Cahaya matahari yang menembus kaca-kaca tinggi ballroom itu terasa terlalu tajam, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun sudut ruangan yang bisa menyembunyikan wajah, pakaian, atau niat orang-orang yang hadir di dalamnya. Lantainya mengilap seperti permukaan air yang dipoles habis, memantulkan sepatu-sepatu mahal, gaun-gaun berlapis kain impor, dan setelan gelap yang dipakai dengan cara yang membuat pemiliknya tampak seakan lahir untuk berada di ruangan ini.
Nagisa sudah beberapa kali datang ke acara seperti ini bersama Hikaru, tetapi siang itu rasanya tetap saja berbeda. Bukan karena dekorasi, bukan karena susunan meja, bukan pula karena jumlah fotografer atau para tamu berpengaruh yang berlalu-lalang sambil tertawa kecil. Yang berbeda justru sesuatu yang terlalu sederhana untuk langsung dijelaskan: sikap Hikaru.
Lelaki itu berdiri di sisi kanannya dengan bahu tegap, jas hitamnya jatuh rapi di tubuh tinggi yang memang sudah lama tahu bagaimana caranya menarik perhatian. Tangannya beberapa kali menyentuh lengan Nagisa dengan gerakan kecil yang tampak sopan dari luar, tetapi terasa seperti penegasan bahwa ia sedang di sini bersama siapa dan siapa yang seharusnya mengingat itu. Nagisa menahan napas pendek setiap kali jemarinya terasa digenggam terlalu lama.
Di depan ruangan, Haruto Asano membuka acara siang itu dengan senyum lebar yang tidak pernah tampak sebagai sekadar senyum. Wajahnya bersih, bugar, dan berwibawa dengan setelan jas yang jatuh sempurna di tubuhnya.
Di sampingnya, Yumi Asano berdiri dengan gaun berwarna pucat yang membuat kulitnya yang terawat tampak makin cerah. Usia empat puluh tahunan tidak membuatnya tampak melemah; justru ada sesuatu yang menonjol dari cara ia membawa diri, seolah waktu hanya lewat di sekelilingnya tanpa sempat menyentuh apa pun yang ia sayangi.
Mereka tampak sangat mesra saat membuka acara, dan hal itu justru terasa lebih aneh daripada jika mereka terlihat kaku. Haruto meletakkan tangan di punggung istrinya saat berbicara, sementara Yumi menanggapi setiap kalimat dengan senyum kecil yang dipahami semua orang di ruangan itu sebagai senyum seorang istri yang tahu kapan harus tampak anggun dan kapan harus membiarkan suaminya tampak paling berkuasa.
“Selamat datang,” suara Haruto bergema lewat pengeras suara dengan nada ramah yang telah terlatih. “Kami bersyukur keluarga besar Asano bisa kembali mengadakan acara amal tahunan ini di tengah hari yang cerah ini.”
Tepuk tangan pun meledak.
Bukan tepuk tangan yang benar-benar spontan. Tepuk tangan seperti ini punya ritme yang sangat seragam, terlalu rapi, seperti sesuatu yang memang sudah disiapkan bersama katalog menu dan susunan kursi. Namun tetap saja, ruangan itu dipenuhi bunyi telapak tangan yang bertemu dengan cepat. Haruto kemudian mengundang Menteri Kesehatan untuk memberikan sambutan.
Pria itu melangkah maju dengan setelan abu-abu gelap yang rapi. “Dukungan dari keluarga Asano hari ini adalah bukti nyata komitmen kita pada inovasi medis,” ucap sang Menteri dengan suara berat yang berwibawa, memenuhi aula. “Pemerintah tidak bisa berdiri sendiri, dan hari ini kita melihat sinergi tersebut diwujudkan dalam riset rekayasa genetika yang akan menopang masa depan negara ini. Investasi yang kita saksikan bukan sekadar angka, tapi sebuah harapan.”
Ruangan kembali bergemuruh oleh tepuk tangan. Haruto tersenyum lebih lebar. Yumi menunduk sedikit, lalu menatap suaminya dengan kebanggaan yang terasa nyaris intim.
Acara itu, seperti setiap tahun, adalah acara amal yang memakai kata amal dengan sangat cerdas. Sebuah penyerahan bantuan simbolis bernilai miliaran yen kepada pihak kementerian untuk mendukung terobosan riset teknologi rekayasa genetika terbaru yang akan dibiayai pemerintah. Nilainya besar. Judulnya meyakinkan. Gambar yang tercipta di mata publik nyaris sempurna.
Dan semua orang tahu bagian mana yang paling penting: bukan bantuan itu sendiri, melainkan panggungnya.
Haruto menyambut tepuk tangan itu dengan elegan. Yumi menepuk lengan suaminya ringan, lalu menoleh ke hadirin seakan seluruh ruangan adalah tamu di rumah mereka. Di beberapa meja depan, beberapa orang dari kementerian dan beberapa anggota parlemen tersenyum penuh pengertian. Beberapa keluarga pengusaha terkenal ikut bertepuk tangan dengan wajah yang menyimpan ekspresi yang sama antara hormat, iri, dan perhitungan.
Nagisa memperhatikan semuanya dari balik garis bahu Hikaru.
Ia tidak suka ruangan semacam ini. Bukan karena ia tidak paham aturan-aturannya. Ia justru paham terlalu banyak. Ia tahu bagaimana tertawa pada waktu yang tepat, bagaimana mengangguk pada kalimat yang tidak perlu disetujui, bagaimana menahan wajah agar tidak mengungkapkan terlalu banyak saat sedang diamati. Ia sudah lama hidup dalam dunia di mana orang sering memandang kecantikan lebih dulu, lalu memutuskan sisanya belakangan. Maka ia terbiasa menjadi tampilan sebelum menjadi manusia.
Tetapi siang itu ia merasa lebih sempit dari biasanya.
Mungkin karena orang-orang di ruangan ini bukan hanya melihat keluarga Asano. Mereka juga melihat dirinya.
Seorang perempuan muda yang berdiri menggandeng putra pewaris keluarga besar itu—walau mungkin istilah “menggandeng” terlalu sopan untuk sesuatu yang pada kenyataannya lebih terasa seperti dipasang di tempat yang sudah ditentukan. Nagisa tahu bisikan-bisikan itu sudah mulai berjalan di antara para tamu.
Cantik.
Cocok.
Baru kali ini Hikaru tampak serius.
Kalau dia benar-benar dipilih, mungkin dia memang berbeda.
Nagisa mendengar semuanya tanpa harus mendengarnya benar-benar.
Haruto selesai memberikan sambutan pembuka, lalu memperkenalkan beberapa tokoh penting dari bidang kesehatan dan teknologi. Yumi berdiri di sampingnya seperti mahkota yang hidup. Tepuk tangan kembali terdengar saat bantuan simbolis itu diserahkan dengan penyerahan cheque raksasa yang terlalu besar untuk dipakai sesuatu yang praktis. Kamera-kamera berkilat. Wajah-wajah tersenyum. Logo perusahaan terpampang di belakang panggung. Semua yang diinginkan keluarga Asano ada di sana: pujian, sorotan, legitimasi.
Barulah setelah itu Haruto menoleh ke arah putranya.
“Hikaru,” katanya lantang, dan ruangan langsung memberi perhatian.
Hikaru mengencangkan rahangnya sedikit, lalu melangkah maju. Ia melepaskan lengan Nagisa hanya sebentar agar bisa berjalan dengan mulus ke podium, tetapi begitu mendekat ke mikrofon, tangannya segera kembali memegang lengan Nagisa saat ia berhenti di sampingnya. Gerakannya tampak natural, nyaris gagah. Seorang putra yang baik. Penerus yang tepat.
“Nagisa Kobayashi,” lanjut Haruto sambil tersenyum lebar, “adalah seseorang yang saya perkenalkan siang ini sebagai pasangan putra saya.”
Ruangan itu kembali bertepuk tangan.
Kali ini tepuk tangan terasa lebih tajam di telinga Nagisa.
Ia menahan tubuhnya agar tidak bereaksi. Bahunya tetap tegak. Senyumnya, sekecil apa pun, dipasang dengan latihan yang nyaris otomatis. Beberapa meja di sisi kanan mulai saling berbisik. Seseorang di belakang tampak mencondongkan tubuh, lalu menatap Nagisa dari ujung rambut hingga ujung sepatu. Bukan tatapan kasar, tetapi tatapan orang-orang yang sedang menilai berapa banyak nilai sosial yang dibawa satu perempuan ke dalam hubungan yang baru diumumkan.
Nagisa memaksa dirinya menunduk sedikit.
Hikaru menatap hadirin dengan ekspresi yang nyaris terlalu tenang. “Saya merasa terhormat bisa menghadiri acara seperti ini bersama seseorang yang berharga bagi saya.”
Kalimat itu mungkin terdengar sopan di luar. Tapi Nagisa tahu kata “berharga” di mulut Hikaru bisa berarti banyak hal lain yang lebih sempit dan lebih dingin.
Tepuk tangan berakhir perlahan, tetapi bisikan justru mulai tumbuh.
Ada yang memuji kecantikan Nagisa dengan nada yang dibuat-buat halus.