Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #26

Hari Adik Sedunia

Kain itu masih menutupi mata Naoya ketika ia bangun pagi-pagi, dan yang pertama ia dengar bukan suara jam atau deru kendaraan dari jalan, melainkan tawa cekikikan Mio yang sengaja dibuat pelan, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang menyenangkan di ujung rumah.

 “Naoya-nii, pelan-pelan,” suara adiknya terdengar dari depan. “Kalau kakak terlalu cepat, nanti kejutan kita jadi gagal.”

 Naoya mengerjap di balik kain yang diikatkan Mio di kepalanya. Ruangan terasa samar, hanya hitam dan sedikit cahaya yang menembus tipis dari pinggir sapu tangan itu. Ia meraba-raba ke depan dengan tangan, menyentuh dinding koridor lantai dua rumah itu. Kayu dinding yang sudah ia hafal benar. Pintu kamar yang setengah terbuka. Dan satu pot kecil di sudut yang ia kira tadi pagi belum ada.

 Mio tertawa lagi, suaranya datang dari arah yang berbeda-beda karena ia sengaja berpindah tempat.

 “Eh, jangan sentuh itu. Bahaya.”

 Naoya menggeser langkahnya hati-hati. Kakinya sempat mengenai sesuatu yang kecil di lantai, lalu ia sedikit tersandung. “Mio, ini sebenarnya apa?”

 “Rahasia.”

 “Kau bilang begitu dari tadi.”

 “Karena memang rahasia.”

 Naoya menghela napas pendek, lalu menepuk udara di depannya, seolah mencari kepala adiknya. Mio dengan lincah menghindar, lalu tertawa sampai bahunya ikut berguncang.

 “Naoya-nii lucu sekali kalau bingung.”

 “Itu bukan pujian.”

“Tapi aku memang sedang memujimu.”

Naoya hanya bisa menggeleng walau tidak melihat apa-apa. Di balik kain penutup mata itu, ia bisa merasakan bahwa Mio tampak sangat senang. Bukan senang yang biasa-biasa saja, tetapi senang yang dipeluk erat ke seluruh tubuhnya. Seolah adiknya sudah menunggu pagi ini sejak lama.

Mio kembali mendekat, lalu berkata dengan suara yang tiba-tiba jauh lebih lembut, “Pegang pundakku.”

Naoya menoleh ke arah suara itu. “Untuk apa?”

“Supaya kakak tidak jatuh.”

Naoya menurut. Begitu telapak tangannya menyentuh bahu Mio yang kecil tapi hangat, adiknya segera memiringkan tubuh, membantu lengan Naoya melingkar ke pundaknya sendiri. Gerakannya sigap, terlatih, dan anehnya sangat hati-hati. Seolah mengiringi orang paling penting di dunia turun dari tempat yang bisa saja berbahaya.

 “Pelan-pelan,” kata Mio lagi. “Ada tangga.”

 “Aku tahu ada tangga.”

 “Tapi kakak tetap bisa kesandung.”

 Naoya merasakan dirinya dituntun perlahan menuruni lantai dua. Satu anak tangga, lalu yang lain. Kakinya bergerak setengah ragu karena ia tidak bisa melihat apa pun. Mio terus memberi petunjuk kecil di telinganya.

 “Sedikit ke kiri. Ya, begitu.”

 “Sekarang kaki kanan dulu.”

 “Jangan buru-buru.”

 Naoya akhirnya tak tahan dan bertanya lagi, “Hari ini sebenernya ada apa?”

 Mio terkikik, kali ini seperti menahan sesuatu agar tidak terlalu cepat bocor. “Kalau aku bilang sekarang, kejutan kita jadi hancur.”

Lihat selengkapnya