Pagi itu, rumah terasa lebih hangat dari biasanya.
Di dapur yang sempit, uap teh naik tipis dari cangkir yang baru saja dituangkan Naoya. Aroma telur, nasi, dan saus manis yang belum lama selesai dituang masih tertinggal di udara, bercampur dengan bau kayu rumah tua yang akrab dan tak pernah benar-benar hilang meski jendela dibuka setiap pagi.
Naoya menatap isi piring di tangannya sekali lagi sebelum mengangkatnya ke meja makan.
Omelet nasi yang ia buat untuk Mio tampak sederhana, tetapi dibentuk hati-hati. Ia juga sudah menyiapkan teh hangat, lalu menambahkan susu ke gelas lain yang akan dibawa ke kamar tengah untuk Nagisa. Keduanya sudah menjadi kebiasaan kecil selama seminggu terakhir. Kebiasaan yang terasa asing pada awalnya, namun pelan-pelan berubah menjadi bagian dari ritme rumah ini.
Dari ruang depan terdengar langkah ringan.
Mio muncul dengan tas sekolah di bahu, rambutnya masih rapi, dan wajahnya—seperti biasa—dihias senyum yang terlalu cerah untuk jam sepagi ini.
“Onii-chan,” panggilnya manis sambil mencondongkan tubuh ke arah Naoya. “Aku berangkat, ya.”
Naoya menoleh dan tersenyum kecil. “Hati-hati di jalan.”
Mio mengangguk, lalu mendekat tanpa banyak bicara. Pelukannya singkat, tapi hangat. Seperti kebiasaan yang paling wajar di dunia. Naoya mengusap punggung kepalanya sekali, dan Mio menutup mata sejenak, seolah ingin menyimpan sentuhan itu lebih lama.
“Jangan lupa makan siang,” kata Naoya.
“Aku tahu,” jawab Mio cepat, pipinya mengembang sedikit. “Aku bukan anak kecil.”
“Bukan?” Naoya mengangkat alis.
Mio tertawa kecil, lalu menepuk lengan Naoya pelan sebelum akhirnya memundurkan diri. “Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai nanti.”
Naoya mengangkat tangan. “Sampai nanti.”
Mio melangkah keluar rumah dengan ceria, seolah pagi itu sama seperti pagi-pagi lain: ringan, biasa, dan aman.
Pintu depan tertutup.
Dua detik pertama, semuanya masih baik-baik saja.
Lalu Mio yang baru saja menuruni beberapa langkah di luar beranda tiba-tiba melambat.
Senyum yang tadi menempel di wajahnya seperti topeng yang dipasang terlalu lama mulai retak dari pinggir. Bahunya turun sedikit. Tangannya yang memegang tali tas sempat menegang, lalu melemah. Dia berhenti di dekat pagar luar, membelakangi rumah yang baru saja ditinggalkannya.
Dan di sana, di tempat yang tak terlihat dari dalam rumah, napasnya pecah.
Tidak ada orang yang menonton. Tidak ada kakak yang bisa melihat. Tidak ada suara Naoya yang memanggilnya kembali. Namun justru karena itulah air mata yang ia tahan sejak pagi jatuh satu per satu, lebih panas dari yang ia duga.
Mio menutup mulutnya dengan punggung tangan, menunduk, lalu tertawa kecil—tertawa yang lebih mirip sesak daripada lucu.
Ia mengira jalan-jalan dengannya, menghabiskan waktu berdua, dan membuat Naoya selalu punya alasan untuk memperhatikannya akan cukup. Ia mengira selama kakaknya tetap berada dalam jangkauan, maka semua yang lain bisa ditolak begitu saja.
Ternyata tidak.
Karena pagi ini rumah mereka tidak lagi terasa hanya milik berdua.
Ada orang lain di dalamnya.
Ada orang lain yang masuk lewat pintu yang seharusnya tidak terbuka untuk siapa pun.