Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #32

Dini Hari

Pukul dua dini hari selalu punya cara sendiri untuk membuat kota terasa tidak manusiawi.

 Begitu taksi berhenti di area parkiran apartemen, Nagisa menghela napas panjang sambil membayar argonya dengan wajah masam. Harga yang tertera di layar membuat alisnya hampir bertaut. Ia sudah cukup lelah untuk marah lebih keras, jadi yang keluar dari mulutnya hanya gumaman kecil saat ia turun dari mobil dan menutup pintu dengan sedikit terlalu kuat.

 “Kalau jam segini, mereka memang sengaja,” keluhnya kepada udara kosong.

 Lampu parkiran yang kekuningan memantul di aspal lembap. Angin malam menusuk pelan, tapi tidak cukup untuk mengusir rasa pengap yang masih menempel di punggungnya setelah perjalanan pulang yang terlalu panjang. Nagisa membawa tasnya erat-erat, menaiki tangga ke lobi sambil mengumpat dalam hati pada tarif taksi dini hari yang terasa seperti hukuman karena dia pulang terlalu terlambat.

 Di pintu kamar, ia sempat berhenti dan menggerakkan bahunya yang pegal.

 “Mandi dulu ah,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Biar kepala agak dingin.”

 Saat pintu terbuka, ruangan kecil itu menyambutnya dengan sunyi yang dingin. Kamar apartemen itu tidak besar, tapi malam membuatnya terasa lebih sempit dari biasanya. Nagisa menyalakan lampu, meletakkan tas, lalu tanpa banyak berpikir langsung masuk ke kamar mandi. Air hangat menenangkan tubuhnya sedikit demi sedikit. Setelah itu, ia berendam sebentar di bathtub, memejamkan mata sambil membiarkan uap naik ke wajahnya seperti selimut yang terlalu tipis.

 Namun bahkan setelah mandi, kelelahan tidak serta-merta hilang. Ia hanya berpindah tempat.

 Nagisa keluar dengan handuk melilit tubuhnya, rambut masih basah menetes di bahu. Ia berdiri sebentar di depan cermin, menatap pantulan dirinya dengan tatapan kosong, lalu menunduk untuk mengeringkan ujung rambut. Ruangan itu sunyi. Sunyi yang terlalu bersih, terlalu kosong.

 Sampai ponselnya bergetar.

 Nagisa menoleh. Layar menyala di atas meja kecil di dekat tempat tidur. Nama yang muncul bukan nama yang ia kenal. Nomor tak dikenal. Ia memandangnya beberapa detik, lalu dengan malas mengangkat panggilan itu.

 “Halo?”

 Sesaat tidak ada jawaban. Hanya desis napas yang samar, lalu suara laki-laki yang sudah lama tidak ia dengar, tapi masih terlalu mudah dikenali.

 “Nagisa.”

 Seluruh tubuhnya kaku.

 Hikaru.

 Bukan karena ia ingin mendengar suaranya, justru karena tubuhnya langsung mengerti lebih dulu sebelum pikirannya sempat menolak. Nagisa menahan napas. Jari-jarinya yang masih basah memegang ponsel dengan erat.

Lihat selengkapnya