Malam itu, Naoya baru saja melemparkan setumpuk kertas hasil cetak ke atas meja saat pintu kamarnya terbuka tanpa ketukan.
Kertas-kertas itu berhamburan setengah melengkung, beberapa sudutnya terlipat karena sempat terjepit di jemari yang terlalu lama menahan lelah. Di layar laptop, dokumen penelitian akhirnya masih terbuka, tapi Naoya bahkan tidak sanggup memandangnya lebih lama. Kepalanya seperti diisi kapas basah. Setiap huruf yang ia baca barusan terasa makin menjauh dari makna, seakan semua kalimat yang ia susun selama berhari-hari hanya meninggalkan bekas garis-garis hitam tanpa suara.
Ia mengusap wajah dengan telapak tangan.
“Cukup.”
Suara itu hampir tidak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
Dari arah ranjang, terdengar gerakan pelan. Nagisa yang sedari tadi sudah berbaring miring menoleh ke arahnya dengan mata mengantuk. Selimut menutup separuh tubuhnya, rambutnya berantakan sedikit di bantal, dan ekspresinya—meski lelah—tetap hangat seperti biasa, seperti seseorang yang tak pernah benar-benar membiarkan kesunyian masuk terlalu jauh ke dalam dirinya.
“Udah selesai?” tanyanya lirih.
Naoya menatap tumpukan kertas di meja, lalu mengangguk sekilas.
“Kalau disebut selesai... Ya.”
Nagisa tersenyum kecil, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya. Tidak ada nada memaksa di sana, tidak ada tuntutan untuk menjelaskan apa pun. Hanya undangan yang begitu sederhana sampai membuat dada Naoya terasa sesak dengan cara yang aneh.
Ia berjalan ke ranjang, melepas kacamata, lalu menjatuhkan tubuhnya pelan-pelan ke atas kasur. Begitu punggungnya menyentuh permukaan kasur, udara kamar seolah ikut turun bersama tubuhnya. Selimut masih terasa hangat dari tubuh Nagisa. Naoya memejamkan mata sejenak, ingin menikmati detik-detik hening sebelum pikirannya kembali memaksanya bangun.
Belum sempat ia benar-benar menarik napas panjang—
Nagisa bergerak mendekat.
Lengan perempuan itu otomatis melingkari pinggangnya dari belakang, mendekapnya begitu akrab seolah itu adalah gerakan yang paling natural di dunia. Dagunya menempel ringan di pundak Naoya. Napasnya hangat, tenang, dan terlalu dekat.
Naoya membuka mata sedikit.
“...Nagisa?”
“Mm.” Suara itu kecil, nyaris seperti gumaman setengah tidur. “Jangan bergerak dulu.”
Naoya tidak bergerak.
Ia bisa merasakan jantungnya yang masih lelah berdetak pelan di bawah pelukan Nagisa. Pelukan itu bukan pelukan yang canggung. Bukan pelukan yang dibuat-buat. Justru karena itu, Naoya merasa aneh. Ada kehangatan lembut yang seharusnya menenangkan, tapi justru seperti menutup satu-satunya celah udara yang ia punya.
Tok.
Kali ini pintu terbuka lebih lebar.
Naoya belum sempat menoleh ketika suara langkah kecil terdengar di lantai kayu.
“Mio?”
Gadis itu sudah masuk begitu saja, membawa gelas air di tangan kiri dan jaket tipis yang disampirkan di lengan. Ia menatap sekeliling sebentar, lalu melihat posisi Naoya yang baru saja rebah di antara selimut dan pelukan Nagisa.
“Ah.”
Tidak ada rasa heran dalam suaranya. Hanya nada yang seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang memang ia duga sejak awal.
Naoya hampir bertanya kenapa pintu tidak diketuk, tapi Mio sudah lebih dulu menaruh gelas air di meja samping tempat tidur. Lalu, tanpa banyak bicara, ia menaiki ranjang dari sisi seberang.
Nagisa tetap memeluk Naoya.
Mio memeluknya dari sisi lain.
Naoya terdiam.
Kini tubuhnya benar-benar berada di tengah.
Punggungnya masih menempel pada pelukan Nagisa, sementara dada dan bahunya dipenuhi tubuh kecil Mio yang merapat tanpa ragu. Lengan gadis itu melingkari dirinya dengan cara yang lebih kecil, lebih ringan, tapi justru lebih gelisah. Seakan jika ia tidak menahan sekuat mungkin, sesuatu yang sangat berharga akan terlepas dari genggamannya.
Naoya bisa merasakan kepala Mio menunduk, lalu perlahan menempel di punggungnya.
“Sudah malam,” gumam Mio.