Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #29

Yang Kukagumi Dari Dirimu

Sore itu supermarket di sudut distrik itu dipenuhi cahaya putih yang terlalu terang, seperti siang yang dipaksa terus bekerja meski matahari sudah mulai turun. Di rak sayur yang dingin, Nagisa berdiri dengan keranjang belanja di lengannya, memeriksa daun selada satu per satu sambil sesekali menekan permukaan tomat dengan ujung jari. Ia tinggal di apartemen sendirian untuk bulan ini, tapi bulan depan sharehouse baru yang sudah ia pilih akan mulai ditempati, jadi ia sedang berusaha membeli bahan yang cukup awet untuk persediaan beberapa hari ke depan.

 Ia mengambil seikat wortel, lalu mengembalikannya lagi setelah melirik label harga.

 “Yang ini masih mahal. Kata Naoya aku harus hemat.” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

 “Ratu tidur siang, sudah belum pilih-pilihnya?”

 Suara itu datang dari samping, terlalu akrab untuk disangka milik orang lain. Nagisa menoleh dan mendapati Ako berdiri di ujung rak, memakai apron supermarket berwarna gelap dengan name tag yang miring sedikit di dadanya. Rambutnya diikat cepat, beberapa helai rambut lepas di sisi pipi, dan ekspresinya seperti orang yang sedang berusaha tetap sopan sambil menahan kekesalan kecil.

 Nagisa mengangkat alis. “Oh, jadi kamu kerja di sini.”

 “Baru sadar?” balas Ako, sambil mendorong troli kecil yang berisi kardus stok. “Serius, kamu datang ke sini pas jam sibuk. Aku hampir lupa kalau dunia ada orang lain selain pembeli yang suka meletakkan bawang di tempat melon.”

 Nagisa memutar mata. “Kalau udah, jangan berisik.”

 Ako mendecak, lalu tertawa pendek. “Itu jawaban apa?”

 Nagisa hendak membalas, tapi seorang perempuan paruh baya dari ujung lorong sudah lebih dulu menoleh tajam ke arah mereka. Wajahnya tegas, suaranya keras, dan aura “jangan macam-macam” menempel begitu alami sampai semua orang yang mendengar pasti langsung paham siapa yang sedang memegang kendali.

 “Ako! Jangan ngobrol terus! Kalau masih ada barang yang belum diisi, cepat!” teriaknya.

 Ako langsung mengangkat tangan, setengah meringis. “Siap, bos.”

 Ia menoleh lagi ke Nagisa, ekspresinya seketika berubah jadi lebih ringan, seolah omelan tadi tidak benar-benar menyentuhnya. “Aku balik kerja dulu. Pilih aja yang bagus. Jangan beli yang sudah mau menyerah hidup.”

 “Berisik,” kata Nagisa lagi, tapi kali ini sudut bibirnya bergerak sedikit.

 Ako membalas dengan menjulurkan lidah, lalu berlari kecil kembali ke lorong stok. Nagisa hanya bisa menggeleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu. Di luar, Ako sering terlihat seperti orang yang gampang tertawa dan gampang bercanda, tapi anehnya semua orang di sekelilingnya tidak pernah benar-benar kesal lama-lama. Bahkan perempuan galak yang tadi berteriak pun sepertinya hanya mengomel karena sudah terbiasa memelihara orang-orang ceroboh seperti Ako.

 Nagisa kembali menatap rak sayur. Tangannya terhenti di atas brokoli, lalu ia menghela napas dan memasukkannya ke keranjang. Satu per satu ia memilih bahan yang paling segar, kadang berhenti lebih lama di depan label diskon, kadang memiringkan kepala untuk mengecek warna daun bayam. Ada sesuatu yang menenangkan dari memilih hal-hal kecil seperti ini, sesuatu yang membuatnya merasa seolah hidupnya, setidaknya untuk beberapa menit, bisa diatur hanya dari keputusan sederhana: yang mana lebih segar, yang mana lebih murah, yang mana bisa bertahan sampai tiga hari ke depan.

 Namun supermarket hari itu tidak memberinya banyak ruang untuk diam. Suara pengumuman kasir, roda troli, dan panggilan pelanggan bercampur jadi latar yang terus bergerak. Di tengah lorong makanan kering, Ako kembali muncul untuk sebentar, kali ini bersama dua kotak stok mie instan di lengannya. Ia sempat menoleh ke Nagisa dan mengangkat dagu kecil, seperti berkata tanpa kata, lihat, aku masih kerja.

 Nagisa mendengus pelan, lalu kembali memilih jamur.

 Ketika belanjaannya selesai, keranjangnya sudah penuh dengan wortel, tomat, jamur, tahu, telur, dan beberapa bahan untuk makan malam yang cukup sederhana. Ia mendorong keranjang ke kasir, membayar, dan menerima kantong belanja dengan tangan sedikit pegal. Saat ia sedang merapikan struk, suara Ako kembali memanggil dari rak seberang.

 “Nagisa! Kamu hari ini nggak ada shift kan?”

 “Nggak,” jawab Nagisa sambil menoleh.

 “Kalau gitu tungguin aku di luar. Shiftnya selesai dua puluh menit lagi.”

 Nagisa menghembuskan napas panjang, lalu melirik ke arah pintu keluar yang sudah kelihatan dari kejauhan. “Aku tahu. Aku tambah barang dulu.”

 “Tambah apa?”

 “Minuman.”

 Ako hendak membalas, tapi perempuan paruh baya tadi sudah melirik tajam lagi, jadi ia buru-buru membungkuk kecil dan melanjutkan kerja. Nagisa menatap punggungnya sebentar, lalu membawa kantong belanja ke rak pendingin di dekat kasir. Di sana ada deretan minuman dingin, botol teh, kopi, susu, dan jus yang tertata rapi. Ia mengambil sebotol ocha, dinginnya terasa menembus telapak tangan bahkan sebelum dibuka.

 Ia sempat berdiri di dekat jendela kaca supermarket sambil menunggu, memandangi orang-orang yang masuk dan keluar dengan langkah cepat. Ada keluarga kecil membawa anak balita, ada pegawai kantor yang terlihat lelah, ada sepasang anak sekolah yang tertawa sambil membandingkan camilan. Hidup semua orang bergerak terus, tapi anehnya tidak ada yang terlihat tahu ke mana mereka sedang benar-benar menuju.

 Nagisa menunduk sedikit dan meneguk ocha itu perlahan.

 Ia sudah hampir menghabiskannya ketika Ako akhirnya keluar dari pintu staf. Seragam kerja supermarket sudah diganti dengan cardigan tipis dan kaus sederhana, rambutnya tetap diikat, tapi kali ini wajahnya jauh lebih santai. Ia membawa tas kecil di bahu dan mengibas-ngibaskan tangan pada Nagisa begitu melihatnya.

 “Masih nunggu?” tanya Ako.

 “Nggak, aku cuma kebetulan berdiri di sini,” jawab Nagisa, datar tapi tidak sungguh-sungguh.

Ako terkekeh. “Berarti nunggu.”

 Mereka berjalan pelan menjauh dari pintu supermarket. Trotoar di depan toko itu cukup lebar, dengan bangku panjang di sisi jalan dan beberapa pot tanaman kota yang dibiarkan tumbuh seadanya. Nagisa duduk di salah satu bangku, meletakkan kantong belanja di sampingnya, sementara Ako berdiri dulu mengubah posisi tasnya sebelum akhirnya ikut duduk.

 “Capek,” kata Ako sambil meregangkan bahu.

 “Kamu yang minta kerja sambilan di tempat besar begini,” balas Nagisa.

 “Karena gajinya lumayan. Aku mau beli setumpuk manga BL.”

 “Kamu suka mengeluh tapi juga suka uangnya.”

 “Aku merasa itu definisi paling jujur tentang diriku,” kata Ako tanpa malu.

 Nagisa mendengus kecil. Ocha di tangannya sudah habis sejak tadi, botolnya kini kosong dan dingin. Ia memiringkan tubuh sedikit ke belakang, membiarkan udara sore menyentuh wajahnya. Sambil berbicara, Ako bertanya-tanya tentang hal-hal kecil: apakah Nagisa sudah mulai menata barang-barang yang akan dibawa ke sharehouse, apakah tidur di tempat baru akan sulit, apakah apartemen sekarang sudah tidak terlalu kosong.

 Pembicaraan itu mengalir begitu saja sampai akhirnya Nagisa, setelah jeda singkat, bertanya dengan nada yang terdengar santai tapi sebenarnya sudah ia pikirkan sejak tadi.

 “Naoya emang pergi ke mana?”

 Ako menoleh. “Hm?”

 “Hari ini dia nggak ada.”

 Ako memejamkan mata sebentar, mengingat pesan yang masuk dari Naoya pagi itu. “Oh. Dia bilang dia sama Mio lagi ngerayain Sibling’s Day.”

 Nagisa terdiam.

 “Sibling’s Day? Bukannya sudah lewat?” ulangnya, seolah sedang memutar kalimat itu di mulutnya sendiri.

 Ako mengangkat bahu. “Aku juga nggak ngerti. Aku anak tunggal, jadi jangan tanya aku. Naoya kayaknya cuma bilang, hari ini dia mau dihabiskan sama adiknya.”

 Nagisa memandangi jalan di depan mereka, lalu menunduk ke botol kosong di tangannya. Ada sesuatu yang bergerak halus di wajahnya ketika ia mendengar itu, sesuatu yang tidak sepenuhnya senyum, tapi juga bukan kesedihan. Lebih seperti rasa kagum yang terlalu lembut untuk diberi nama.

 “Dia benar-benar sayang sama Mio, ya,” gumam Nagisa.

 Ako menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya. Wajah Nagisa yang tadi agak datar kini tampak lebih tenang, seolah ada bagian dalam dirinya yang mendadak menemukan sesuatu yang bisa dipercaya. Teduh. Itulah kata yang paling cocok, dan Ako tahu kata itu agak aneh untuk seorang perempuan yang biasanya tampak mudah gelisah.

 Nagisa yang menyadari tatapan itu langsung memalingkan wajah.

 “Kenapa?” 

“Tidak,” kata Ako, lalu tersenyum miring. “Cuma aneh aja. Kamu tadi ngomongnya kayak orang yang lagi mengagumi sesuatu.”

 “Memangnya salah?”

 “Nggak salah.” Ako mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. “Cuma lucu.”

 Nagisa memegangi botol kosongnya, lalu tanpa banyak pikir melemparkannya pelan ke arah Ako. Botol plastik itu memantul di lengan Ako sebelum jatuh ke pangkuannya.

 “Berisik,” kata Nagisa, tapi pipinya sudah berubah merah tipis.

 Ako tertawa sejadi-jadinya sampai beberapa orang yang lewat menoleh. “Aduh, maaf, maaf. Tapi serius, wajahmu tadi lucu banget.”

 “Jangan bilang begitu.”

 “Kenapa? Karena kamu malu?”

 “Karena kamu menyebalkan.”

 Ako menepuk-nepuk dadanya sendiri seolah tersinggung. “Aku? Menyebalkan? Padahal aku sedang mengagumi kemampuanmu memandang Naoya dengan wajah seolah-olah dia turun dari langit.”

Lihat selengkapnya