Kamar itu masih sama.
Nagisa mengetahuinya begitu membuka mata dan menatap langit-langit berlapis ukiran yang terlalu mewah untuk disebut hangat. Lampu gantung kristal kecil di sudut ruangan memantulkan cahaya putih lembut ke dinding krem, dan tirai tebal berwarna gading menutup rapat jendela tinggi yang menghadap ke pegunungan. Udara di dalam kamar terasa mahal, bersih, dan asing—bau samar bunga kering bercampur parfum ruangan, seperti seseorang berusaha membuat tempat ini tampak tenang padahal tidak pernah benar-benar tenang.
Itu bukan kamar asing.
Tahun lalu, kamar ini sempat jadi salah satu titik kumpul pesta malam Natal. Ia masih ingat suara orang-orang yang tertawa dengan segelas minuman di tangan, musik yang terlalu keras untuk percakapan yang sebenarnya tidak penting, dan hawa dingin pegunungan yang masuk dari celah pintu saat seseorang bolak-balik keluar masuk. Saat itu kamar ini terasa seperti bagian dari pesta. Seperti ruang istirahat sementara sebelum malam kembali ramai.
Sekarang, kamar ini seperti kotak tertutup.
Nagisa duduk diam di tepi ranjang besar yang sepreinya rapi seperti belum pernah disentuh siapa pun. Di pergelangan tangannya masih ada bekas merah samar dari genggaman semalam, dan di kepalanya denyut pusing belum sepenuhnya hilang. Ia menahan napas pelan lalu menghembuskannya lagi, mencoba menghitung, mencoba membuat pikirannya berhenti berlari ke tempat-tempat yang lebih buruk.
Tidak berhasil.
Tangannya gemetar saat ia berdiri. Kakinya terasa lemah, seakan tubuhnya belum sepenuhnya sepakat untuk kembali menanggung berat dirinya sendiri. Ia berjalan ke arah pintu, meraih gagangnya, lalu mendorong.
Tidak bergerak.
Nagisa menarik napas lebih dalam. Ia mencoba lagi, lebih kuat. Gagang pintu itu tetap dingin dan diam di telapak tangannya, tidak memberi apa pun selain rasa bodoh karena sudah mencoba.
Dikunci.
Ia memejamkan mata sebentar, lalu membiarkan bahunya turun. Kemudian, tanpa sadar, ia kembali duduk di atas ranjang. Gerakannya pelan, tapi cukup membuat kasur empuk itu mengempis sedikit di bawah tubuhnya. Ia menaikkan kedua kaki ke atas ranjang, lalu memeluk dirinya sendiri erat-erat, seolah jika lengannya cukup kuat maka rasa takutnya bisa dipaksa menyusut.
Tidak ada air mata lagi.
Itulah yang paling menakutkan.
Tadi malam, atau beberapa jam yang lalu, ia masih menangis sampai wajahnya terasa perih. Sekarang matanya kering, tenggorokannya kaku, dan yang tersisa hanya rasa ngeri yang menetap di dada seperti batu berat yang tidak bisa ia keluarkan. Ia menatap ujung seprai, lalu ke gelas piala bening yang diletakkan di meja kecil di samping ranjang. Air putih di dalamnya tampak biasa, terlalu biasa, untuk situasi yang sama sekali tidak biasa.
Nagisa mengambilnya dengan tangan yang masih bergetar. Gelas itu dingin, licin di permukaan. Ia meneguk sedikit, lalu sedikit lagi. Airnya terasa hambar, tapi setidaknya tenggorokannya tidak lagi sekeras tadi. Ia meletakkan gelas itu kembali, menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan menghela napas pendek.
Di luar, sunyi.
Mansion pegunungan itu seolah berhenti bernapas bersama dirinya. Tidak ada suara orang yang bercakap-cakap dari bawah, tidak ada musik, tidak ada langkah tergesa. Sunyi yang dipasang dengan sengaja biasanya justru lebih menakutkan daripada keramaian. Karena sunyi seperti ini tidak datang untuk menenangkan. Sunyi datang untuk menunggu.
Nagisa menatap pintu kamar lagi.
Beberapa detik kemudian, berderaklah engselnya.