Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #43

Tempat Sampah

Hari itu langit Tokyo tampak terlalu bersih, seolah awan sengaja disingkirkan agar gedung-gedung kaca di pusat kota bisa memantulkan dirinya sendiri tanpa gangguan.

 Nagisa berdiri di samping Naoya di trotoar depan gedung pencakar langit milik keluarga Kobayashi itu dengan tangan yang sedikit dingin meski udara belum sepenuhnya kejam. Di bawah sinar siang yang memantul dari dinding-dinding logam dan kaca, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, tetapi tidak lagi seputus asa beberapa hari lalu. Ada sesuatu yang mulai kembali rapat di balik tatapan itu. Masih rapuh, masih mudah goyah, namun sudah tidak sepenuhnya tercerai.

 Naoya membuka pintu mobil, lalu menatapnya sebentar.

 “Kalau kamu merasa nggak enak, kita bisa pulang,” katanya.

 Nagisa menggeleng pelan. “Nggak. Aku cuma mau cepat selesai.”

 Naoya tidak memaksa. Ia hanya mengangguk dan mengangkat tangan sedikit, gerakan kecil yang lebih mirip menguatkan daripada menyuruh. Belakangan ini ia memang sering begitu: tidak banyak bicara, tidak mendesak, hanya berdiri di dekat Nagisa seperti sesuatu yang tidak akan pergi selama belum diminta.

 Nagisa menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke lobi.

 Ruang lobi gedung itu dingin dan terlalu luas untuk disebut ramah. Marmer putih di lantai memantulkan cahaya lampu gantung yang dinginnya hampir sama dengan udara dari pendingin ruangan. Di sisi kanan, sofa-sofa kulit tertata rapi dengan jarak yang sengaja dibuat memberi kesan mahal. Beberapa orang berseragam mengangguk pada Nagisa begitu ia masuk, dan salah satunya segera menghampiri mereka setelah melihat nama yang tertera pada daftar kunjungan.

 Naoya hanya diantar sampai meja resepsionis.

 “Mohon tunggu di ruang tunggu,” kata petugas itu dengan sopan.

 Naoya melirik Nagisa singkat. “Aku tunggu di sini.”

 Nagisa mengangguk. 

Seharusnya, kata itu sudah cukup. Tapi langkahnya tetap terasa berat saat ia berjalan ke arah elevator yang akan membawanya ke lantai teratas.

 Begitu pintu elevator tertutup, suara dunia luar lenyap. Yang tersisa hanya pantulan dirinya sendiri pada dinding logam mengilap itu. Nagisa menatap bayangannya sebentar. Rambutnya rapi, pakaiannya sederhana namun pantas. Tidak ada yang secara langsung menunjukkan bahwa beberapa waktu lalu ia pernah hancur di dalam rumah mewah lain yang bahkan bau parfumnya masih kadang teringat di hidungnya.

 Pintu elevator terbuka dengan bunyi halus.

 Lantai teratas jauh lebih sunyi daripada lobi. Karpet tebal meredam langkah, dan udara terasa lebih wangi, lebih mahal, seolah tempat itu sengaja didesain agar orang-orang yang masuk melupakan bahwa mereka sedang berada di sebuah perusahaan, bukan istana.

 Nagisa menelan ludah. Ia berjalan perlahan ke meja resepsionis lantai itu, lalu membungkuk sedikit.

 “Aku ingin menemui ayahku.”

 Perempuan resepsionis yang duduk di sana hanya mengangguk ringan. Ia menerima nama Nagisa dengan wajah tanpa ekspresi berlebihan, lalu mengangkat telepon internal dan menyebutkan beberapa kalimat yang terlalu pendek untuk dipahami. Sesekali matanya beralih ke Nagisa, seolah menilai apakah gadis itu layak dibawa naik atau tidak.

 Nagisa berdiri diam.

 Beberapa detik kemudian, perempuan itu menutup telepon. Ia mengangguk sekali.

 “Silakan masuk.”

 Nagisa menghela napas pelan.

 Pintu kantor pribadi Akihiko Kobayashi terbuka tanpa banyak suara, dan begitu ia melangkah masuk, dunia terasa seperti berubah bentuk.

 Kamar kerja itu sangat luas, dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan Tokyo dari ketinggian. Di salah satu sisi, rak buku tertata lebih sebagai pajangan daripada kebutuhan. Di tengah ruangan, meja besar dari kayu gelap mengilap, dan di belakangnya duduk seorang pria yang tampak terlalu nyaman berada di tempat itu.

 Akihiko Kobayashi.

 Pria itu mengenakan setelan yang sempurna, tubuhnya tegap, wajahnya bersih, senyum yang ia pakai terlalu ringan untuk orang yang seharusnya menaruh rasa hormat pada orang lain. Di meja sampingnya, sebuah cangkir kopi masih mengepulkan uap tipis. Di dekat jendela, Hana—sekretaris pribadinya—duduk dengan postur tenang, tangan dekat keyboard laptop, seolah ruangan ini pada dasarnya adalah perpanjangan tubuh dari orang yang duduk di kursi utama.

 Begitu melihat Nagisa, Akihiko mengangkat kedua tangan dan bertepuk tangan perlahan.

 “Ah,” katanya, nada suaranya seperti seseorang yang baru menerima kemenangan yang sudah lama ditunggu. “Akhirnya kamu menyerah juga.”

 Nagisa berhenti di depan meja.

 Akihiko menyandarkan punggungnya sambil tersenyum lebih lebar. “Jadi, kamu datang untuk menerima perjodohan yang sudah aku siapkan.”

 Nagisa tidak langsung duduk. Ia hanya memandangi pria itu, dan untuk sesaat, sebuah rasa asing naik dari perutnya. Bukan takut semata. Lebih buruk dari itu. Rasa muak yang punya sejarah.

 Akihiko menunjuk ke kursi di seberang meja. “Duduklah. Aku tak ingin mendengar drama kalau-kalau kamu capek berdiri.”

 Nagisa akhirnya duduk.

 Tangan di pangkuannya sedikit gemetar, tetapi ia memaksa keduanya saling bertaut agar tidak terlihat. Ia mengingat Naoya yang menunggunya di bawah. Mengingat ruang tunggu lobi yang dingin. Mengingat cara Naoya menatapnya tadi—tidak menekan, tidak menuntut, hanya menunggu. Kontras itu begitu kuat sampai membuat dadanya terasa sesak.

 Akihiko tampak senang melihat diamnya itu.

 “Anak-anak CEO yang kukenalkan padamu,” katanya ringan, “semuanya sudah dalam tahap yang bagus. Kamu tahu sendiri, keluarga mereka cocok. Nama baik, aset, koneksi. Kamu tidak akan kekurangan apa pun. Dan aku tidak perlu lagi malu punya putri yang terus berganti-ganti lelaki.”

 Nagisa mengangkat kepala. “Aku masih menolak.”

Lihat selengkapnya