Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #30

Oichi

Langkah mereka mulai melambat setelah tanjakan kedua, lalu ketiga.

 Naoya tidak mengeluh. Ia hanya menarik napas lebih dalam dari biasanya, menahan rasa pegal di betis yang perlahan naik ke paha, sementara Mio di sebelahnya juga sesekali berhenti sebentar untuk menegakkan tubuh. Jalur mendaki itu tidak terlalu curam, tapi cukup panjang untuk membuat kaki terasa berat, apalagi setelah mereka berjalan dari bawah cukup lama. Untungnya, sepanjang sisi jalan, bunga sakura bermekaran dengan sangat lebat.

 Kelopaknya jatuh pelan tertiup angin, menempel sebentar di rambut Mio, lalu lepas lagi saat adiknya tertawa kecil dan menepuk pipinya sendiri.

 “Indah sekali…” gumam Mio sambil menengadah. Suaranya sedikit terputus karena napasnya juga mulai tak beraturan. “Walaupun aku tinggal di Jepang terus, aku tetap merasa sakura itu selalu bikin kagum.”

 Naoya menoleh padanya. “Kagum?”

 “Iya.” Mio mengangkat wajah, matanya mengikuti dahan-dahan yang dipenuhi bunga putih pucat itu. “Soalnya setiap tahun aku selalu berpikir, ‘oh, sakura lagi.’ Tapi begitu lihat langsung… tetap saja cantik sekali. Seperti pertama kali lihat.”

 Naoya tersenyum kecil. Udara di lereng gunung terasa lebih dingin daripada di kota, tapi bukan dingin yang mengganggu. Justru cukup segar untuk membuat kulit terasa hidup. Di antara barisan pohon, tampak lembar-lembar langit biru yang terpotong ranting, dan di bawahnya, jalur setapak yang mereka lalui terlihat seperti garis tipis yang naik ke arah masa lalu.

 “Kalau begitu,” kata Naoya, “berarti sakura memang punya cara supaya orang nggak terbiasa sepenuhnya.”

 Mio menoleh cepat, lalu mengangguk beberapa kali. “Benar. Seperti kakak.”

 Naoya mengerjap. “Apa hubungannya?”

 “Karena kakak juga selalu bikin aku tidak bisa terbiasa.” Mio melangkah mendekat dan menyenggol lengan Naoya dengan bahunya. “Aku pikir aku sudah tahu semuanya, tapi ternyata tiap kali lihat kakak tetap saja… ada rasa yang beda.”

 Naoya tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat tangan, lalu mengusap pelan ujung kepala Mio seperti biasa. Gerakan itu sederhana, tetapi Mio seolah langsung tenang karenanya. Adiknya mempercepat langkah sedikit, lalu berjalan lebih dekat lagi, sampai bahu mereka sesekali bersentuhan.

 Di salah satu tikungan, mereka berdua berhenti. Dari situ, pemandangan ke bawah terbuka lebih luas. Cabang-cabang sakura membingkai lereng gunung, dan di kejauhan bangunan kastil itu mulai tampak samar, tinggi di puncak dengan dinding dan atap yang membuatnya terlihat seperti sesuatu yang sengaja diletakkan di atas awan.

 Mio menahan napas.

 “Naoya-nii,” bisiknya.

 Naoya mengikuti arah pandang Mio, lalu ikut diam. Semakin mereka mendekat, kemegahan kastil itu makin jelas. Batu-batu fondasinya tampak kokoh, dan garis atapnya terlihat tajam meski dari jauh. Ada sesuatu yang megah sekaligus angkuh dalam siluetnya, sesuatu yang membuat orang yang melihatnya merasa kecil tanpa harus diberi tahu.

 “Itu…” Mio menatap tanpa berkedip. “Rasanya seperti benteng yang benar-benar penting.”

 

“Memang,” jawab Naoya pelan. “Dari era Nobunaga.”

 Mio langsung menoleh, seolah kagum bahwa kakaknya menjawab begitu cepat. “Kakak tahu juga?”

 “Aku setidaknya nggak sepenuhnya kosong soal sejarah Jepang.”

 Mio terkekeh. “Aku nggak bilang begitu.”

 “Tapi ekspresimu seperti itu.”

 Mio pura-pura memalingkan wajah. “Jahat.”

 Naoya tertawa kecil, lalu mereka kembali melanjutkan jalan. Angin di jalan setapak itu makin terasa lembut, dan sakura yang berguguran di sekitar mereka membuat langkah yang melelahkan sedikit lebih ringan.

 Begitu sampai di area museum, suasananya berubah. Dari jalur alam yang terbuka, mereka masuk ke bangunan yang lebih tenang, lebih tertata, dengan lantai yang halus dan ruangan-ruangan yang menampilkan benda-benda sejarah. Bau kayu tua bercampur dengan udara dingin dari pendingin ruangan. Suara pengunjung lain terdengar pelan, nyaris seperti bisikan.

 Mio langsung melambat di sebelah Naoya, lalu menatap salah satu panel informasi yang menampilkan silsilah dan ilustrasi sejarah klan Oda. Ia membaca sebentar, kemudian matanya membesar sedikit seperti baru menemukan sesuatu.

 “Ah.”

 Naoya melirik. “Ada apa?”

Lihat selengkapnya