekali wajah anaknya, memastikan jasnya rapi, rambutnya tidak berantakan, dan dasinya tetap pas. Baru setelah itu ia mengangguk kecil.

 “Ada seseorang yang ingin aku perkenalkan padamu.”

 Naoya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengikuti tatapan ibunya, lalu mengangguk singkat. “Baik.”

 Ayase menoleh ke arah salah satu sisi ballroom. “Ikut aku.”

 Naoya pun mengikuti.

 Mereka berjalan melewati meja-meja besar, melewati obrolan yang semakin pelan ketika dua nama penting lewat di sampingnya, melewati pelayan yang membawa nampan penuh gelas, sampai akhirnya berhenti di depan seorang pria paruh baya yang berdiri dengan tenang sambil berbicara dengan beberapa orang lain. Ada wibawa yang tidak dibuat-buat pada dirinya. Bukan wibawa yang lahir dari suara keras. Lebih seperti wibawa orang yang tahu apa yang ia pegang dan siapa yang menunggu keputusannya.

 Ayase menyapa lebih dulu. “Yamamoto-san.”

 Pria itu menoleh, lalu tersenyum. “Tsuchiya-san. Selamat malam.”

 “Aku pikir kamu tidak akan datang ke pesta perusahaan kali ini,” kata Ayase dengan nada ringan yang terdengar cukup akrab. “K-Tech sudah mengirim undangan VIP padamu sejak enam tahun lalu, tapi baru malam ini kamu akhirnya hadir.”

 Pria itu tertawa kecil. “Aku memang buruk dalam mengikuti pesta.”

 Naoya menundukkan kepala sedikit ketika ibunya menoleh kepadanya.

 “Ini anakku, Naoya.”

 Pria itu memandang Naoya dengan ekspresi terbuka, lalu mengangguk sopan. “Begitu. Jadi ini putramu.”

 Naoya segera membungkuk. “Senang bertemu Anda. Saya Naoya Tsuchiya.”

 “Akira Yamamoto,” balas pria itu, suaranya ramah tapi tetap mantap.

 Ayase tersenyum. “Penyuplai chip terpenting kami, anda termasuk yang paling bisa diandalkan.”

 Akira tertawa pendek. “Itu terdengar terlalu berlebihan.”

 Di samping Akira berdiri seorang perempuan muda.

 Naoya baru menyadari keberadaannya setelah pandangannya turun sedikit ke sisi kanan pria itu. Perempuan itu berdiri dengan tangan terlipat sopan di depan tubuh, tinggi badannya hampir sama dengan Naoya. Wajahnya anggun dan bersih, tidak berlebihan, tapi cukup menonjol di antara keramaian ballroom. Ia memakai gaun formal sederhana dengan warna yang tidak mencolok, dan cara ia berdiri membuatnya terlihat seperti seseorang yang terbiasa hadir di tempat-tempat seperti ini tanpa kehilangan sikap. Naoya langsung merasakan bahwa perempuan itu tidak datang sebagai bayangan.

Lihat selengkapnya