Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #31

Tidak Akan Membiarkannya

Mereka baru saja turun dari jalur pendakian Gunung Kinka ketika Mio berhenti di tengah jalan setapak dan memegangi perutnya.

 “Lapar,” katanya dengan nada serius yang sama sekali tidak terasa serius. Ia menoleh ke Naoya dengan wajah paling polos yang bisa ia pasang. “Onii-chan, kasih aku uang.”

 Naoya yang sedang mengatur napas hanya memandangnya sejenak, lalu tertawa pelan. “Baru saja tadi makan camilan di atas.”

 “Itu udah lama,” protes Mio cepat. “Aku adik. Kakak harusnya punya uang lebih banyak daripada adiknya.”

 Naoya menghela napas dengan senyum tak berdaya. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan sejumlah uang, lalu menyerahkannya pada Mio. “Baiklah. Tapi jangan boros.”

 Mio langsung menerima uang itu dengan wajah cerah seperti seseorang yang baru saja menang dalam perlombaan. “Tentu saja nggak. Aku akan memilihkan yang enak untuk kita berdua.”

 “Bukan ‘aku’ saja?” tanya Naoya sambil bercanda.

 “Untuk kita berdua,” Mio menegaskan sambil menatapnya tajam seolah itu masalah prinsip.

 Naoya hanya bisa menggeleng sambil tertawa, dan Mio berbalik dengan langkah ringan menuju deretan kedai makanan yang berjejer di area istirahat. Di antara pengunjung lain, ia terlihat seperti gadis muda yang baru saja pulang sekolah, bukan seseorang yang tadi menapaki jalan menanjak cukup lama. Wajahnya yang lelah seolah lenyap begitu saja. Senyum itu menempel rapi di bibirnya, begitu rapi sampai bahkan gerak tangannya saat berbicara dengan penjual di salah satu stan terasa natural, akrab, dan menyenangkan.

 “Dua okonomiyaki, ya? Yang besar,” katanya pada penjual sambil membungkuk sedikit. “Ah, kalau bisa yang sausnya lebih banyak. Kakakku suka yang agak manis.”

 Penjual itu tertawa kecil dan menjawab sesuatu yang membuat Mio ikut cekikikan. Ia menunggu dengan sabar di sisi stan, menepuk-nepuk ujung roknya sendiri, sesekali membetulkan rambut sebelum kembali memasang senyum yang tampak begitu tulus hingga tak seorang pun di sekitar mereka akan berpikir ada yang disembunyikan di baliknya.

 Naoya berdiri tak jauh, menunggu di bangku dekat area istirahat, sambil memandangi Mio dari kejauhan. Ada kehangatan aneh yang selalu muncul tiap kali ia melihat adiknya seperti itu. Mio bisa berubah menjadi sangat lincah, sangat manis, seolah dunia memang diciptakan agar ia bisa tersenyum tanpa usaha. Naoya telah cukup lama tinggal bersamanya untuk tahu betapa wajarnya hal itu terlihat, dan betapa dalam dirinya sendiri hal itu terasa menyelamatkan.

 Beberapa menit kemudian, pesanan selesai. Mio menerima dua kotak okonomiyaki yang masih ngebul hangat di kedua tangannya. Dengan hati-hati ia membawa dua porsi makanan itu, membalikkan tubuh, dan berniat untuk segera kembali berjalan menghampiri Naoya yang menunggunya di bangku kayu seberang taman.

 Namun baru beberapa langkah berjalan, ritme langkah ringan Mio mendadak terhenti.

 Ia melewati sebuah papan pengumuman komunitas yang berdiri di dekat koridor jalan taman. Di sana, di balik kaca pembatas yang buram, perhatian Mio secara tidak sengaja tersangkut pada salah satu kertas yang tertempel di antara pengumuman barang hilang dan brosur warga setempat.

 Dan di sanalah retakan itu terjadi. Seluruh dunia hangat di sekelilingnya seketika pecah berkeping-keping.

 Mio membeku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya yang memegang kotak okonomiyaki mendadak terasa kaku dan kehilangan seluruh kekuatan emosionalnya.

Lihat selengkapnya