Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #40

Sedikit Lebih Lama

Malam itu turun pelan, seperti kain gelap yang disampirkan seseorang ke atas jendela rumah tua mereka. Dari dapur masih tercium sisa aroma sup hangat dan bawang yang ditumis terlalu lama. Lampu lorong dibuat redup, sehingga dinding kayu yang sudah memudar tampak lebih lembut daripada biasanya.

 Di kamar Naoya, Nagisa duduk di tepi ranjang sambil memeluk lutut. Seharusnya ia hanya ingin menunggu sampai air minumnya habis, lalu kembali berbaring. Namun beberapa malam terakhir selalu berakhir sama: ia justru menatap punggung Naoya yang masih berkutat dengan buku atau laptop, lalu perlahan-lahan mendekat tanpa benar-benar memutuskan apa-apa.

 “Naoya-kun,” panggilnya pelan.

 Naoya yang sedang merapikan tumpukan kertas di meja menoleh sekilas. Wajahnya lelah.

“Hm?”

 Nagisa memainkan ujung lengan kaus yang dipakainya. Kaus itu jelas bukan miliknya; terlalu longgar di bahu, terlalu hangat di bagian dada. “Kalau kamu belum selesai, aku tunggu aja.”

 Naoya menghembuskan napas pendek. “Kamu nggak harus nunggu.”

 “Aku tahu.” Nagisa menunduk, lalu berkata lagi dengan suara yang makin kecil, “Tapi aku pengen.”

 Kalimat itu jatuh di ruangan sempit seperti sesuatu yang ringan namun sulit diabaikan. Naoya diam sejenak. Lalu, seperti orang yang sudah terlalu sering kalah oleh kelelahan, ia menutup buku di tangannya. 

“Cuma sebentar,” katanya.

 Nagisa mengangguk cepat, seperti seseorang yang takut kalau ia mengangguk terlalu lambat, izin itu akan ditarik kembali.

 Naoya mendekat dan duduk di sisi ranjang. Di luar, suara mesin mobil sesekali lewat di jalan depan rumah. Di dalam kamar, yang terdengar cuma bunyi kain bergesek saat Nagisa menyandar, perlahan, hati-hati, sampai kepalanya jatuh ke pundak Naoya.

 Bukan lagi gerakan terburu-buru seperti malam-malam pertama mereka di rumah ini. Tidak ada getaran panik di sini. Tidak ada ketakutan yang harus disembunyikan di balik pelukan. Yang ada hanya kebiasaan baru yang tumbuh pelan-pelan, lalu diam-diam mengambil tempat.

 Naoya menegang selama satu detik. Lalu bahunya turun sedikit.

 Nagisa menggerakkan tangan, mencari lengan Naoya, lalu merapat seperti sudah hafal di mana letak tubuh itu harus bersandar agar terasa paling tenang. Nafasnya hangat melewati kain kaus Naoya. Matanya terpejam sebelum ia benar-benar menyadari sudah tidur.

 Naoya menatap langit-langit.

 Sudah beberapa malam ini semuanya terasa seperti itu. Nagisa tidak lagi memeluknya karena takut ditinggal sendirian di rumah yang asing. Ia memeluknya karena itu menenangkan. Karena setelah seharian penuh dengan wajah orang lain, suara orang lain, tuntutan orang lain, tubuh Naoya menjadi tempat yang paling mudah dikenali.

 Dan Naoya, meski tahu itu, tidak benar-benar mengusirnya.

 Ia mencoba. Kadang ia berkata, “Jangan terlalu dekat, nanti aku nggak bisa gerak.” Kadang ia menepuk pelan bahu Nagisa, seolah hendak memindahkannya sedikit agar tubuhnya tetap punya ruang. Kadang ia mengingatkan, “Kalau kamu sudah ngantuk, tidur aja di sisi sana.”

 Tetapi setiap kali Nagisa mengangguk dengan patuh—terlalu patuh, terlalu mudah menuruti—Naoya justru yang menyerah lebih dulu. Karena saat Nagisa memejam, napasnya melandai, dan jari-jarinya yang tadi sempat kaku perlahan melunak di lengan Naoya, ada sesuatu di dalam diri Naoya yang berhenti melawan.

 Bukan karena ia tidak sadar.

 Justru karena ia sadar.

 Ia tahu ini telah menjadi kebiasaan. Tahu ini melelahkan. Tahu ini perlahan merapikan ulang batas-batas yang dulu ingin ia jaga. Tetapi ada kehangatan yang terlalu manusiawi untuk ditolak malam demi malam. Kehangatan yang datang bukan seperti api, melainkan seperti selimut yang dipasang pelan-pelan di pundak orang yang sudah kedinginan terlalu lama.

 Nagisa bergumam dalam tidur, nyaris tak terdengar. Jarinya mengencang sebentar di sisi pinggang Naoya, lalu mengendur lagi.

 Naoya menoleh ke bawah. Wajah Nagisa terlihat damai. Tidak ada air mata. Tidak ada tatapan rapuh yang biasanya mencari jawaban. Hanya seorang perempuan muda yang akhirnya bisa tidur tanpa harus menahan tubuhnya sendiri.

 “Bener-bener nggak mau lepas, ya,” gumam Naoya sangat pelan, lebih seperti bicara pada langit-langit daripada pada Nagisa.

 Nagisa tentu tidak menjawab.

 Naoya menggeser bantal di belakang punggungnya, lalu menatap ujung rambut Nagisa yang menyentuh kausnya. Ada rasa lelah yang merayap dari bahu sampai pergelangan tangannya. Kaku. Hangat. Terlalu lama diam. Tetapi ia tetap tidak bergerak.

 Karena jika ia bergerak, Nagisa akan terbangun.

Lihat selengkapnya