Malam itu, hujan baru saja berhenti ketika Ako tiba di depan unit apartemen Nagisa.
Lorong lantai itu masih lembap dan berbau samar deterjen, seperti seseorang baru saja mengepel lantai beberapa jam lalu lalu membiarkannya kering setengah hati. Lampu kuning di langit-langit menyala stabil, terlalu tenang untuk malam yang terasa salah sejak awal. Ako masih memegang kunci cadangan di tangan kanan, napasnya masih agak cepat karena tadi ia hampir berlari dari halte.
Begitu ia melihat pintu unit Nagisa, langkahnya langsung berhenti.
Tubuh Nagisa terkulai tepat di depan pintu, setengah bersandar ke dinding, setengah rebah di lantai. Gaun merah yang dikenakannya—gaun yang sebelumnya terlihat terlalu mewah untuk lorong apartemen sempit seperti ini—sudah kusut, robek di beberapa sisi, dan satu bahunya tampak turun tak beraturan. Rambutnya yang biasanya tertata rapi sekarang berantakan, menutupi sebagian wajahnya.
Ako merasakan seluruh tubuhnya lemas dalam sekejap.
“Nagisa—!”
Kunci cadangan yang tadi digenggamnya hampir jatuh. Ia langsung berjongkok dan menerjang ke arah sahabatnya itu, memeluknya erat tanpa pikir panjang. Tubuh Nagisa terasa dingin, terlalu diam, seolah seluruh tenaga yang biasanya membuatnya tampak hidup sudah dicabut dari dalam.
“Nagisa, kamu dengar aku?” suara Ako pecah sendiri. “Kamu baik-baik saja? Ada apa? Kamu ke mana saja? Kenapa kamu—”
Nagisa tidak langsung menjawab.
Kelopak matanya bergerak lambat, sangat lambat, seperti seseorang yang terbangun dari mimpi yang tidak ingin diingat. Saat matanya terbuka sedikit, ada kebingungan pendek yang langsung berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih kosong. Ia baru menyadari bahwa ia sedang dipeluk.
Lalu semuanya pecah.
Bahu Nagisa gemetar. Tangannya terangkat setengah jalan, lalu jatuh lagi sebelum sempat memeluk balik. Air mata mengalir begitu saja, tanpa isak yang rapi, tanpa jeda, tanpa keindahan apa pun. Suaranya keluar patah-patah, hampir tak terdengar.
“Aku nggak menginginkannya…”
Ako membeku.
Nagisa menunduk, wajahnya tertutup sebagian oleh rambut yang kusut. Bahunya bergetar hebat di dalam pelukan Ako, dan kalimat itu keluar lagi, kali ini lebih hancur.
“Aku nggak menginginkannya… aku nggak menginginkannya…”
Ako memeluknya lebih erat, tapi untuk pertama kalinya ia merasa bahwa pelukan saja tidak cukup. Ada sesuatu yang telah melewati batas yang bahkan tidak bisa ia lihat dari luar.
“Apa yang mereka lakukan?” tanya Ako, suaranya turun menjadi bisikan. “Siapa yang melakukannya, Nagisa? Kamu bilang ke aku, ya.”
Nagisa tidak menjawab. Ia hanya menangis, wajahnya semakin tenggelam di bahu Ako. Jemarinya mencengkeram kain pakaian Ako begitu kuat seperti orang yang takut ditinggalkan di tempat gelap sendirian.
“Aku tidak menginginkannya,” ulangnya, kali ini hampir seperti keluhan yang tak punya arah. “Aku tidak… aku tidak…”
Ako menutup mata sejenak. Napasnya sendiri terasa berat.
Di kepalanya, ada banyak pertanyaan yang ingin dipaksa keluar sekaligus. Tetapi melihat Nagisa dalam keadaan seperti ini, ia tahu pertanyaan pertama yang ia ajukan bukanlah yang paling penting. Yang penting sekarang hanya satu: memastikan Nagisa masih ada di sini. Masih hidup. Masih bisa diajak masuk. Masih bisa disentuh tanpa membuatnya pecah lebih jauh.
“Ayo masuk dulu,” gumam Ako pelan.
Ia membopong lengan Nagisa dengan hati-hati, membantu sahabatnya itu berdiri. Kaki Nagisa tampak lemah, hampir tak menopang tubuhnya sendiri. Ako harus memegangnya dari samping agar ia tidak kembali jatuh. Mereka bergerak pelan menuju pintu yang tadi tertutup rapat.
Begitu masuk, udara di dalam apartemen terasa lebih dingin daripada yang seharusnya. Ruang kecil itu rapi, tetapi rapi yang terlalu sepi. Seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya pergi terlalu jauh. Ako menuntun Nagisa ke kamar, lalu menidurkannya di atas kasur.
“Duduk dulu,” katanya lembut sambil merapikan bantal di belakang kepala Nagisa. “Kamu mau minum? Atau makan sesuatu? Aku bisa belikan kalau kamu mau.”
Nagisa menatap langit-langit kamar. Matanya masih kosong, tetapi air matanya terus turun. Ia menggeleng pelan.
Ako menunggu sebentar. “Teh hangat?”
Dia menggeleng lagi.
“Apa pun?” tanya Ako, kali ini lebih pelan.
Nagisa memejamkan mata. “Nggak…”
Ako menggigit bagian dalam pipinya, lalu duduk di pinggir ranjang. Ia ingin bertanya, ingin marah, ingin mengutuk siapa pun yang telah membuat sahabatnya seperti ini. Tapi Nagisa tidak tampak punya tenaga untuk menampung kemarahan orang lain malam ini.
Yang tersisa hanya getaran kecil di ujung jari Nagisa, dan napas yang terdengar tidak teratur.
Setelah beberapa detik, Ako meraih ponselnya. Tidak ada panggilan yang tersambung. Naoya tidak menjawab. Ia mencoba sekali lagi, lalu menahan napas saat nada sambung terus berdering tanpa jawaban. Rasa panik naik lagi di dadanya.
Kalau Naoya tidak bisa dihubungi, maka ada satu pilihan lain.
Ako menoleh ke Nagisa yang masih terbaring diam, lalu berdiri.
“Aku akan cari bantuan,” katanya pelan. “Aku ke rumah Naoya dulu, ya. Aku bakal balik cepat.”