Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #27

Tidak Ingin Kehilanganmu

\Kereta mulai bergerak meninggalkan Tokyo, dan beberapa saat kemudian, garis-garis kota besar berganti menjadi pantulan cahaya yang berlarian di jendela.

 Mio menempel di sisi Naoya hampir sepanjang perjalanan. Bukan menempel yang menyulitkan, melainkan menempel dengan penuh antusias, seperti anak kecil yang takut kehilangan momen sedikit pun dari perjalanan yang sudah ia tunggu. Saat kereta melewati area dekat laut, Mio langsung menempelkan wajah ke kaca dan mengeluarkan suara kecil yang nyaris tak tertahan.

 “Lihat, Naoya-nii.”

 Naoya menoleh dan melihat pemandangan itu ikut terbuka di luar jendela. Air laut yang luas, permukaan yang memantulkan cahaya, dan langit yang terasa lebih lapang daripada di kota. Tidak ada gedung tinggi yang menutup pandangan, hanya garis biru dan putih yang berjalan jauh ke depan.

 “Indah,” kata Naoya pelan.

 Mio menoleh padanya dengan mata berbinar. “Kan? Aku tahu kakak pasti suka.”

 Naoya tersenyum kecil. “Kau benar.”

 Hari itu Mio memang sangat menempel. Namun anehnya, Naoya sama sekali tidak keberatan. Ia bahkan merasa seolah sedang menebus sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia pahami. Maka ia membiarkan Mio bersandar, membiarkan adiknya mencuri separuh lengan bajunya, membiarkan snack yang mereka beli di stasiun dibagi dua kali lebih banyak daripada biasanya.

 Mereka makan perlahan. Mio bercerita tentang hal-hal yang tidak penting—tentang satu poster lucu yang ia lihat di stasiun sebelumnya, tentang penumpang di seberang yang tertidur dengan mulut sedikit terbuka, tentang warna laut yang “lebih cantik daripada foto mana pun”. Naoya mendengarkan sambil beberapa kali tertawa kecil, lalu membalas dengan cerita-cerita pendek yang membuat Mio cekikikan.

 Tak terasa, kota berganti kota.

 Dan saat pengumuman stasiun tujuan terdengar, Mio langsung menegakkan tubuh dengan semangat yang tidak bisa disembunyikan.

 “Sudah sampai!”

 Naoya tersenyum. Begitu kereta berhenti, mereka turun bersama. Begitu pintu terbuka, udara yang masuk berbeda sekali dari Tokyo—lebih segar, lebih ringan, dan terasa seperti membawa ruang yang lebih luas ke dalam dada.

 Mio yang turun dari belakang segera berjalan ke sisi Naoya dan menggenggam tangan kakaknya erat-erat.

 “Ayo, kak,” katanya. “Kita taruh barang-barang berat di penginapan dulu.”

 Naoya mengangguk. “Iya.”

 Dari stasiun, mereka berjalan ke arah penginapan yang sudah Mio pesan sebelumnya. Jalanan lebih tenang daripada yang biasa ia lalui, dan bunyi langkah mereka terasa jelas di antara angin yang lewat pelan. Naoya sempat menoleh ke samping dan melihat Mio berjalan dengan langkah ringan, sesekali meliriknya seakan memastikan kakaknya tetap ada di tempat yang seharusnya.

 Di lobi penginapan, seorang wanita muda yang menjaga meja resepsionis menyambut mereka dengan senyum sopan. Setelah mengonfirmasi nama pemesan dan memeriksa catatannya, ia menyerahkan kunci kamar kepada Naoya dengan kedua tangan.

Lihat selengkapnya