Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #39

Tangisan yang Tak Terdengar

Bau bawang tumis dan kecap manis menyebar pelan di dapur rumah tua itu, bercampur dengan dinginnya angin malam yang menyelinap dari celah jendela. Lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya kuning lembut ke meja makan yang sudah disiapkan Mio dengan rapi, seolah rumah itu benar-benar sedang menjalani malam biasa yang damai.

 Padahal tidak ada satu pun malam di rumah itu yang benar-benar biasa lagi.

 Naoya berdiri di dekat kompor sambil menyisir rambutnya yang mulai jatuh ke dahi. Dari balik kacamatanya, matanya tampak letih, seperti orang yang baru selesai memikul sesuatu terlalu lama lalu tetap dipaksa berdiri tegak. Di atas meja, ada dua piring besar berisi lauk sederhana—ikan panggang, telur dadar, sayur rebus—dan satu porsi yang sengaja dipisahkan ke dalam wadah kecil dengan tutup bening.

 Porsi itu untuk Nagisa.

 Mio memerhatikannya dari samping sambil menggenggam spatula dengan kedua tangan. “Aku sudah bawa makanannya ke atas,” katanya ringan, seolah-olah itu hal yang paling biasa di dunia. “Nagisa-chan bilang dia belum lapar banget, jadi dia makan di kamar saja.”

 Naoya mengangguk pelan. “Iya... makasih.”

 Suaranya tidak kosong, tetapi juga tidak hangat. Hanya suara yang terdengar seperti orang yang sedang menghemat tenaga bahkan untuk hal paling sederhana.

 Mio tersenyum lebih lebar. Senyum yang dulu selalu langsung membuat Naoya luluh tanpa sadar, senyum yang ia siapkan dengan teliti setiap kali ingin mengembalikan perhatian kakaknya kepadanya. “Kalau begitu, aku juga ikut bawa ke atas nanti. Biar Kakak nggak capek bolak-balik.”

 Naoya menoleh sebentar. “Nggak apa-apa, Mio. Kamu juga capek habis sekolah.”

 “Aku nggak capek.” Mio mengerucutkan bibir, lalu memiringkan kepala dengan manja. “Aku kan adik yang paling hebat. Aku masih bisa bantu Kak Naoya.”

 Kalimat itu keluar ringan, seperti candaan kecil yang tidak berbahaya. Pada awal mereka tinggal di rumah itu, Naoya pasti sudah tertawa kecil dan mengacak rambutnya sebagai balasan.

 Tapi malam ini, yang muncul hanya jeda singkat.

 Naoya menatap Mio, lalu kembali ke panci yang masih menyala kecil. “Kalau kamu memang ingin bantu, ambil piring yang satu lagi itu.”

 Mio bergegas melakukannya, masih dengan senyum yang sama, namun ujung jarinya mencengkeram pegangan piring sedikit lebih keras daripada perlu. Ia menaruh semuanya ke nampan, lalu naik ke lantai atas bersama Naoya.

 Di lorong sempit menuju kamar, terdengar suara pintu digeser pelan dari ruangan paling ujung. Nagisa keluar setengah langkah, rambutnya masih agak basah, dan wajahnya terlihat segar karena baru mandi. Ia mengenakan kaus longgar yang entah milik siapa—kemungkinan besar Naoya—sehingga tubuhnya tampak tenggelam di balik kain yang terlalu besar.

 Mio langsung mengamati perubahan kecil di wajah itu. Cara Nagisa berdiri di pintu, cara matanya mencari Naoya sejenak sebelum turun ke nampan makanan, cara bibirnya bergerak kecil seperti hendak bicara tetapi memilih diam.

 “Sudah siap makan?” tanya Mio.

 Nagisa mengangguk kecil. “Iya. Terima kasih.”

 Naoya sudah lebih dulu mendorong pintu kamarnya dengan pinggul. “Taruh di meja saja, Mio. Nanti aku bawa ke bawah.”

“Eh?” Mio menatapnya sebentar.

 “Biar Nagisa makan di kamar dulu.” Naoya bicara tenang, seperti tidak ada hal istimewa dalam kalimat itu. “Dia bilang lebih nyaman begitu.”

 Nagisa menundukkan wajah. Tidak ada protes. Tidak ada alasan. Hanya sesuatu yang tampak sangat hati-hati dalam caranya tidak merepotkan siapa pun.

 Mio menahan senyumannya. Senyum itu tetap bertahan di wajahnya, tapi di dalam dada ada sesuatu yang meremas pelan, seperti kain basah yang dipelintir terlalu kuat.

 Ia menaruh nampan di meja kamar Naoya, lalu menatap sekeliling ruangan yang kini juga menjadi kamar tidur Nagisa. Ada tumpukan buku di sudut, charger di dekat stop kontak, satu selimut lipat tambahan, dan gelas air yang entah sejak kapan selalu tersedia di samping ranjang. Sejak kapan kamar Naoya tidak lagi hanya milik Naoya.

 “Kalau begitu aku turun dulu,” kata Mio.

 Naoya sedang membuka tutup wadah makan. “Mau ikut makan di bawah?”

 “Sebentar lagi.” Mio memiringkan kepala lagi, kali ini lebih manis daripada sebelumnya. “Aku mau lihat Nagisa makan dulu.”

 Nagisa mengambil wadah kecil itu dengan dua tangan. “Aku bisa sendiri.”

 “Tapi aku ingin lihat.” Mio mendekat satu langkah, lalu menatap Naoya dengan mata yang dibuat sedikit berbinar, seperti dulu. “Kak Naoya juga, nanti harus makan semuanya ya. Jangan cuma ngerjain buku terus.”

 Naoya mendengus pelan. Hampir seperti tawa, tapi tak jadi benar-benar tumpah. “Aku makan nanti.”

 Mio menunggu respon yang lebih hangat. Sebuah gumaman, sentuhan di kepala, atau mungkin omelan kecil seperti biasa. Namun Naoya hanya kembali mengatur sumpit di tangan, lalu menanyakan dengan suara rendah, “Kamu sendiri udah makan?”

 Mio mengangguk cepat. “Sudah.”

 “Beneran?”

 “Beneran.”

 Naoya menatapnya sebentar, seperti orang yang tidak benar-benar ingin mengejar jawaban lebih jauh. Lalu ia kembali ke makanannya. Gerakan itu membuat dada Mio terasa lebih sesak daripada penolakan terang-terangan.

 Ia masih mencoba. “Kalau Kak Naoya mau, nanti habis ini aku bisa bantu cuci piring juga. Atau kita bisa nonton sesuatu. Yang lucu-lucu aja, supaya Nagisa-san juga nggak kepikiran hal yang aneh-aneh.”

 Nagisa yang sudah duduk di pinggir ranjang berhenti sejenak, lalu menunduk lebih dalam pada makanannya. “Maaf.”

 “Bukan kamu yang salah,” kata Mio cepat, terlalu cepat.

 Naoya menatap ke arah Nagisa, lalu ke Mio, lalu kembali ke piringnya. “Makan aja dulu.”

 Mio menyadari lagi—kalimat itu bukan dingin, bukan marah. Justru lebih melelahkan dari itu. Seperti seseorang yang mulai tidak punya sisa tenaga untuk menolak, tetapi juga tidak lagi mampu memberi perhatian penuh pada apa yang dipaksakan di depannya.

 Mio tetap tersenyum. Senyum yang ia pakai seperti perban di atas luka yang belum tertutup.

 Beberapa menit berlalu dalam bunyi sendok yang menyentuh wadah plastik dan gerakan pintu berulang dari atas ke bawah. Mio membantu Naoya merapikan meja, lalu tanpa diminta membawakan gelas air. Ia duduk di dekat ujung meja, sengaja menempel sedikit, dan mulai kembali berbicara tentang hal-hal kecil yang biasanya akan membuat Naoya tertawa.

Lihat selengkapnya