Angel Who Forgot

Diva Amane
Chapter #44

Rasa Lelah

Malam itu, rumah yang mereka tempati terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.

Bukan sunyi yang kosong. Sunyi yang justru penuh dengan napas orang-orang yang lelah, langkah yang sengaja diperlambat, dan benda-benda kecil yang diletakkan dengan terlalu hati-hati agar tidak menambah beban siapa pun. Lampu di ruang depan menyala redup. Dari dapur masih tercium sisa aroma kaldu yang belum sepenuhnya hilang, bercampur samar dengan bau sabun dan kain yang baru dijemur di dalam.

 Nagisa baru saja pulang dari kantor ayahnya.

 Ia tidak langsung masuk kamar. Begitu melepas sepatu di genkan, ia hanya berdiri sebentar, memandangi lantai kayu seolah sedang memastikan bahwa langkah-langkahnya sendiri masih milik dirinya. Lalu tanpa banyak bicara, ia berjalan ke kamar mandi.

 Pintu kamar mandi ditutup pelan. Beberapa saat kemudian terdengar air mengalir.

 Naoya yang sedang duduk di kursi belajarnya mendengar itu dari balik pintu kamar tengah. Ia tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada layar laptop di depannya, pada dokumen penelitian yang sudah ia buka sejak senja, lalu ia perbaiki sedikit demi sedikit dengan ketelitian yang mulai melelahkan. Profesor pembimbingnya baru mengirim catatan tambahan sore tadi, dan Naoya sejak itu belum sempat benar-benar mengangkat kepala. Jarinya terus mengetik, berhenti, lalu mengetik lagi. Kadang ia menutup mata sebentar, menekan pelipis dengan ujung jari, dan baru kemudian mengembuskan napas panjang sebelum kembali ke halaman yang sama.

 Kalimat-kalimat di layar tampak rapi, tapi pikirannya tidak.

 Ia sudah terbiasa begini belakangan ini. Fokusnya tidak pernah benar-benar utuh. Ada rasa lelah yang seperti mendiam di belakang mata, tidak cukup besar untuk membuatnya roboh, tapi cukup untuk mengurangi ketajaman segalanya. Semakin malam, huruf-huruf di layar seakan bergeser bentuk. Namun ia tetap mengetik karena kalau berhenti terlalu lama, pikirannya akan mulai mengembara ke arah yang ia takuti.

 Ke panggilan ibunya.

 Ke wajah ayah Nagisa yang terlalu tenang siang tadi.

 Ke kemungkinan-kemungkinan yang tidak menyenangkan.

 Pintu kamar mandi terbuka tanpa suara besar.

 Naoya masih menatap laptop ketika Nagisa masuk. Rambutnya masih dibungkus handuk, ujung lehernya sedikit basah, dan kulit wajahnya tampak lebih cerah setelah mandi. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan mendekat lalu duduk begitu saja di pangkuan Naoya.

 Gerakan itu begitu natural sampai Naoya baru tersadar beberapa detik kemudian. Tubuhnya refleks tegak, tangan yang memegang mouse sempat berhenti di udara.

 “Eh—Nagisa?”

 Nagisa menunduk sedikit, wajahnya dekat. “Ngapain?”

 “Aku lagi beresin catatan penelitian.”

 “Oh.”

 Ia mengucapkannya datar, lalu menatap layar laptop dengan mata yang masih terlihat lelah. Naoya merasakan bobot tubuhnya yang hangat menempel di atas pahanya, lalu perlahan ia menyesuaikan posisi agar Nagisa tidak merasa harus menahan diri. Tangan kanannya kembali ke papan ketik. Tangan kiri, tanpa ia sadari, justru sempat menahan pinggang Nagisa sebentar, seperti memastikan gadis itu tidak akan jatuh.

 Baru setelah itu ingatan siang tadi kembali menabraknya.

 Wajah lelaki itu.

 Nada bicara yang terlalu datar.

 Kata-kata yang membuat Nagisa keluar dari kantor itu seperti seseorang yang sedang mencoba tidak muntah di depan umum.

 Naoya mendongak sedikit. “Kamu… baik-baik aja?”

 Nagisa tidak langsung menjawab.

 Sebagai gantinya, ia mengangkat kedua lengannya dan melingkarkannya di tubuh Naoya dari samping. Lalu ia menunduk, membenamkan wajahnya dalam-dalam ke leher lelaki itu.

 Naoya terdiam.

 Ia bisa merasakan napas Nagisa mengalir pelan di kulitnya, berat di awal lalu makin tenang. Seolah gadis itu sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan, mengingat-ingat aroma yang sudah tertanam di kepala sebagai penanda aman. Bagi Naoya, yang terasa justru sebaliknya: aroma shampoo baru yang menempel di rambut Nagisa barusan, bersih dan agak manis, membaur dengan suhu tubuhnya yang hangat. Kombinasi itu membuat dadanya mengendur tanpa izin.

 Tak ada jawaban untuk pertanyaannya tadi. Namun pelukan itu sendiri sudah cukup menjawab bahwa Nagisa belum benar-benar pulih.

 Naoya menelan ludah, lalu dengan gerakan kecil membiarkan telapak tangannya menyentuh punggung Nagisa. Ia mengusapnya pelan, tidak terburu-buru, tidak terlalu erat.

 Nagisa menghela napas jauh lebih panjang dari sebelumnya.

 Setelah beberapa saat, ia melonggarkan pelukannya dan mengangkat kepala. Matanya kemudian turun ke layar laptop di depan Naoya, ke dokumen yang masih terbuka.

 “Ini buat tugas akhir?”

 “Bukan. Ini catatan penelitianku. Profesor minta direvisi.”

 Nagisa memandang layar itu sejenak, lalu tanpa peringatan menyeletuk, “Kalau gitu bantu aku juga.”

 Naoya memandangnya sebentar. “Hah?”

 Nagisa mengerjap, wajahnya masih agak dekat. “Penelitianku. Kamu bantu selesain juga.”

 “Kenapa aku?”

 Nagisa menatapnya, kali ini jauh lebih langsung. “Karena kamu pacarku.”

Lihat selengkapnya