Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #25

Satu Langkah Lebih Dekat

Naoya menyingkir dari kerumunan dengan langkah yang nyaris tak terdengar.

 Ruangan itu masih sama mewahnya seperti tadi: lampu kristal yang memantulkan cahaya hangat, gelas-gelas tinggi di tangan orang-orang penting, tawa yang terlalu rapi, dan aroma parfum mahal yang bercampur dengan bunga segar di atas meja. Namun setelah percakapan singkat dengan ibunya barusan, semua itu terasa sedikit lebih tajam di kepalanya. Seperti ada sesuatu yang menggores bagian dalam telinga dan tidak mau hilang.

 Ayase baru saja selesai memperkenalkannya kepada beberapa orang lagi dengan nada yang sangat biasa, seolah itu bukan malam penghargaan untuk dirinya, melainkan malam pembuktian bagi Naoya. Naoya tetap tersenyum, tetap membungkuk, tetap berkata “senang bertemu Anda” pada orang-orang yang ia bahkan belum sempat mengingat nama lengkapnya. Lalu ibunya kembali pergi dengan langkah tenang, meninggalkannya di pinggir ruangan seperti benda yang hanya dipindahkan sebentar.

 Naoya mengembuskan napas pelan.

 Ia mengalihkan pandangan ke meja minuman di sisi lain ballroom, lalu berjalan mendekat seolah sedang mencari alasan agar kepalanya bisa sedikit dingin. Jari-jarinya meraih gelas yang terisi cairan merah bening dengan es batu kecil di dalamnya. Sirup apel, sepertinya. Atau sesuatu yang dibuat agar terlihat lebih mahal daripada sebenarnya.

 Naoya menempelkan gelas itu sebentar ke telapak tangannya sebelum menyesapnya sedikit.

 Dingin.

 Lumayan membantu.

 Ia menutup mata sesaat sambil mengatur napas. Masih bisa mendengar suara ibunya di belakang kepalanya, masih bisa merasakan cara Ayase berbicara di depan orang lain seolah semua hal di dunia ini harus mengikuti kerangka yang sudah ia rancang. Di depan para mitra bisnis, ibunya selalu tampak seperti orang yang begitu tepat dan tak tergoyahkan. Di depan Naoya, ia tetap sama rapi dan sama dominannya. Bahkan malam penghargaan seperti ini pun tidak cukup untuk membuatnya melembut.

 Naoya menggenggam gelas itu lebih erat.

 Bukan marah. Hanya lelah.

 Lelah karena selalu harus menahan wajah agar tetap netral. Lelah karena setiap orang dewasa di ruangan itu tampak punya agenda, sementara dirinya hanya diminta berdiri dengan benar dan tersenyum saat dipanggil. Lelah karena di usia dua puluh satu tahun, ia masih sering merasa seperti anak kecil yang dibawa ikut pesta orang tua lalu diminta tahu tempatnya.

 Ia menatap cairan merah di gelasnya sekali lagi.

 Sebelum sempat minum lagi, suara dari belakang memanggil namanya.

 “Naoya-kun?”

 Nada itu tidak asing.

 Naoya tersentak kecil dan menoleh.

 Seseorang berdiri di belakangnya, mengenakan gaun anggun yang bahunya terbuka tanpa kain penutup sama sekali. Riasannya jauh berbeda dari saat terakhir ia melihatnya di kampus atau saat mereka bepergian bersama. Rambutnya ditata rapi, dan seluruh penampilannya tampak dibuat agar selaras dengan ruangan ini. Namun yang paling membuat Naoya berhenti sesaat adalah bahwa meskipun tampilan itu begitu berubah, wajahnya tetap wajah yang ia kenal.

 “...Nagisa?” ucap Naoya dengan sedikit tak percaya. “Kau ada di sini juga?”

 Nagisa memandangnya sebentar sebelum tersenyum tipis. Senyum yang lebih sopan daripada biasanya, tetapi tetap membawa sesuatu yang terasa hangat. “Tentu saja. Ini acara tahunan ayahku.”

 Naoya mengerjap. “Ayahmu yang mana?”

 Nagisa mengangkat dagunya sedikit, lalu menoleh ke arah lain ballroom. Naoya mengikuti arah itu dan melihat seorang pria paruh baya yang sedang berbincang dengan beberapa mitra bisnis di sisi ruangan. Jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi cukup untuk membuat orang lain harus sengaja memperhatikan jika ingin mengenalinya.

 “Yang itu,” kata Nagisa.

 Naoya mengamati pria itu sekilas. Dari caranya berdiri, dari ekspresi yang tampak selalu siap menilai orang lain, dari aura yang membuat ruang di sekitarnya terasa terstruktur, ia langsung tahu bahwa pria itu bukan orang biasa. Ayah Nagisa.

 “Begitu,” kata Naoya pelan.

 Nagisa menatap gelas yang ada di tangan Naoya, lalu kembali menatap wajahnya. “Kau minum apa?”

 “Sirup apel, sepertinya.”

 “Wah, mewah sekali.” Nagisa mendekat sedikit dan mengamati gelas itu dengan ekspresi yang tampak bercampur antara serius dan ingin mengejek. “Aku kira di acara bisnis seperti ini mereka hanya menyediakan air dengan label mahal.”

 Naoya mendengus pelan. Hampir tertawa, tapi lebih seperti hembusan napas yang akhirnya menemukan jalur keluar.

 Nagisa pun ikut tersenyum.

 Mereka berdiri sejenak tanpa berkata apa-apa. Namun keheningan itu tidak terasa canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama tahu bahwa ruangan ini bukan tempat mereka ingin berada, lalu tanpa perlu banyak penjelasan langsung saling memahami bahwa setidaknya mereka punya hal yang sama untuk dikeluhkan.

 Naoya bersandar sedikit ke meja minuman di belakangnya. “Aku tidak menyangka kau ada di sini.”

 “Aku juga tidak menyangka akan melihatmu berpatroli di sekitar meja minuman,” balas Nagisa ringan. “Kupikir kau datang sebagai pendamping ibumu dan langsung kabur ke sudut ruangan.”

 “Aku hampir melakukannya.”

 “Itu lebih jujur, sih.”

 Naoya memiringkan kepala sedikit. “Kau sendiri?”

 Nagisa menghela napas kecil, lalu menatap ruangan penuh orang itu dengan tatapan yang tidak terlalu senang. “Ayahku suka menganggap kehadiran keluarga sebagai bagian dari pencitraan. Malam ini aku kehabisan untuk absen hadir.”

 Naoya mengangguk pelan, seolah memahami lebih dari yang ia katakan.

Lihat selengkapnya