Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #28

Kastil di Ketinggian

Begitu mereka tiba di kaki Gunung Kinka, Mio langsung berhenti melangkah dan menengadah dengan mata berbinar-binar.

 “Wahh… gunung ini indah sekali.”

 Naoya yang berdiri di sampingnya ikut mengangkat pandangan. Lereng hijau membentang luas, beberapa bagian masih basah oleh embun pagi, dan angin yang turun dari atas sana membawa aroma tanah lembap yang segar. Di kejauhan, garis pepohonan bergoyang pelan, seolah seluruh gunung itu sedang bernapas dengan tenang.

 Beberapa perempuan pemandu wisata berdiri di dekat jalur masuk, membagikan brosur kepada para pengunjung. Mereka tersenyum ramah sambil menunjuk arah ke atas, ke area kastil yang tampak samar di antara cabang-cabang pohon dan kabut tipis.

 Naoya menerima salah satu brosur itu dengan sopan. Di halaman depannya tertulis gambar benteng yang gagah, dengan latar langit biru dan pepohonan musim semi yang baru mulai penuh.

 Mio mendekat dari sisi kakaknya, lalu mengintip brosur itu dengan wajah penuh rasa ingin tahu. “Itu kastil Oda Nobunaga, ya?”

 Salah satu pemandu yang mendengar pertanyaan itu tersenyum dan menjelaskan dengan nada antusias, seolah sudah sangat terbiasa menjawab pertanyaan semacam ini.

 “Benar sekali. Ini area Kastil Gifu. Dahulu tempat ini sangat penting secara strategis, dan wilayahnya erat dengan sejarah Oda Nobunaga. Sekarang pengunjung bisa naik ke atas dengan kereta gantung, atau mendaki jalan kaki sampai ke area kastil kalau ingin menikmati pemandangan sepanjang perjalanan.”

 Mio langsung mengeluarkan suara kecil penuh kekaguman. “Jadi ada pilihan naik atau jalan kaki.”

 “Iya,” jawab pemandu itu ramah. “Kalau naik kereta gantung, lebih cepat dan praktis. Tapi kalau berjalan, Anda akan bisa menikmati suasana alamnya lebih lama.”

 Naoya mendengar itu sambil mengangguk. Matanya sempat beralih ke jalur pendakian yang berliku di sisi gunung. Jalur itu tampak tidak terlalu berat, tapi cukup panjang untuk membuat orang yang melaluinya benar-benar merasakan perjalanan, bukan sekadar tujuan akhir.

 Mio memegang brosur itu dengan kedua tangan, lalu menoleh ke arah Naoya dengan senyum yang seakan tidak bisa disembunyikan. “Naoya-nii, ini seru sekali.”

 Naoya menatap adiknya. Wajah Mio tampak begitu cerah di bawah sinar matahari pagi. Ada sesuatu yang lembut dan mudah pecah dalam ekspresi itu, sesuatu yang membuat Naoya tanpa sadar ingin menjaga senyum itu tetap bertahan lebih lama.

 “Kalau kau suka, berarti memang bagus,” katanya pelan.

 Mio langsung tersenyum lebih lebar, lalu tanpa malu-malu memeluk lengan Naoya erat-erat. “Aku senang sekali bisa liburan berdua seperti ini.”

 Naoya tersentak kecil karena pelukan itu datang tiba-tiba, tapi ia tidak menolak. Ia hanya mengusap pelan ujung kepala Mio dengan jari-jarinya, lalu berkata, “Kau terlihat sangat bahagia.”

 “Karena memang aku bahagia.”

 Suara Mio terdengar sangat jujur sampai Naoya merasa tak perlu menambahkan apa-apa lagi.

 Mereka berjalan beberapa langkah lagi menuju area pembelian tiket ketika tiba-tiba perut Mio berbunyi cukup keras.

 Suara itu memecah udara pagi dan membuat Naoya berhenti sejenak. Mio langsung membeku, lalu wajahnya memerah sedikit sebelum akhirnya ia buru-buru menutup perutnya dengan kedua tangan.

 “…Aduh.”

 Naoya tak tahan dan tertawa. Mio menatapnya dengan ekspresi campuran antara malu dan kesal, tapi justru karena itulah Naoya tertawa semakin ringan.

 “Perutmu protes,” kata Naoya sambil menggeleng kecil.

 “Bukan protes,” bantah Mio cepat, walau wajahnya makin merah. “Ini… cuma… alarm.”

 “Alarm?”

 “Ya. Alarm kalau aku lapar.”

Lihat selengkapnya